29/03/21

Yang aku pikir


Renungan pendek : Latah.
Indonesia itu serba multi. Mulai dari warna kulit penduduknya sampai pada keanehan masyarakatnya.
Teringat saat Stunami memporak poranda Aceh, disusul beberapa gempa dahsyat yang merobohkan rumah dan fasiltas umum di berbagai daerah.
Ketika itu hampir semua orang, kalangan tani dan nelayan, pedagang dan pembeli, birokrat dan rakyat jelata, para pakar dan awam, rohaniawan dan umat, tiba-tiba jadi ahli stunami, jadi pakar gempa. Yang lebih parah ialah, penyataan-penyataan kaum ahli agama dari mimbar dan podium-podium yang merasa lebih tahu dari pakar stunami dan gempa yang bertahun-tahun menuntut ilmu sampai keluar negeri. Belum lagi pengutipan ayat-ayat suci untuk meyakinkan umat bahwa kaum agamawan itu lebih tahu, lebih paham, lebih mengerti dan lebih ahli dari pakar yang bergelar profesor pun.
Sekarang, saat virus corona (Covid 19) merebak dan menjalar keseantaro negeri seberang dan masuk Indonesia, yang paling banyak komentarnya, paling seru analisanya bahkan memberi solusi penangkal menghadapi Covid 19 itu adalah mereka yang kita sebut sebagai rohaniawan, agamawan. Jumlah kaum yang tiba-tiba pakar ini, tiba-tiba ahli ini, tak terbilang. Mereka ada dimana-mana, di kampung, desa, kota bahkan megapolitan Jakarta pun disesaki olah kaum tiba-tiba pakar ini, tiba-tiba ahli ini.
Pendapat mereka, opininya, tersuar dari berbagai mimbar, podium bahkan muncul di layar - layar Televisi.
Suaranya, teriakannya, dengungannya mengalahkan kaum pakar, kaum ahli, yang sungguh pakar dan benar ahli.
Akibatnya, terjadi kebingungan, chaos pikir, dan heboh di tengah kalayak.
Agaknya, Indonesia bukan hanya multi etnis, tradisi, bahasa dan agama, tetapi juga multi pendapat pada cara mengobati, menangkal virus Copid 19 akibat kehadiran kaum latah ini.
Berharap anda semua tidak latah mengikuti pendapat, opini kaum latah yang tiba-tiba jadi pakar apa saja, tiba-tiba jadi ahli apa saja.
Salam dan doa Rahayu.
Romo RoWiMa - Pemerhati kebudayaan dan praktisi.


Dialog pagi.
"Mo, Romo.." seorang ibu memanggil saya dari samping disela-sela diskusi reproduksi dan kesehatan.
"ya bu?"
"Romo kan rajin baca buku. Tahu soal implan kan?"
"tahu dikit" jawabku, heran atas pertanyaannya. Belum pernah ada umat atau kawan-kawanku yang bertanya begitu.
"Apa pendapat Romo soal implan?"
"Maksud ibu?"
"Banyak teman arisan masang implan di bagian tertentu tubuh mereka Mo"
"Oh ya? trus.."
"Aku tanya pendapat Romo" tandasnya sambil menatap.
"Hm..gimana ya bu..banyak orang melakukan operasi plastik dan pasang implan pasti punya tujuan bukan?"
"Iya Mo. Teman-teman aku itu, beralasan supaya terlihat seksi dan modis"
"Yah jaman sekarang penampilan luar lagi trendi ya bu. Kalau boleh tahu, bagian tubuh mana saja yang dioperasi teman-teman ibu?"
"Ealahh...Romo malah nanya kek gitu" Ibu ini tersenyum simpul membalas tatapanku.
"Ada di bokong, dada, dan sekitar wajah Romo"
"Wouw...menarik tuhh"
"Iya Mo hihihihi. Jadi apa pendapat Romo?"
"Itu hak setiap orang ya bu. Dan nggak ada larangan untuk itu. Pasang Implan atau operasi plastik hal yang biasa di masa modern ini. Komentar saya tentang operasi plastik dan pemasangan implan ialah Dingin dan kaku"
"Maksud Romo?" cecar si ibu mrnatap tajam kearahku.
"Yaa ibu pikir saja...bokong jadi semok tapi dingin, buah dada jadi besar tapi dingin, wajah mulus dan cantik juga dingin dan kaku...karena darah yang hangat tidak bisa mengalir kesana bukan?"
"Iya sih"
"Nach, mengapa ibu bertanya tentang ini?"
"Anu mooo...." tapi ibu ini tak melanjutkan kalimatnya karena seseorang datang menghampiri dan menyodorkan absensi acara seminar itu dan tiba giliranku untuk bicara sebagai narasumber.
"Mooo kita sambung kapan-kapan ya.."
Aku hanya mengangguk sambil berjalan ke podium.
Selamat pagi sobat-sobat semua.
Salam dan doa Rahayu.

