24/09/22

Tanjung Priok

Tanjung Priok

Aroma laut menjemput aneka parfum
Barang berkotak-kotak bergerak datang dan pergi
Di bibir laut, dermaga beton, kulepas kekasih mencumbu Ceremei
Tak ada lambaian sapu tangan terlebih selendang biru muda seperti 40 tahun lalu saat engkau berlayar menuju laut bebas
Lampu kuning kokoh mematung diselingi laron-laron tertipu kilaumu persis para pendatang berlabuh mengadu nasib di tubuh bandar Jakarta jadi apa saja, kau aduk jadi satu
Tanjung Priuk oh semenanjung Jayakarta berabad jadi pintu gerbang imperialis, pencuri dan pedagang dari mana-mana.
Tanjung priuk oh semenanung Jayakarta, engkaulah saksi perpisahan dan kisah antara air mata berbaur darah bahkan jadi jalan tikus penelikung pajak, candu, cerita yang tak usai.
Tadi, subuh sebelum ayam berkokok langit jakarta pucat tanpa embun, kering dan tak bergairah bukan karena kau meninggalkan dermaga beton itu, semata karena jakarta dan langit tak saling mengenal. Karena itu, di sini, di jakarta kita hanya saling menatap, jika jodoh saling menyapa.
Tanjung Priuk, kota yang terpinggirkan sebab itu di sana selalu ada cerita perpisahan. Foto : Ekonomi & Bisnis


RWM.BOONG BETHONY

Kisah-kisah Malam

Sajak Segenggam malam.

Menyeruak lembayung
tanpa bayangan
Pada malam kucerita mimpi
satu-satu nafas
karena malam juga kehidupan
menguak senja
tak membayang
pada malam kudapat mimpi
satu-satu nafas
sebab malam ialah hidup
jika tidak
Tuhan pasti hanya memberi siang.
Tadi, ditepian Mahakam kurajut Tuhan pada tiap arti ku genggam.
Kecuali itu, malam pengadil siapa saja.
setelah usai bait tentang debu
tak ada cerita.
tapi malam tetap saja begitu
Jika tidak
Tuhan tak yakin kugenggam
Barusan malam berkisah
Tuhan bercinta dengan siapa saja
denganmu
mereka
dia
aku.
besar cintaNya
Ia tak perduli
borok aidsmu
luka sipilismu
makanya dimesrahi tiap waktu engkau.
(RWM, Mahony tepian mahakam, Medio Sep'014)

Perempuan malam.

Di rembang pagi malam tergesa menjauh sambil memoles gincu di bibir pekat
Selusin botol beer telanjang menganga menantu kekasih
Gaun malam tergeletak di tepian ranjang
namun hanya bayangan angin mengibas daun jendela
Kau selalu pergi dan membiarkan pintu menganga seiring ngungun pagi
Engkau bayangan di tepi malam, berseri memeluk kekasih
Menghembus embun jadi butir air sedingin kecupan yang tersisa mengantar kau berlalu
Dan perempuan ayu pemeluk bantal itu selalu bermimpi di ujung pengharapan sia sia.
Citra engkau bayangan begitu para pujangga menyebutmu
Pelukan hanya bayangan
Kecupan yang tersisa pun bayangan
Kecuali bau keringat berbaur parfum
hanya itu.
(Pojok Plaza Semanggi, medio Nov'19)
Foto : Bola.com



RWM.BOONG BETHONY

18/09/22

Kangen

Kangen.

Denpasar aku datang. 

Mari berncanda nikmati debur riak sanur dan celoteh pengagummu.

Ku harap tubuh elok dan pesonamu

merangsangku mengukir syair-syair yang lama mati

masihkah gairah lenggok-lenggok dan jemari lentik dalam kerling nakal

bangkitkan gairahku mencumbui parasmu

Sanur! Sanur! 

Ku rindu janur-janur menyatu tonggak penjor

Mendayu rayu

kembang pelangi menebar senyum

Sanur, engkaulah sejatinya gadis dewata

Gadis seribu wajah.

(taman Srigunting, 18 sep'011)

Bali dan kerlip bintang

Kute adalah desir ombak bermain cahaya dalam garis meliuk liuk mengejar buih diantara binar cahya lampu dan sorot mata menyatu dalam gelas gelas kaca dengan seribu kisah
Cerita yang melegenda kemana saja menarik semua orang untuk datang mencumbuimu bahkan menyesahmu.
Bali, engkaulah dewa atas semua wisata

KANGEN.

 

Berlari lewati pintu

Melompati gerbang

Menyeruak diantara balai-balai

Hati pedih, keluhmu

Jiwa sakit, teriak engkau

Rasa mati, pekikmu

Aku terdiam

TerpekurMerunduk

Rindu ini larut 

Kangen ini luruh

Meranggas

Meradang

pada sore berikut

kudapati tubuhku terbaring kaku

setangkai mawar merah muda merajam

tepat didada.

pagi berikut

kau cabut mawar itu

tanganmu merobek dadaku

kau bawa lari isinya.

