05/10/22

Lelaki Baya

KURSI DAN LELAKI BAYA.


Di kursi goyang, lelaki baya memandang rembulan
Teras rumah sunyi, temaram sepii bersama sinar sang dewi
Dulu! Beberapa tahun lalu, sinar matamu tak kalah cahya rembulan itu, bisik lelaki tua.
Tapi sekarang redup, persis sinar dewi di atas sana.
Rerimbun bambu di samping gemerisik, seperti hatinya, berisik.
Cinta ini kau bawa pergi, hati ini pun kau raih.
Hanya kursi dan lelaki baya.
Tak mengertikah engkau duhai rembulan?
Lelaki memandang langit
Membiarkan kursi bergoyang sendiri
Kembalikan padaku apa yang kau ambil.
Ia memandang rerimbun bambu yang masih gemerisik
Pulanglah, pinta lelaki pada rembulan
Setua itu kah dirimu?
Bukankah cinta
Hati
Tak pernah tua
Tak pernah usang?
Di kursi goyang, lelaki baya menatap bunga mekar di halaman
Teras rumah sunyi, temaram sepi di sela-sela cahaya mentari
Embun baru saja pergi, sedingin hati
Hati yang menunggu
Hati yang menanti
Persis mentari yang diam-diam membakar hati
Hati yang menanti
Hati yang menunggu
Datanglah
Kemarilah
Lelaki baya memetik sekutum kembang, mencium dan mendekap
Tak pernah kah kau pikir
Cinta
Asmara
Tak pernah lapuk
Tak pernah tua
Datanglah
Kemarilah
Kursi dan lelaki baya
Bergoyang bersama
Hari senja
Mati bersama kursi yang diam.
(medio September 2017, Hotel Primera Santika- Yogyakarta)



RWM.BOONG BETHONY