Siapakah yang paling rugi saat seseorang berbohong?
Sudah pasti diri sendiri dan berbahaya pada orang lain.
Sayang bahwa kebohongan, dusta, sering dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya jadi contoh.
Dipanggung teater aktor/artis memerankan orang lain, setidak-tidaknya meniru orang lain atau tokoh dalam naskah melalui arahan sutradara. Itu panggung sandiwara!
Tetapi sungguh berbahaya orang yang memerankan kebohongan dalam dunia nyata. Sebab disamping merugikan diri sendiri, ia membahayakan banyak orang termasuk mengancam keberlangsungan harmoni alam dan manusia.
Anda tidak percaya?
Silahkan teliti, simak, kasus-kasus Korupsi, penyelewengan jabatan, penyalah gunaan wewenang, pembelokan status sebagai figur publik, manipulasi data, menyampaikan kabar dan pemutar balikan fakta, menutupi yang benar, dst.
Hiksss.

Surga dan Neraka? Apa itu!
Surga atau neraka, tak penting selagi aku hidup
Hidupku di sini, di bumi, di dunia
Selagi hidup tak mau surga atau neraka merebutnya terlebih hidup demi surga apa lagi demi neraka
Aku, kau dan bumi ialah kehidupan
Hutan, rawa, lembah, sungai, gunung, desa dan kota ialah realitas.
Tapi surga?
Neraka?
Nanti saat mati.
Siapa mau menukar hidup dengan surga, tak ada. Apalagi neraka.
Sekalipun seorang kiyai, ustad, pendeta atau pastor.
Hidup adalah cinta
Hidup ialah kasih
Dan cinta kasih ada pada hidup
Siapa mencinta surga, silahkan duluan kesana.
Aku di sini saja nikmati hidup
Menikmati cinta
Merasakan kasih
Apa lagi neraka
Jika kelak aku mati, tak peduli apa itu surga apa itu neraka, yang utama saat ini adalah membagi hidup, membagi bahagia, membagi kegembiraan, mencintai, mengasihi
Siapa tak mau hidup, pergi kesurga atau pilih neraka.
Yang asyik saat ini, adalah bicara kehidupan, mempercakap cinta menajamkan kasih
Mengubah benci jadi cinta
Merubah dendam jadi kasih
Jangan dengar petuah tentang surga atau neraka, sebab si petuah tak pernah kesana
Usah peduli petutur surga atau neraka, karena ia tak mengerti apa surga dan apa neraka
Bukankah surga itu cinta kasih?
Bukankah neraka itu kebencian?
Ayo bercakap soal cinta, tentang kasih
itu penting dari sekedar bertengkar tentang surga dan neraka.
Siapa mengasihi sesama mencipta surga
Siapa menyayang sesama menghadirkan surga
Siapa mencinta sesama membawa surga
Tapi neraka adalah adu domba, benci, dengki dan dendam.
Ia merusak surga.
(Jakarta, akhir February 2020)
------------------------------------------

Sajaka Malam-malam sunyi.
Lampu lampu kehilangan cahaya meski menyala
Jalan, selasar, panggung, sepi.
Tak ada suara tawa, tiada perbantahan mutual, bahkan coretan perupa menghilang hanya sesekali terdengar puisi mengalun terbawa angin
Rumah yang dulu riuh, rame dan kreatif jadi kubur, hanya puing-puing tinggal bata-bata berserakan
Gelas, piring, garpu dan sendok tak lagi beradu, gerobak - gerobak beraroma sate, nasi goreng, cilok dan gorengan mengungsi entah kemana.
Duh kekasih, malang nian engkau
Bercumbu mesin penggilas sejarah pemamah narasi - narasi pengulum naratif panggung
Aduh sungguh buruk perjalananmu kekasih gagah tegak tak nampak kecantikan luntur terburai hanyut terbawa arus revitalisasi
teringat Umar Kayam ketika menulis Kunang-kunang di Manhattan tapi engkau lebih sunyi dari itu, bukan sunyi di keramaian tapi engkau sunyi itu.
Dan sesunyi itu berarti mati
Aku tak mau mengirim krans kembang terlebih keranda sebab berarti aku pun mati
Mau aku menumpuk bata-bata berserakan dan menyusun puing yang terserak lalu sekali lagi meminta agar mesin-mesin penggilas zaman itu meruntuhkan tumpukan dan susunan tersisa
Agar semua tahu, sunyi adalah kehidupan
Di sini engkau kekasih di hati, di otak, di kaki, di tangan. Di situ Taman kami ada selamanya.
(TIM, Medio February 2020)