Kidung Rindu.

 Rindu Ku

Menari diantara daun-daun luruh

Menyibak rerimbun pohon-pohon sajak

Mengecup manis kembang-kembang Puisi

 

Rindu Ku

Bergelantung pada akar-akar tua

Menjingkrak liar diantara rumput-rumput Pantun

Berlompatan pada pucuk-pucuk Syair.

RinduKu.

Foto : FJB Kaskus




RWM.BOONG BETHONY

Sajak Tentang Makassar.

Sajak tentang Makassar.

Di ujung yang dapat di lihat
Kesana daeng dan Karaeng menyatu di warung-warung Coto, nikmat dalam keringat
Sara'bak hangat mengalir di sungai cere'kang seiring alunan pemusik jalanan
Kaki lima, menawar pisang epek, es pisang hijau, nyuknyang dan sanggara' di garis Losari
Sengkang maki'
Mai maki'
Jappa-jappa maki..
Oh rinni maki
Di ujung yang dapat di pandang, disitu Makassar
Kota tua dimana orang-orang berebut asa bukan hanya dari Malino, Toraja, Soppeng, Bone, Palopa, juga dari Palu, Manado, Ambon dan bau-bau
Makassar kampung to Mangkassara' tak pernah sepi sejak jaman VOC dan entak kapan kan henti.
Tangan dan lengan bahkan kaki tak henti bergerak, memoles, menempa, mengolah, memikul, bercanda di bandar Makassar
Di ujung yang dapat di pandang, di sana Makassar berdiri tegak memghadap samudra
Hotel, penginapan dan wisma tak sepi sepanjang waktu
Bus-bus dari Pare-pare, Mamuju, Sengkang, Enrekang, Masamba, Rantepao, Malili, Tanah Toraja dan Mangkutana berlomba menerobos malam berpadu pete'-pete' Di ujung yang dapat di pandang, di sana bandar besar, bersandar melepas sauh kapal-kapan besi dan perahu Pinisi mengiris lautan menyebrang samudra bertukar budaya antar bandar dunia. Kami orang-orang Bugis, kami orang-orang Makassar, ombak dan samudra adalah tempat kami bermain.
Di Makassar, songkolo' sarapan yang nikmat.
(Makassar, Medio September'18)

Balada Majene.

Membayangkan pantai berpasir hitam di tepian Majene, teringat jejak kakimu terhapus riak ombak dan tawa renyahmu terbawa angin.
Aku rindu, aku kangen
Ikan tengiri segar, sekantong cumi-cumi kau suruh aku membeli saat perahu kecil mencium bibir pantai mengusir lelah ombak semalam
Girang engkau menggoreng, meracik bumbu, mengepul nasi, aroma sedap mengguncang perut duduk berhadapan denganmu
Masih kau ingat kekasih?
Sore ketiga, saat hujan turun, secangkir kopi toraja hangat, sepiring ubi rebus kau taruh, sehelai sarung bugis berwarna-warna kau lilit di batang leher. Kau berbisik "Syal abang tertinggal dimana?"
Teringat dan rinduku disana.
Hari minggu november tahun itu, ajak aku melihat kampung-kampung di kaki bukit, terjal, kering dan hanya pokok-pokok bambu sepanjang setapak, pengusir terik, runduk, reyot seperti rumah-rumah di kaki bukit itu.
Majene duhai Majene, apa kabarmu sarrebattang?
Membayang sungai-sungai kering diantara bebukit berhimpitan itu, tersadar betapa orang-orang Majene perkasa, sabar, tak mengeluh. Merawat hidup, merawat bukit, merawat sungai, meruwat keluarga.
Adakah epos
hebat
ini dibenakmu duhai kekasih?
Membayangkan tepian Majene berpasir halus, lenggok tubuh berselendang biru, berayun-ayun, melambai-lambai, memanggil bertarian diantara alun ombak, riak putih berbuih.
Perahu cadik pergi dan kembali diantara yang tak pulang.
Bukan. Bukan petaka, tapi pengabdian.
Kelak, anak cucu bercerita, mereka anak-anak laut, orang Majene.
Orang-orang perkasa, sabar, tak mengeluh. Merawat hidup, merawat bukit, merawat sungai, meruwat keluarga.
Membayangkan semua itu, surat merah muda, ribuan kata mesra, ratusan amplop berprangko, tinggal cerita.
Maafkan aku bang! Pintamu.
Lupakan rindumu
Bunuh kangenmu
Sebab, kami orang-orang Majene, akan selalu meruwat keluarga.
(Majene Medio november 1992)
Foto : Suara.com



RWM.BOONG BETHONY

11/09/22

Tenun Ikat

Sajak tentang Tenun ikat.