RWM.BOONG BETHONY

Cerita Pendekku

Cerpen I.: Anak-anak
"Anak-anak pada ribut di bawah sana romo..mengganggu diskusi kita" Keluh seorang teman melihat keriuhan di sana.
Lalu saya jawab "Namanya saja anak-anak, ya pasti ribut, kan mereka asyik dengan dunia sendiri"
"Maksud Romo?"
"Emang kamu nggak pernah jadi anak-anak?"
"Lha ya....hehehehehe.."
"Yang mesti kamu herani itu, kalau orang tua kek kamu ini masih suka ribut - ribut seperti anak-anak itu"
"hehehehe....iya romo"
(Medio April'20)
Cerpen II : Modal berharga.
"Mo, Romo! Boleh nanya?" celetuk seorang teman, saat kami sedang duduk-duduk di warung kopi Upnormal Cikini beberapa waktu lalu di awal tahun 2020.
"Boleh sobat! Apa objek tanyamu?"
"Ini agak serius Mo!"
"Sobat...semua hal serius kok. Termasuk ketika kita sedang membanyol dan konyol" sahutku sambil tersenyum.
Sahabat itu hanya menelan ludah mendengar jawabku.
"Iya Mo, paham. Apa sih modal utama kita sebagai manusia Mo? Agar hubungan menjadi baik pada semua orang"
"Hm...pertanyaanmu di luar dugaanku sobat" sahutku sambil mengelus dagu yang ditumbuhi satu, dua jenggo itu.
Ia menggeser kursi agar langsung berhadapan denganku diantarai meja panjang.
Aku menatap wajahnya, cari tahu, seserius apa ia bertanya.
"Rendah hati sobat! Itu modal utama dan pertama" sambungku masih menatap wajah sobatku itu.
"Maksudmu Mo?"
"Rendah hati adalah sikap dan karakter yang menganggap orang lain lebih penting, lebih utama, lebih baik dari diri sendiri!"
"Jelasin sederhana dong Mo" timpal sobatku.
"Hm...."
"Kok hm Romo?" potongnya penasaran.
"begini sobat, dalam bergaul dengan siapapun modal kita hanya kerendahan hati. Bukan uang, bukan jabatan, bukan harta. Bukan juga popularitas, apa lagi karena politik hahahahaha..." Aku menyambar cangkir kopi dari meja dan meneguknya.
"Romo, jelasin lagi dong. Misalnya, seperti apa karakter orang rendah hati itu?"
"Sobatku, mudah saja. Orang rendah hati itu siap direndahkan oleh orang lain.Itu karakter utamanya. Makanya, ia tidak mau membalas perlakuan buruk, ia justru melakukan hal baik pada orang yang membencinya. Kalau boleh saya berumpama, orang rendah hati itu biangnya kebaikan. Sampai di sini kau paham sobat?"
"jelaskan lagi, sekalian aku berguru tentang kerendahan hati pada
Romo
" pintanya lagi.
"Baiklah sobat jika kau butuh itu...." aku tersenyum padanya.
"Saya menganalogikan orang yang rendah hati itu seperti tanah yang kita pijak. Tanah ini menerima apapun yang kita berlakukan padanya. Tidak pernah menolak apalagi membalas kejahatan manusia padanya. Tanah justru terus menerus memberi kehidupan, menumbuhkan kehidupan. Itulah sifat kerendahan hati. Bukan kebetulan bahwa, aku dan anda, adalah bentuk lain dari tanah. Bukankah kita berasal dari tanah dan akan kembali kesana?"
"Iya Romo"
"Persoalannya adalah, apakah kita mau seperti itu? Aku, sobat dan orang lain tahu bahwa kerendahan hati itu penting dan utama. Bahkan agama-agama juga mengajarkan hal yang sama bahwa manusia utama adalah yang memiliki budi pekerti rendah hati. Sebab, orang yang rendah hati, akan menaruh hormat terutama pada TUHAN Sang Pencipta Alam Raya dan pemilik kehidupan kita. Sebaliknya, orang yang sombong tidak akan pernah menaruh hormat pada TUHAN"
"Aduh Romo, bimbing aku jadi rendah hati" wajahnya sendu dan matanya berlinang.
"Sobat, aku juga butuh pengajaran ini dan masih terus bergumul untuk melakukannya. Kita jalani bersama sobat!"
Selamat bermeditasi jelang Paskah'20
Salam dan doa Rahayu.
Cerpen III : Super Hero Versus Super Kadrun

Ketika pertama kali Presiden mengumumkan ada warga negaranya yang terpapar Covid 19, maka yang paling sibuk adalah para medis (dokter dan perawat/Mantri). Mereka sibuk mempersiapkan diri, sibuk mempelajari, sibuk membuat strategi mengenai : Perawatan, Pencegahan, dan bagaimana menjaga diri agar tidak tertular. Yah, mereka itu tenaga medis, para dokter, perawat/mantri dan pekerja di rumah sakit.
Mereka bekerja dalam diam, tapi tangan mereka cekatan, otaknya bekerja cerdas, pengerahan tenaga melebihi kapasitas mereka sendiri, siang malam mereka berada di garda terdepan NKRI untuk merawat, mengobati, mencegah dan memotong penularan Covid 19. Yang pada akhirnya oleh Presiden, dibentuklah Gugus Tugas Penanggulangan Bencana Covid 19 (Corona).
Pengorbanan Paramedis itu tak sanggup kita bayar dengan berapapun!
Sebaliknya di sisi lain negeri ini, ada sebagian orang teriak-teriak mengkritisi segala upaya yang dilakukan oleh paramedis itu, tak kurang pula dari mereka mencela bahkan menghujat pengorbanan paramedis dan kebijakan pemerintah untuk berjuang melawan Covid 19. Yah, mereka itu yang selama ini disebut banyak orang KAUM KADRUN (entah siapa yang pertama kali memakai istilah KADRUN untuk mereka yang suka nyinyir atas nama apa saja itu). Uniknya, orang-orang KADRUN ini ada disemua lapisan masyarakat Indonesia, ada di seluruh wilayah negeri, ada yang PNS, ada anggota Dewan, dengan latar belakang pendidikan yang berbeda dan latar belakang agama. Pekerjaannya, teriak-teriak, riuh dan selalu berkelompok. Teriak di media sosial, FB, IG, Twitter dan Youtube. Asal teriak, asal bunyi, asal ngomong, itu cirikhas orang-orang KADRUN ini.
Sebaliknya, Paramedis adalah Pasukan Khusus yang bekerja dalam senyap demi masyarakat termasuk demi para KADRUN itu.
Ketika artikel kecil ini saya tulis, Hampir 2000 Paramedis terpapar Virus Covid 19 dan ada 7 Komandan yang gugur di medan perang. Itu pun, masih ada para KADRUNS itu mengejek bahkan menghujat komandan-komandan yang gugur di medan perang melawan serbuan virus COVID 19.
Renungan sore dari Pojok Roti Bakar
Yang banyak versus yang sedikit
"Banyak orang kehilangan jiwa meski tubuhnya hidup dan sedikit yang jiwanya hidup meski tubuhnya rapuh"
"Dari mana Romo tahu?" protes teman diskusi disela-sela percakapan menulis beberapa naskah Drama.
"dan bagaimana membedakan yang banyak dan sedikit itu Mo?" sambungnya sambil menghisap kretek.
"Perhatikan saja sekelilingmu sobat"
"Maksud Romo?"
"Perhatikan sekitarmu! Yang hoby maki-maki, gemar menghujat, murah dengki dan iri, gampang berdusta, acap menipu, sering menfitnah, gampang mengambil hak orang lain. Nach mereka yang banyak itu! Sebaliknya, yang suka menolong, rendah hati, pemaaf, mementingkan orang lain, tidak sembarang bicara, berterus terang, spiritual dan bukan ritual, murah hati, mereka itulah yang sedikit"
"Wah sulit mendapat orang seperti itu Romo" protesnya lagi.
"Makanya hanya sedikit brooooo...."
Sahabat saya hanya mengangguk-angguk dan jemariku kembali menari-nari di atas tuts laptop.
Salam dan doa Rahayu.
Romo RoWiMa.

--------------------------------

RWM.BOONG BETHONY

Sajak Paska dan Sunyi

Sajak-sajak menjelang Paskah.



Sajak Pentahir
Reranting kamboja yang lama kerontang hijau berkembang, putih, kuning dan merah muda, di areal lima hektar itu banyak yang di tanam tapi tak pernah bertumbuh terlebih berbunga, mekar ngembang.
Bergantian yang menanam disitu, tak henti tak bosan, bahkan ketika tak berhasil, tak berbuah dan tak pernah dituai.
Begitulah suratan insan dalam bab buku-buku suci.
Tak berubah hingga tak ada lagi yang menanam, yang ditanam.
Kemaren, tak ada nyanyi, tak ada doa, tak ada siapa ketika areal sekitar kamboja menerima tanaman baru, hanya rinai tipis dan kebisuan si penggali kubur. Padahal tanaman itu si penyembuh, si pentahir, si penjamah. Ia layu oleh mereka yang disembuhkan, kuyu sebab yang ditahirkan, lunglai karena yang dijamah. Sejak itu, tak pernah jumpa kerabat bahkan ketika kemaren itu, ia pergi sendiri.
Air mata mengering, meratap dan lara. Menatap dari jauh dalam kotak kecil, tak ada sentuhan tak ada pesan, sesal dan duka tak kentara.
Hari ini, bunga kamboja luruh, mengering diatas seonggok tanah basah, nisan beton abu-abu tanpa ukiran menancap kokoh, entah siapa yang menanam, ditanam.
Simpang siur cerita tentang itu, di katakan dia orang jakarta, disebut pula ia orang depok, orang bekasi, orang tngerang katanya. Tak jelas dari mana.
Yang pasti, tanaman itu adalah penyembuh, pentahir, penjamah.
Dari gereja tua, aku berdoa untuk dokter dan perawat, mereka memberi hidup agar orang lain memiliki hidup.
(Pasar Minggu, medio April 2020)