Memintal benang mencari warna diantara dedaun, akar dan kembang-kembang hutan.
Mengaduk rasa dan akal antara warna tetumbuhan
Lalu hitam, merah tua, coklat tua dan putih benang mengingikat-ikat.
Serat-serat hati
Urat-urat tangan
Menyatu dalam gerak gemulai kaki dan tangan
Tak..tak! Tak..tak! Tak..tak.
Merdu kayu menyilang diantara benang
Sulam menyulam diantara lorong dan jajaran simetris
Tak ada yang gampang terlebih Indi
Tak mudah apalagi instan
Berkelana ke seluruh negeri menyebrang samudra terbang di angkasa
Nyai, emak, mama, selonjor
Menenun
Mengikat
Negeri ini ialah tenunan mereka
Punya mereka
Milik mereka
(Awal September'18)

Gambar : Corak Tenunan Sika.


RWM.BOONG BETHONY

09/09/22

C I N T A dan K E S E T I A N

CINTA DAN MANUSIA.

Suasana ruang tunggu terminal IA sore itu agak sepi. Sambil menengok kiri kanan, aku mencari posisi untuk duduk. Kupilih kursi dekat Monitor disamping kanan front office Maskapai Batik Air. badanku terasa lelah, setelah menempuh perjalan Bandung - Cengkareng. Bukan karena jarak yang membuat lelah, tetapi lantaran macet hampir disepanjang ruas jalan Tol yang padat setiap akhir pekan.
Dering khusus Android membuatku terkejut dan segera merogoh saku celana. Dan membaca sebuah pesan.
"Yang duduk depan Monitor itu abang ya?" Begitu pesan yang aku baca. Aku melempar pandangan kesekeliling ruangan, sebelum menjawab. Hanya ada kurang lebih belasan orang yang duduk disekelilingku, tak satupun yang aku kenal.
"Maaf, ini siapa?" ku balas SMS itu sambil bertanya.
"Aku dapat nomer Abang dari daftar Alumni SMA beberapa waktu lalu. Abang datang waktu itu kan?" Seperti itu balasan yang aku terima dari Android mungilku.
"Iya, tapi ini siapa?" cecarku penasaran. Lalu kembali melempar pandangan keseluruh ruangan. Tetap tak seorang yang aku tahu.
"Ini Rahayutanty, temen sekolahmu di SMU" Balasan itu mengejutkan. Aku berdiri dan mencari-cari seraut wajah Imut dari kelas IPA 4. Tapi wajah itu tak kudapat dalam ruangan itu.
"Aku duduk dekat kursi pintu keluar bang"
Aku mengarahkan pandangan kesana. Benar, seorang perempuan duduk disana dan melambaikan tangannya. Segera kuraih ransel dan beringsut kesana.
"Ini kau Ayutanti?"
"Iya bang, aku ini!"
Kami berpelukan beberapa saat. Lalu saling memandang. Lagi, ia memelukku.
"Tak menyangka ketemu abang disini" Suaranya lembut tapi jelas kudengar. Pelukannya makin erat.
"Oh...sudah berapa puluh tahun ya?" sambungnya lagi.
"40 tahun Ayu!" jawabku singkat dan meregangkan pelukan.
"Oh waktu cepat berlalu ya bang?"
"Dan kita juga sudah beruban" Jawabku sambil menuntun duduk di kursi panjang ruang tunggu terminal IA Cengkareng.
Rahayutanti menatapku seksama, bola matanya yang indah masih memesonaku.
"Apa kabarmu bang?"
"Baik..sangat baik ayu. Kau bagaimana? Sejak malam perpisahan sekolah dulu, aku tak pernah lagi mendengar kabarmu. Aku mencari tahu ke semua kawan-kawan sekolah. Tapi, tak satupun tahu rimbamu ketika itu" protesku. Teringat puluhan tahun lalu, aku pontang panting mencarinya selepas SMA dulu.
"Maafkan Ayu bang! Waktu itu, saat malam perpisahan, Ayu mau bicara, tapi abang kan sedang ngeband. Pada hal, papa mama Ayu sudah datang menjemput karena esok subuh kami harus keluar negeri ketempat papa tugas. Ayu sudah mengulur waktu untuk bicara, tapi kau terlalu asyik dengan group bandmu. Sampai akhirnya aku pergi dan meninggalkan malam perpisahan itu"
"Mengapa waktu, itu kau tak memanggilku?"
"Ach..lupakan saja bang. Toh semua sudah berlalu. Jangan di ganggu pertemuan ini" potongnya.
"Aku bersyukur setelah 40 tahun, bisa ketemu abang lagi. Selama ini Ayu merasa bersalah. Ayu tahu, abang sangat menyayangku. Aku juga berusaha mencari tau keberadaan abang, sampai aku temukan no abang dan fotomu di daftar alumni kemaren. Aku terlambat datang, acara sudah selesai ketika aku tiba ke lokasi. Pada hal ingin sekali berjumpa abang" Ia meraih tanganku dan meremasnya lembut.
"Oh..bebanku jadi ringan sekarang bang" sambungnya menatapku lembut.
"Abang makin putih...rambutmu dan kau tampak gendut, sama seperti Ayu. Kita tak mudah lagi. Tapi kenangan bersamamu selama SMA dulu sangat indah. Tiap kali duduk sendiri, aku mengenangnya. selama ini abang di mana? apakah masih gemar mendaki gunung, keluar masuk hutan dan pantai, seperti dulu sering kita lakukan tiap liburan? "
"Hm..masih Ayu. Hanya sekarang ku alihkan menyusuri sungai-sungai, dan berkemah di danau. Kau masih ingat kan? dulu kita janjian selepas SMA nanti akan menyusuri sungai berantas dan berkemah di Danau Banyu Biru? Nachh aku melakukan karena janji kita"
Mendengar penjelasan itu, Rahayutanti menghambur kepelukanku.
"Maafkan Ayu bang"
"Lupakan semua masa lalu Ayu. Oh ya, berapa anak-anakmu?" aku bertanya mengalihkan perhatiannya. Tapi semakin erat Ayu memeluk dan air matanya terburai membasahi dadaku.
"Hust..orang orang memperhatiakn kita tuh"
"Biarin bang!"
"Tapi kita kan nggak muda lagi!"
"Semua manusia punya perasaan bang" jawabnya sambil melepas pelukan.
"Aku tidak menikah dan belum punya anak!" tandas Ayu tegas. "Mengapa Abang bertanya seperti itu?" Rahayutanti menatap tajam.
"Aku sudah berjanji ke Abang bukan? nach aku tepati janji itu. Dan besok jika ada lelaki yang melamarku, akan kuterima dia" sambung suaranya tetelan di kerongkongan
"Semua janjiku kita tak kulupankan. Dan sekarang sudah bertemu abang. Jadi janjiku sudah tuntas" Mendengar penjelasannya, aku yang justru menghambur memeluknya, memeluk erat sekali, tak perduli lagi tatapan orang-orang disekeliling.
"Oh..waktu 40 tahun berlalu sia-sia untuk memenuhi janji dan ikrar di Pantai Watu Ulo Jember" Bisikku ditelinganya.
"Tahukah engkau selama itu pula aku pegang janjiku" bisikku mesra.
Kesetian butuh pengorbanan. Setiap mereka yang setia tidak akan dikecewakan (RWM)
(Medio September, Terminal IA Soerkarno - Hatta, Cengkareng)