Kebangkitan
Ketika sajak-sajak menjelma jadi sel-sel kehidupan, energi memuisi menebar kasih tiada akhir.
Dan hidup itu kau terima.
Tak ada sajak memuisi seperti itu.
Saat 'lockdown' itu terbuka, sajak mati memuisi gembira
Dan pintu terbuka abadi
Kuburan kosong tetap melompong
Kembang pun dupa serupa penjor, cinta rewarna
Tiada lagi sajak sesajak ini
Waktu bukan soal hanya kasih hanya cinta bukankah itu hidup?
Tak ada puisi seindah hidup
Tiada sajak selain hidup
(Pasar Minggu, Paskah'20)
Babad
Jalanan lengang lorong sepi gang sunyi, rumah-rumah tertutup rapat, hati tercekat. Kota yang biasa rame tiba-tiba mati, tak bergerak, hanya mematung, terdiam. Tinggal prajurit yang hilir mudik, meronda, menjaga, sambil membawa pentung entah untuk apa di kota sesunyi ini.
Tapi di ujung kampung Barabas sedang asyik menikmati domba panggang dan sebotol anggur merah. Ia tak perlu takut dalam situasi seperti ini, semua sudah tersedia. Api unggun, daging panggang, roti kering dan beberapa botol anggur.
"Mari bergembira kawan-kawan, toh aku pulih. Isolasi itu tak pernah mengubah diriku. Aku tetap Barabas yang tidak takut apapun"
Di istana, raja dan punggawa asyik berpesta, tari perut, tetabuhan, aneka hidangan. Tak perduli, mereka yang mendekam dirumah sambil menahan lapar dan takut.
"Wabah untuk rakyat, bukan untuk penghuni istana" teriak Herodes, wajah merah anggur sarat di ruang.
"Bukankah pembawa virus sudah di isolasi? Ia tidak akan menularkan lagi, ayo rayakan, pestakan, cherss" sambung herodes.
Malam tak pernah berubah, hanya waktu diam-diam bergulir, insan menggelisahi, kecemasan
Tapi virus bukan orang, ia selalu ada dalam pesta, hadir pada sunyi, menjalar sepi, mengisi kosong dan menembus kebisuan waktu. Persis kecemasan imam-imam di baitullah, lupa berdoa, ingkar keimaman, menyangkal panggilan dan hanya tahu melaknat, menghakimi, mengklaim pemilik surga.
Tiada sunyi absolut
Tiada sepi sesungguh
Jika TUHAN tidak bertahta dalam hati, dalam batin, dalam jiwa.
Malam itu dari ruang sunyi isolasi covid 19.
IA berdoa untuk Barabas, Herodes dan insan gelisah.
(awal April'20)
perjamuan
Daging bakar domba muda yang gurih dan kenyal terhidang di meja bundar, lidah-lidah api dari perapian menyebar warna merah saga berpadu rona anggur di wajah.
Ini jamuan cinta, jangan bersedih
Ini hidangan malam gurih dan lezat, jangan pilu
Bergembiralah
Mari bersenang-senang
Tuang anggurmu, kunyah daging domba bakar ini
Sebab esok bukan hari ini, biarlah cerita untuk itu berkisah lain
Tapi disini, dalam ruang ini, dalam hati, puaskan
Tak perlu sesal jangan gusar
Senangkan hati senyampang ada waktu
Bersuka rialah mumpung berkesempatan
Bergembiralah selagi malam
Karena tiba saat berdoa waktu hilang dan malam memendek, sesal pun tak berarti, gegabah selalu di belakang
Api masih menyala ketika anggur membakar hati, menghanguskan pikiran dan memperabukan jiwa.
"Ini daging domba paling empuk !" teriakmu nyalang berdiri menghunus pendang pendek.
"Jangankan ingkar, pedang ini menggoroku, aku rela" kau gebrak meja matamu nyalang. Marah mendengar ada yang yang ingkar, ada penyangkal.
Daging bakar domba muda, gurih dan empuk mulai menipis di meja bundar, redup perapian menyebar bayangan, menghitam di kadera tua, gelas anggur kosong melompong tak jelas mana rupa mana wajah.
Jangan henti bergembira
Tak perlu bersedih
Tiap hidup ada kisahnya
Ceritanya beda
Mengapa menyesal, mengapa kecewa
Tuang anggur dan nikmati domba ini, sebab esok tak tentu, tak pasti.
Tapi disini, dalam ruang ini pada hati ini, dalam jiwa ini api masih menyala bukan?
Jangan biarkan padam meski dalam gemuruh topan walau malam gulita tanpa ujung.
Ini bukan akhir cerita lantaran esok tak tentu
Berdoalah meski malam pendek sebab kau butuh itu
"Bukan ini jamuan cinta, bukan jamuan kasih" teriakmu sambil memeluk jubah putih bernoda anggur dan berlari menuju bukit, dimana penyamun menanti dengan ciuman mesra.
(Awal April'20)

Fragmen di sudut kota.
"Kamu siapa?" Lelaki setengah baya berpakaian mewah itu bertanya pada anak muda yang duduk diseberang meja kerjanya.
"Saya murid orang Nazareth yang bapak ingin tangkap itu"
"Apa maumu anak muda?"
"Saya ingin menawarkan jasa!"
"Maksudmu?"
"Selama ini bapak ragu menangkapnya karena selalu berada ditengah kerumunan orang banyak bukan?" Pemuda itu meraih cangkir anggur dari meja dan meneguk sebagian isinya. "bapak kawatir orang-orang banyak itu marah bukan?" Kalimatnya menggantung.
"Ya..kemudian apa yang kau tawarkan pada kami?" Potong seorang lelaki setengah baya yang duduk disamping lelaki pertama tadi.
Pemuda berpaling "begini bapak. Beberapa hari lagi guru dan kami murid-muridnya kan melakukan retreat di tempat sepi tak jauh dari kota ini.." lagi pemuda itu menggantung kalimatnya.
"To the point saja anak muda, apa maumu!" Lelaki baya pertama menyambar tak sabaran.
"Begini..." Pemuda itu menuangkan isi teko kedalam cangkirnya. "Jika bapak-bapak dapat menangkapnya, berapa harga jasa saya?" Tantang anak muda itu sambil menikmati anggur merah dari cangkir.
Kedua lelaki baya saling menatap lalu berbisik-bisik.
"Jika kau bersedia menunjukkan tempat itu dan kami dapat menangkapnya, jasamu kami hargai 30 keping perak!" Lelaki baya kedua menyahuti dengan tegas.
"Baiklah.. beberapa hari lagi saya akan temui bapak-bapak di cafe ini" lelaki muda itu berdiri dan menyalami dua lelaki baya berpakaian mewah yang acuh tak acuh mengulurkan tangan untuk mendapat ciuman pemuda itu.
"Sebaiknya kau pesan anggur lagi Zefanya!" Perintah lelaki baya pertama sambil mengeluarkan pundi. "Ini beaya untuk penangkap pemuda Nazareth itu. Kalau kurang nanti aku tambah" ia lemparkan pundi keatas meja.
"Baiklah bapak ketua"
Sementara itu, kota tua yang juga mendapat julukan kota raja itu mulai diselimuti halimun tipis yang turun dari bukit-bukit disekitar.
Di lorong kecil diantara gedung-gedung persegi itu sepi.
Daun palem melambai-lambai.
(Kisah baru dimulai)
Sajak tentang kekasih I.
Di ujung senja, kau tanya. Apa mengerti perkataanya?
Aku mengangguk lalu memetik sehelai daun merobek, hingga tinggal kerangka.
Tapi kau, raih ranting lebat maka rontok dedaun, lalu kau katakan, mengapa tak dengar?
Aku terkejut, teringat pertama kali menanam bibit pohon ini dan meraksasa berapa tahun setelahnya.
Bukan daun, teriakmu. Dan berlalu begitu saja.
Dari ujung taman, sayup suara menusuk gendang telinga. Jika ingin mendengar, diamlah kekasih.
Ku panjat pohon terus ke ujung dahan, menyibak rimbun daun, memandang ke segala arah. Liar. Seliar Hanoman mencari-cari Shinta di taman Argasoka.
Kau, hilang.
Tak usah mencari, sia-sia, bisikmu dari seluruh penjuru.
Angin bertiup, mendorong, pohon bergoyang, berliuk-liuk.
Pucuk erat kupeluk.
Persis, seorang anak kecil memeluk mainan.
Oh tak ingin kulepas.
Pelahan aku turun dan lompat dari dahan terakhir.
Daun berserakan, memerah, menutup hijau rumput, seperti warna darah bayi - bayi Betlehem sembelihan Herodes.
Terasa sejuk telapak mengayun langkah demi langkah.
Oh tak ingin terlepas.
Maka tembok-tembok tinggi, kokoh kubangun, kubuat, paku dan beling siap merajam siapa coba.
Aku disini kekasih!
Gemuruh suara, meniup, daun melayang, merah, hijau, jadi jelaga, langit gelap.
Ruang ruang perlemen menghambur, anyir, busuk merasuk kemana-mana, pada siapa dan apa.
Oh tak ingin melepas.
Sore di taman, Rahwana merayu Shinta.
Dianggapnya titisan Dewi Sri.
Perempuan penakluk lelaki perkasa sepertinya.
Hanuman meniup seruling, mengayun - ayun rindu Rama. Dalang mengusir Kumbakarna, memanggang Hanuman, Argasoka, Alengka, jadi debu.
Oh semua lepas.
Tak ada yang abadi, bisikmu.
Siuman dan membuka jendela, memandang pesta kumbang dan kupu-kupu, menghisap madu.
Raih bahagia.
Mereka tak pernah menanam bunga bukan? Tandasmu, mengejutkan.
Angin mengelus kepala, membelai wajah, dan menanggalkan pakaian.
Saat itu, aku malu. Malu pada tanah, rumput, pohon, kupu-kupu, kumbang, dan aku.
Nach, dengar!. Jika tak diam tak ada yang kau mengerti.
Biar pikiran, hati, jiwa.
Mendengar.
Dimana engkau kekasih?
Di sini, dalam nadimu.
(awal April)