Cerpen tentang Pintu.


Sejak mata kunci itu kau buang ketelaga samping rumah, sejak itu pula tak pernah ada yang masuk kesana. Hanya dirimu. Hatimu dan pintu itu sendiri.
Kemaren engkau minyaki gembok yang menempel di pintu. Kau bilang akan mencari mata kunci itu ke telaga. Tapi semakin kau cari semakin tenggelam dirimu dalam lumpur hingga lehermu tercekik, meronta mengulur tangan, menggapai gapai.
Tolong berilah cinta, teriakmu hampir tenggelam.
Sementara gembok berkarat tetap kau gantung disana.
Bagaimana ku turuti pintamu?
Beri kesempatan! engkau meratap dari tengah telaga.
Tapi dengan apa membantumu, jika pintu masih rapat.
Tadi pagi kau bilang semua yang ingin kau katakan.
Itu untuk aku kan?
Ya. Untukmu! untuk siapa lagi jikan bukan?
Apakah tidak terlambat? bisikmu sepagi embun menetes
Dari pembaringan kecil kudengar pintu berderit.
Entah siapa yang membuka.
Tapi hati yang sepi tenggelam di telaga sunyi.
Dan pintu gembok berkarat serta daun pintu lapuk.
Mati bersama rumah mungil di tepi telaga sunyi.
Hanya angin berlalu, tanpa kisah, tanpa cerita
hanya sesal
tinggal duka
duka sesal.
(September bercerita tentang september)


RWM.BOONG BETHONY

Tanya

T a n y a .

Pernah anda jengah pada hidupmu?
Pernah anda bosan terhadap keadaanmu?
Pernah anda muak pada dirimu?
Pernah anda marah terhadap dirimu?
Pernah anda benci pada hidupmu?
Pernahkah?
Jika iya..
Pernah anda bangga pada dirimu?
Pernah anda kagum terhadap tubuhmu?
Pernah anda terpesona pada hidupmu?
Pernah anda menyenangi hidupmu?
Bila iya..
Pernah anda mencintai hidupmu?
Pernah anda menyayangi dirimu?
Pernah anda mengasihi hidupmu?
Kalau iya...
Pernah anda merana pada dirimu?
Pernah anda meratap terhadap dirimu?
Pernah anda menyesal pada hidupmu?
Maka iya....
Hidup tak pernah sederhana bukan?
Hidup tidak simple seperti cerita bukan?
Hidup tak segampang membalikkan telapak tangan bukan?
Tetapi...
Hidup juga bukan seperti benang kusut!
Bukan juga seperti lumpur!
Melainkan..
Hidup itu ya sejarah.
Lantaran hidup ialah sejarah maka ia memiliki masanya sendiri.
Waktu bukan untuk bertanya tapi amalan
(Tepian Mahakam, sungai yang tak pernah jernih 2016)







RWM.BOONG BETHONY

07/09/22

Sajak T I D U R

Tidur.