Sunyi di lorong
Ketika jalan lengang
Ketika angkasa sunyi
Ketika pertokoan dan warung senyap
Waktu pun henti
Saat rumah ibadah kosong
Saat stasiun dan terminal hampa
Saat bangku pendidikan melompong
Waktu melambat
Kota-kota hilang di telan sepi
Rumah-rumah dikulum sunyi, dan
Waktu berlalu
Ketika sepi jadi duka
Ketika sunyi berubah tangis
Ketika senyap menjelma airmata
Waktu bersedih
Saat doa menyakitkan
Saat keriuhan derita
Saat pengajaran keprihatinan
Waktu membisu
Kota duka melalar
Rumah sedih tak henti, dan
waktu - waktu nestapa
Ketika dunia lengang dan sepi
Ketika kota dan rumah sunyi dan hampa, lalu
Saat ibadah khusuk mendalam pikiran kosong melompong
Saat duka dan nestapa TUHAN terlalu dekat.

Sunyi di lorong I.
Ketika pintu, jendela, tertutup
Halaman sunyi
Saat pagar terkunci rapat
Celoteh membisu
Sunyi waktu diam-diam bergulir
Waktu bisu pelahan beringsut
Keteduhan hanya Dia
Bersandar padaNYA
Ketika gerak dan energi henti
Roda dan mesin tak berharga
Saat pikiran dan olah tubuh mematung
Hidup kaku
Cerita mati
Ketika hati melompong
Sunyi pikiran
Saat jiwa meratap
Kalbu tersayat
Kemana meminta pertolongan
Pada siapa pengharapan
Oh Allah
Oh Tuhan
Lorong kami sunyi dan sepi
(Akhir maret'20)

Sunyi di lorong III
Sungguh kenyataan ini.
Lorong itu makin sunyi.
Jalan-jalan sepi
Kota, desa, kampung dan dusun membisu
Dan tanah pekuburan terdiam senyap
Tanpa doa, tanpa air mata
Adakah pedih seperih ini
Gemuruh di hati menggetar tak pasti
Pada siapa meminta pertolongan?
Sewaktu sunyi
Berwaktu sepi
Perwaktuan menyunyi
Waktu membisu
Kemana memohon bantuan
Dalam sunyi
(Awal April'20)




RWM.BOONG BETHONY

Sajak Cintaku

Sajak-sajak Pantai Anyer.
Di Pasir basah.
I.
Kau berlari, melompat-lompat menghindar riak mencium bibir basah
Tubuh elok terpercik buih putih melukis lekuk-lekuk badanmu
Melirikku sejenak dan renyah tertawa
Kau gores pasir bercerita cinta berharap camar yang terbang memutar menyampaikan kabar
Buih putih menghambur membawa coretan cintamu menyebrangi lautan mungkin di sana di pantai lain dia menanti kisahmu
II
Dan
Pucat bibir memohon kehangatan, pada angin, pada mentari, pada ombak
Tak kau perduli dia yang menatapmu
Tak hirau yang mencinta.
(Anyer, 4 September 2018)
Senja di Anyer
Mentari pelahan tenggelam ke lautan rona lembayung menerpa wajah manis, menguning diantara dedaun nyiur bergoyang diterpa angin.
Kau bercermin ke kolam, wajah mungil menyembul melingkar-lingkar mengajak menyelam kedalam hati
Menyatu air indah bayangan mengayun kaki melingkar dari naungan gasebo
Ini kisah senja dari Anyer.
Kisah 800 hari
Sesudah itu, rindu terbang mengejar camar
(Anyer Awal September 2018)

----------------------------------------------------

Sajak-sajak September.
Angin September
Lembut kau datang, mengusap wajah membelai kepala dan;
Harapan membumbung tinggi
Melayang menembus awan putih
Saat bahagia merasuk
Sel-sel membelah berlipat ganda
Kaki berjingkrak-jingkrak
Kala jemari lentik menari
Wajah riang
Lalu ;
Kau pergi tak kembali.
-----------------------------
Hujan September
Bersimbah air mata kau ketuk pintu dedaun mengangguk-angguk tertimpa titik air, basah gemetar
Tapi baik air mata pun air hujan tak mau mengerti
Jika September selalu ceria
Dan ;
Kembang aneka warna menghias onggokan di tanah sunyi
Kau pergi tak pulang
----------------------------
Cerita September
Tak sama tiap orang
Berbeda kisah
(Awal September 2020)

----------------------------------------------

Sajak : Epos Negeri Tani
Ini negeri Tani bung, dimana petani kehilangan garapan dan sawah ladang ditumbuhi korporat impres, keputusan mentri, ijin gubernur juga bupati.
Jangan tanya, petani mencangkul semen dan menanam beton membalik kuali jadi kuli tak berdaya.
Ini negeri Tani bung, dimana petak sawah dan ladang tak seluas halaman rumah politisi, tak selebar garasi-garasi birokrat, tak ada padi apalagi palawija di petak itu.
Jangan tanya kemana mengeluh selain mengadu nasib berkompetisi dengan lalat-lalat busuk yang hinggap kemana suka bahkan berak ditelapak kaum urban
Banyak petani mengungsi di negeri ini bung, menghindar dari ketidakpastian harga gabah lari dari petak-petak bukan milik.
Ach, teringat dongeng nenek tentang nusantara yang gemah ripah loh jinawi, terngiang nyanyi koeplus soal bukan lautan tapi kolam susu.
Tapi di negeri perdikan ini, kaum tani, pemilik negeri, tak berharga, sekolah-sekolah, perguruan tinggi lupa lalu sejarah tak pernah menulis siapa pahlawan sesungguh di negeri ini.
Siapa berani membela mereka? Wakil-wakil yang mulia di senayan itu bahkan tak pernah ribut tentang pertanian. Tak ada laba, tiada untung menyoal itu, menguras energi sia-sia katanya.
Ketika panen gagal, sawah ladang di terjang banjir dan dihempas bandang, yang mulia presiden, yang terhormat menteri pertanian, gubernur, bupati, serentak menuding cuaca yang tak pasti.
Menangislah duhai petani, merataplah hingga airmata jadi darah.
Mungkin hanya Tuhan yang perduli, kesanalah mengadu.
(Menyambut HUT RI ke-75)

Sajak : Epos negeri pardikan
Di negeri satu nusa satu bangsa, gambut - gambut memerah, telaga dan danau berkerikil, rimba raya berdebu, sungai - sungai kering sekali mengalir kampung dusun jadi lumpur
Di tanah merdeka ini, entah mengapa semak dan rumput enggan bertunas bunga malas berkembang, pohon segan menguncup, binatang hutan menghilang, burung-burung mengungsi ikan-ikan jadi langkah
Di tanah merah putih ini bung, tak terang antara penegak dan pencuri tak kentara siapa preman dan aparat tak jelas khotbah dan tipuan yang pasti semua duduk manis di kursi empuk
Dalam negeri pardikan ini bung, bung tak penting karena hanya jelata yang banting tulang demi kesejahteraan pemakai seragam yang gemar reposisi diri yang suka merekonstruksi undang-undang tapi bukan hukum yang girang mengorganisir kepentingan
Pada negeri ribuan pulau ini, tak ada azaz, tiada norma terlebih etika. Jadi jangan prihatin bung jangan bersedih tegakkan saja kepala tajamkan pikiran lancipkan ucapan tulis puisi menjadi pelor - pelor lalu benamkan di hati, di pikiran di tubuh parasit negeri ini.
Tiada putih seputihnya
Tiada merah semerahnya
(Menyambut HUT RI ke-75)

-----------------------------------------------------

Sajak Evolusi
Di kisahkan di negeri tak bertuan terlebih berTuhan, manusia berkeriapan merajalelah kesegala arah. Lidah menjulur julur mengecapi segala apa. Ya lautan ya daratan ya pepohonan ya semak semak ya sungai sungai ya telaga ya bebatuan ya hewan hewan.
Maka bebatuan sungai semak semak pepohonan daratan lautan hewan hewan berevolusi menjadi pemangsa manusia.
Dan sejak itu sajak tak pernah jadi puisi.
(Dari Kumpulan Puisi 'wajah-wajah III)


RWM.BOONG BETHONY