Tidurlah kekasih.
Tidurlah dalam dekapan malam
Saat seperti itulah engkau menjadi bayi.
Pasrah pada degup jantung dan denyut nadi.
Itulah Tuhan.
Yang selalu menjaga degup jantungmu dalam asmara membaraNYA.
Tak perna lalai mengiring denyut nadimu karena cintaNYA.
Tidurlah.
Tidurlah kekasih.
Biarkan malam mendekapmu.
Sebab Tuhan membuat malam sebagai neraca waktumu
Tidurlah.
Tidur.
Romo Ro Wl Ma










PUISI CINTA

Bulan penuh di teras ketika hening jadi bening, Wajah bulatmu semburat di dedauan, menggemerisik bisik masuki jiwa lena
Jauh disana, entah, asmara membara di bilik dian seperti kisi lelampu warna warni mengutak atik rasa menyatu dalam tetes keringat. Seperti Pontius Pilatus basahi diri sambil bertanya, siapa apa Tuan. Dari mana kemana Tuan. Bathin bathil tak paham dimana kemana arah.
Candra purna di halaman saat bening jadi hening, rupa ovalmu terpancar luruh daun menggerayang rayang khayal rasuki rona hati
Berlangkah langkah, mungkin, cinta menyala perih di ruang lentera redup bri halusinasi antara surgawi neraka, nafas terengah mengetuk ketuk dada. Bagai dada ranum pencintaMu turun naik bermain main sahih tentang hakiki hakikat. Jiwa berjiwa tak tahu apa siapa mengapa kemana.
Dan bulan membias perih jatuh di halaman belakang, muka pucat pasi memeras raga menghentak hentak hari kemaren tegar tegur gagah perkasa bak Ken Arok merasa titisan dan Ia tersungguk sungguk sungkur pagi berkokok. Bulan berair dalam jam duka sesal, dahan patah meringkuk tanpa nyawa.
Lalu candra mencandai jaman, ode, epik, legenda, roman, novel, cerpen ialah puisi.
Ialah Tuhan.

Pelacur tua dan Cinta.


Mengisi hari lelaki, hari perempuan menapak tiap masa slalu menenteng rona magi memesona siapa apa. Melacuri waktu kekawin ketika patalon terayun dan gendhing suwak pancer, manunggal yang Illahi dalam rasa, bathin, jiwa, tidak di pikir.
Saat itulah kitab-kitab hanya kata. Siapa apa teologi, mana mengapa hermenetik homeletik hanya kata tanpa dialeg lebih idialeg, dialog hambar, hanya panggung jejar rahwana wajah Tuhan tak pernah teraba, ngono yo ngono nanging ojo ngono.
Dan hitam putih jadi panduan panggung dalam pertunjukan seolah tiada rona lain. Hei teolog pesanlah eksotismu bak tontonan sunggingan metematis, hanya hitungan.
Plung, ku cumbu, ku pagut, ku cium, dengus nafas gerayang menggerayang tanpa sisa, senyum pelukan malam serengai, sumeh pelukan siang menyelam ke kedalaman di balik bayang. Yah.. hanya bayang katamu, kemudian kau teriak hitam atau putih.
Riwayat ialah kata, tak lebih tak kurang mungkin terjebak wewayanganing ngaurip, pipih bukan distilisasi melainkan kebebasan bukan penghakiman. Laiknya perempuan hina dina mati terseret seret kekaum. Ahaa...dia mati menemui hidup, bukan jejar melainkan perupa menyatu wajah. Persis lelaki memborok sekujur tubuh, tapi bukan jiwa. Hanya pikir.
Mari berpesta, tuanglah anggur merahtua peninggalan leluhur jangan pikir terlebih masuki bathin, ruh dan jiwa. Bukankah wahyu milik kita?
Sementara itu bordir-bordir tua serupa bordiran kebaya pengantin menjubahi pejinah bersenandung gita bhakti, bertarian, berlompat lompat, berjingkrak jingkrak rupa dan wajah terpenggal penggal. Puzzel dimana kemana.
Mendesah desah asmaraMU.
Aku tak paham lagi warna lain, bisikMu
DesahMu.
AsmaraMu.

Harmoni


Jangan apa selain diri, ini malam penghabisan serumu serambi kejar gagak mengejar iring koar koor saat pucuk ubun ubun melompat lompat hinggapi siapa apa di pagi berembun. Dan ketika gelegar geger serupa dahak krakatao melalar maliuk liuk mewarna diri itulah bahak bahak Tuhan yang menari tari hakekat hakiki.
Tak juga paham.
Sesungguh alpa bukan.
Gendhing gendhing suwek bukan seruling mengalir alir merogoh sukma durga cerita kita.
Jejar Wajah wajah bukan kayon hanya bayang membayang wayang
Menurutmu aku siapa kekasih
jawabku, Air, udara, angin dan api.
Disini, dimana nafas menderu bergurau menulis kamus, membuat rerambu rambu serupa iklan tentang surga persis rasa manis pahit di lidah tak kecap rasa lain. Tak berwarna kacamata kuda.
Lalu tepat di kira pukul dua kali.
Gelap
Gulita
Merobek jiwa hamburan hamburkan mewarna mewarni rerasa rasi. Tak juga tangkap pertanda itu.
Hal bawa diri, jiwa, bathin, roh, bukan memikir pikir terhitung hitung lebih terlebih tersuci suci.
Bukan
Bukan kekasih.
Hanya diri.
Diri berdaki daki.
Hanya jiwa
Jiwa berjumawa
Hanya batin
Batin bathil
Hanya roh
Roh perongrong.
Selain itu tak
Tak itu selain
Itu selain tak
Selain tak itu
Di sini disitu, titik kau ada.
Tuhanmu
Bukan hitam putih, pahit manis tapi warna warni aneka rasa.
Menurutmu Aku siapa?
--------------------------------------

Kisah bawah matahari


Mari cumbui hari hari tanpa sisa bisikmu ketika bayu biarkan terik mengaduk aduk rupa sesawah leladang pepohon bebungaan luruh demi satu telanjang bulat tak malu. Saat itu, seekor domba panggang muda terguling diperapian diserambi rumah tua. Tuang anggur merah teriakmu lantang gembira di iringi kami puji dengan riang pentatotnis diatonis tak jelas mungkin juga selendro do mi sol do gong bergetar. Bumi bergolak dalam jiwa jagad gede cilik mainkan gendhing cucuk bawuk sampai suwuk pancer. Jejer berseberangan sempurna hitam putih, padahal hidup bukan itu. Tak ada kalah apalagi menang melainkan sentripetal, berlapis lapis hidup dalam sangkan paraning dumadi. Bukan kemarau, bukan penghujan tapi tetapi.
Tapak tapak lelah jejak rupa bumi, menderap derap kuyuh luka di barisan jiwa bila kan sembuh?
Hening dalam gelegar bayu meniup siang jadi malam saat irisan daging panggang domba muda harum mengelegak tertelan tenggorokan, gagap gempita sorak sorai tangis ratap geretak gigi Oh bapa, kepadamu ku berserah. Darah mewarnai angin, kematian merasuk sukma, terengah engah terbuih buih seperti butir butir ludah pembicara mimbar klaim mengklain penjaga kayangan pemilik nirwana. Lupa bahwa penjaga bukan pemilik lalai kemudian ubah jadi tukang pukul pukul persis anjing anjing geladag pemburu tikus tikus kolong harap seonggok daging. Ketika itulah domba panggang muda tercabik cabik terburai burai jemari jemari menggerayang apa saja kemana saja dimana saja siapa apa.
Siang dan malam tak pernah berebut terlebih minta kehormatan. Langit malam langit siang adalah langit bukan langit langitmu. Karena langit langitmu busuk dan anyir, seperti nyinyir bau anyir darah segar domba muda sembelihan terpanggang di panggung istana istana doa symbol imanmu itu. Dan lebah lebah bersenandung, suara suara tak jelas menerobos jendela rapat tertutup memagar merasa jijik pada sekitar.
Padahal perselingkuhan menyodok nyodok langit, pelacuran menutupi bumi masih juga jejer hitam putih jadi senjata pamungkas untuk kreatifitas untuk kembang kembang puja puji.
Penjor hanya satu teriakmu tak paham penjor berwarna warni sebab itu Tuhan suka.
Ya, semua.
Semua, ya.
---------------------------------------------

Pikiran dan Batin. (sebuah renungan)


Berbahagia mereka yang dapat melihat dengan hati atau batin, sebab ia jadi bijak. Tetapi mereka yang melihat dengan pikiran selalu mengukur untung rugi.
Hati atau batin selalu menerima Tuhan dalam keagungan, sebaliknya Pikiran menerima Tuhan sebatas kebutuhan.
Hati atau batin adalah tahta Tuhan, sebaliknya pikiran berusaha merebut tahta itu.
Berhikmat orang yang menangkap ajaran Tuhan dengan hati atau batin, sebaliknya fasik mengandalkan ajaran Tuhan hanya dengan pikiran. Sebab Hati atau batin berlaku jujur setiap waktu, sebaliknya pikiran berhitung atas segala sesuatu.
Hati atau batin adalah mahkota hidup sebaliknya pikiran membuangnya.
Bijak, orang melihat Tuhan dari hati atau batin karena ia melihat ke- Mahakuasaan yang tak terhingga, sebaliknya musrik orang yang melihat Tuhan dengan pikiran karena hanya mengerti soal hukuman dan pahala.
Bahasa hati atau batin selalu membahagiakan sesama mahkluk, sebaliknya bahasa pikiran merampas kebahagian itu. Kata hati atau batin selalu menerima siapa apa, sebaliknya pikiran membuatnya barang dagangan.
Hati atau batin tiada membedakan sesama manusia, sebaliknya pikiran membangun tembok penyekat. Sebab hati atau batin tahu, semua manusia adalah debuh dan Ruh Tuhan tapi pikiran mengingkari itu.
Hati dan batin mengakui bahwa Tuhan mengasihi semua manusia, tetapi pikiran menghancurkannya. Sebab hati atau batin tak pernah mengukur siapa apa manusia selain sesama ciptaan, tetapi pikiran mengukurnya salah benar.
Hati dan batin tahu bahwa hidup manusia berwarna warni tetapi pikiran membuatnya hanya hitam putih. Sebab hati atau batin mengerti Tuhan mencintai warna warni tapi pikiran meleburkannya dalam kotak hitam dan putih.
Hati atau batin mengaku hanya ada kita tetapi pikiran membuat kami dan engkau. Sebab hati atau batin mengakui Tuhan tak pernah membedakan tetapi pikiran mencerai beraikan.

---------------------------------

Gendhing suwuk pancer


Aku menunggu Guntur dan kilat mengurai burai awan mendung.
Kurindu kilatan api, udara dan gemuruh kereta kuda membuyarkan gumpalan gumbalan di langit.
Lalu kan ku mainkan tubuhku di basah tanah sambil menari ciumi aroma bunda pertiwi pada butiran bening.
Awan masih strato
Mendung tetap menggantung
Angin panasi jiwa
Rinai ialah nyanyian surga musim kemarau
Rintik ialah kidung pemujaan di masa kering
Selalu puitik pada luruh dedaun dan pokok mengering
Aku menantikan gelegar dari langit membuyarkan awan strato
Kunantikan percikan larva membakar tiap partikel kelam selimut abu abu langit
Jatulah.
Jadilah titik titik.
Hentikanlah kisah kerontang.
Entah kuncup entah kembang entah mekar
Hujan ialah kidung nirwana di musim kering
Dendang kekawin air dan buana
Seperti kekawin asmaraNYA yang melahirkan segala apa
Romo
--------------------------------------------

Pada Malam.

Malam.
Mari bicara empat mata.
Aku mau belajar tentang keadilan.
Selalu saja kau butakan warna, bentuk dan wajah.
Bagimu semua sama.
Presiden, Mentri, Gubernur, Kiyai, Ustads, Pendeta, Pastor, Pelacur, koruptor, pencopet, pencuri, perampok.
Tak beda.
Malam, mari bertutur tentang sikap.
Sikapmu.
Tak perduli siapa.
Bagimu sama.
Jangan bicara soal siang
Yang gemar membangun kisi-kisi, bilik - bilik, mengkotak-kotak, berupa-rupa, berwajah-wajah, berwarna-warni dan berupa - rupa
Malam, ayo kisahkan tentang dirimu
Apapun tentang kau.
Keadilanmu.
Sama, sebentuk, serupa, sebangun, tadak ada apa-apa.
Hanya gelap.
Gelap yang mengubah semua menjadi sama.
Apakah lantaran itu
Maka semua musti meraba dan di raba
Manusia peraba
Manusia di raba
Apakah karena itu
Manusia gemar meraba Tuhan?
Dan menolak di raba Tuhan?
Apakah sebab itu
Manusia masih meraba Tuhan?
(serombongan kunang-kunang datang berbisik dan mengatakan, Jangan tanya soal malam dan lihatlah cahaya kecilku. Tuhan menempelkan Sinar wajahNYA dan aku membawanya kemana aku terbang tiap malam. Rombongan itu pun pergi menembus gelap. Saat itulah tampak bentuk dedaun meski samar. Tapi aku tahu itu daun)
(September' 16)

Cerita hari ini tentang pedagang.


Pagi ini kudapati engkau diujung taman, setelah semalam kucari diseluruh ruang jiwaku. Engkau tak pernah permisi ketika datang pun pergi tahu tahu kau sodor beberapa notes kecil penuh.
Bacalah! Pintamu beberapa waktu lalu.
Sejak itu aku tenggelam telusuri tarian tinta dalam notes notes itu. Entah berapa purnama kulewati membacanya. Dan Semalam, saat aku terjaga ingin menanyaimu, mengapa semua goresan notes itu hanya berisi jelaga hidupku? Aku mulai gelisah dan mencarimu diseluruh ruang yang ada, tiap lorong yang mengikat diri, sel sel, titik titik, semua kumasuki hanya ingin jawabmu.
Tapi engkau tak ada disana.
Mataku hanya tertuju di pintu tertutup itu. Gelisah seluruh eksistensiku, Jiwaku, pikiran bahkan iman kuyu. Lalu tertidur bukan sebab kantuk tapi tak mengerti lagi musti bagaimana.
Dan pagi ini, engkau bertengger di ranting kering ujung taman sambil bersiul mencandai dedaun luruh dalam bayang serpihan surya.
Puluhan purnama kumencarimu sobat, sapaku gembira.
Engkau tersenyum dan melompat turun mendekapku. Mengapa mencariku? Tanyamu serambi melepas dekapan mengajak duduk bawah pokok kerontang meranggas.
Aku ikut dan duduk disamping.
Aku tak pernah kemana. Jawabnya sambil menepuk di pundak. Ketika kau gelisah mencariku aku ikut bersamamu bahkan saat kau tertidur pun aku ada disisimu. Tatapnya bening. Aku juga lelah, makanya pagi ini aku masuki taman ini menghirup udara segar.
Bagaimana engkau membiarkan aku gelisah sedemikian rupa? Bahkan pintu yang biasa kulalui tertutup rapat. Tegasku membalas bening tatapnya.
Hahahahahahaha......tawanya berderai.
Sobat! Sobatku...pintu itu tak pernah tertutup, tapi jiwamu. Tak sadarkah ada ribuan pintu lainnya yang bisa kau lalui. Apa yang kau inginkan?
Kutatap lekat lekat kudapat anggukannya.
Ada apa sobat?
Notes itu itu! Mengapa hanya catatan jelaga?
Hahahahahaha....itu karena kau tidak pernah membiarkan batinmu, jiwamu, nuranimu berbicara. Kau hanya mendengar pikiran-pikiranmu. Kau hanya berfikir soal untung rugi, soal mendapat, soal dirimu.
Maksudnya? potongku cepat.
Pernahkah kau dengar bisikan jiwamu, Nuranimu, hatimu? Bukankah semua ada dalam dirimu, ada padamu? Semua! Kebaikan, keindahan, kedamaian, kegembiraan, keriangan, kebahagian, lukisan-lukisan aneka warna ada padamu.
Tapi hanya jelaga? Bukankah selama ini hal-hal baik kuperbuat juga? Ini tidak adil! protesku.
Sobat, keadilan itu bukan soal hitung-hitungan, apalagi tentang hitam putih. Tapi soal kebenaran. Dan kebenaran itu ada dalam dirimu, bahkan dalam setiap insan yang pernah ada. Jadi bukan jumlah.
Maksudnya? Tanyaku lagi.
Jika keadilan itu hanya bicara soal jumlah, hitung-hitungan maka dengan pasti tak ada satupun keadilan dalam dunia ini. Kau mengerti? nach soal jelaga dalam notes yang kuberikan itu. Itu bukan tulisanku. tegasnya.
Lho?
Ya! Bukan aku yang menulis! Tapi kau!
Mengapa hanya jelaga? kejarku.
Karena yang kau maksud perbuatan baikmu selama ini adalah jualanmu! Harga dirimu! Kau menjual kebaikan pada semua orang. Padahal, kebaikan bukan barang dagang, apalagi sebagai pameran. Bila yang benar, yang baik kau perbuat untuk keuntunganmu, maka kau seorang pedagang!
Jadi?
Yahhhh...itu yang selama ini kau lakukan....Nach ijinkan aku nikmati serpihan surya yang terserak merabuk buana. Selesai berkata begitu, dia pejamkan mata dan berbaring disamping. Larik mentari persis menimpa wajahnya. Berkilau-kilau membuat mataku tak sanggup menangkap kilauan itu.
Sambil membuka tumpukan notes itu, aku mulai melihat siapa aku sesungguhnya. Nyata bagiku, seorang lelaki pedagang kebaikan dan menukar kebenaran untuk keuntungan.
Taman nurani, 10 Oktober 2015
Samarinda - Kaltim.
------------------------------------------

Pengamen.


Terkadang aku mengamen.
Meminta diberi hikmat
Untuk menyanyikan kidung kidung pujian
Membaca syair syair cinta
Mendendangkan dendang syahwat
Terkadang aku jadi pengamen
Memohon keping keping bijak
Untuk melantunkan nyanyian puja
Menyairkan nyanyian asmara
Berseloka tentang dahaga erotis
Terkadang aku jadi siapa apa
Untuk menemui dirimu yang selalu tersembunyi di bilik bilik jiwa
Seolah engkau tiada perduli.
Menuduhmu lamban ketika aku butuh
Menghakimimu saat aku terpuruk
Pun
Persalahkan dirimu ketika aku celaka
Terkadang aku harus menyelam
Menelusuri dedaun dan pokok pokok agar bertemu dirimu yang tak pernah kemana selain di batin
Menyangka engkau hindari saat aku butuh
Mempersalahkanmu atas semua kejadian
Seolah engkau sumber petaka
Padahal
Aku sumber.
Terkadang aku melupakanmu hanya demi inginku.


Foto : Rob Colection'2022

RWM.BOONG BETHONY