11/07/22

Cerita Stasiun Tawang

Cerpen tentang Stasiun Tawang.

Lelaki itu menyeret sandal butut sambil menatap rel kereta di samping.
Dulu, dulu sekali aku tak ingat lagi bisiknya.
Kami berlindung di balik rel itu hindari pelor belanda yang terhambur dari menara di ujung itu. Tapi ehhh menara itu sudah tidak ada lagi. Pandangnya sambil mencari-cari.
Dan, di tengah rel itu. Bambang berkalang tanah, sebutir pelor bersarang di batok kepalanya. Lelaki tua itu melirik lengan kanannya yang tak lagi mampu di gerakkan. Di lengan itu, bambang sekarat, demikian juga Herry bahkan Jono sahabat sekampung dari tanjung emas. Ach, rel itu membuatnya teringat pesan Bambang agar ia jangan menyerah, meski kelak perjuangannya tak berharga di mata negeri ini.
Peringatan pertempuran 6 hari di Semarang, memaksa kaki tuanya kembali menyusuri Stasiun Tawang bukan menghindari pelor belanda seperti dulu, tetapi karena kesanalah ia harus mudik menemui dirinya. Menemui Bambang, Herry dan Jono. Terbesit cemburu kepada ketiga sahabatnya itu. Mereka mati muda sementara ia masih hidup. Sendiri. Ya sendiri. Nikmati kematian sahabatnya dalam kemerdekaan.
Mustinya kita mati bersama dalam pertempuran itu, keluhnya sambil memandang hilir mudik penumpang kereta yang tak perduli kehadiranya.
Titik bening jatuh dari bendungan kecil di pelupuk yang sedari tadi berusaha di tahannya. Tapi semakin ia berusaha makin deras pula mengalir basahi keriput pipi.
Mengapa pelor yang bersarang di punggung ini tak merenggut nyawaku saja ketika itu, jeritnya pada diri sendiri. Dan pelor itu membuat lengan kanan lumpuh berkepanjangan.
Raut mukanya legam tertimpa terik Surya ketika beringsut menyeberang rel itu, tapi kaki tuanya tak mau bergerak, persis seperti pertempuran itu, ia tersungkur dan punggung tertembus pelor.
Siang itu Stasiun Tawang berhamburan, riuh berkerumun.
Setitik air mata, masih mengalir ketika ia melihat Bambang, Herry dan Jono mangangkat tubuh ringkihnya yang tak bernyawa.
(Stasiun Tawang, Juli 2016)
Keterangan foto tidak tersedia.
Dian Kencana, Widaningsih Counselor dan 50 lainnya
87 Komentar
1 Kali dibagikan
Bagikan

87 Komentar

Paling relevan

  • Jootje O'Rugian
    Hmm, begitu menyentuh kabu!
  • Erma Rosliana
    Menggetarkan hati , rahayu
  • Ninik Noor Hidayatun
    Ketika kematian sudah dipersiapkan.........terharu Romo......salam fitri...rahayu selalu@
  • Greysand Harimau
    wiiih ceritanya ngeriiii deh romo Ro Wl Ma
  • Nia S Baidan
    Kenikmati kematian sahabatnya dalam kemerdekaan, yg sangat menyakitkan dan menyesakkan dada. Semg sang lelaki tua itu akan menemui kemerdekaan yg sesungguhnya dan berbahagia pada saatnya kelak. Amin
    Salam bahagia buat Romoku Ro Ml Ma. Rahayu
  • Bli Gede Bagus Suputra
    Cerpen yg indah.. seru.. dan mengharukan
  • Hallie Josias Sahertian
    Sangat menikmati......
  • Romo
    Selamat malam broer Jootje Rugianmandey....sebuah katarsis sosial.
    2
  • Romo
    Malam teteh Emma Liana....begitulah semua kisah selalu menggetarkan...🙂
    3
  • Romo
    Bunda Ninik Noor Hidayatun....atau kita yang musti siap menghadapi kematian ya?
    2
  • Romo
    Mas Greysand Harimau....lebih mengerikan mereka yang merampas kemerdekaan orang lain qkqkqkqkqk
    2
    • Greysand Harimau
      nah lho bicaranya rampas merampas romo Ro Wi Ma .... bisa dianggap bahaya laten tuh ..... hahahahaha
    • Romo
      Qkqkqkqkqkqkqkqk..lebih enak ketawa sesungguhnya...salah satu lambang kebebasan.
  • Romo
    malam mbak Nia S Baidan....iya ia telah menikmati kemerdekaan itu...
  • Romo
    Malam Bli Gede Bagus Suputra....cerpen sebagai outokritik
    2
    • Bli Gede Bagus Suputra
      Autokritik untuk ingat jasa para pahlawan bangsa.. baik yg tlh berpulang maupun yg msih berjuang..
      Autokritik utk membangun bangsa dg ikhlas
  • Romo
    Silahkan menikmatinya bro Hallie Josias Sahertian....🙂
    2
  • Poltak Situmorang
    "..Jangan menyerah, meski kelak perjuangannya tak berharga di mata negeri ini."
    Memang itulah yang terjadi, kita tidak menghargai pengorbanan para "Pahlawan" yang telah rela mengorbankan nyawanya untuk "Kemerdekaan". Kemerdekaan yang disalahgunakan untuk " Kemerdekaan Korupsi" hks.hks.hks...
    3
  • Ninik Noor Hidayatun
    Kematian itu akan datang, tp waktunya yang tidak bisa kita perkirakan, shg harus kita persiapkan menuju kematian.....dg amal shaleh, berakhlaq bagus....memperbaiki diri setiap saat...spt bunda kmrn saat diujung kematian krn kanker.....siap gak siap harus siap, alhamdulillah Allah begitu saayang...dg kehidupan kedua ini...bunda hrs berubah lbh baik atau punah jika tdk bisa memperbaiki dir....rahayu romo....geng ndalu@
    2
  • Hallie Josias Sahertian
    Sebenarnya Bambang, Hery, Jono...itu mewakili siapa ? Atau representasi dari apa ?
  • Hallie Josias Sahertian
    Apa menariknya stasiun Tawang sehingga menjadi setting pada pada cerpen ini ?
  • Romo
    Oppung Poltak Situmorang...begitulah negeri ini oppung...semakin diteriakkan anti korupsi semakin merajalelah korupsi terjadi...
    2
  • Romo
    Bro Hallie Josias Sahertian...itu nama-nama rakyat biasa yang populer di jaman perang phisik merebut kemerdekaan. Stasiun Tawang adalah salah satu stasiun dimana terjadi pertempuran hebat antara rakyat semarang dan belanda dalam kisah pertempuran 6 hari di Semarang.
    Yang kedua, Stasiun Tawang adalah salah satu mobilitas masyarakat masuk dan keluar kota semarang.
    4
  • Romo
    Bunda Ninik Noor Hidayatun....amin..amin. Begitulah bunda, sering kali manusia menjadi sadar saat-saat kritis melanda hidupnya. Ketika kuat, senang, terlebih bergemilang bendawi manusia lupa bahwa ia harus menghadapi kematian.
    Berbahagialah mereka yang menghadapi kematian dengan senyum, tanpa rasa takut, sebab mereka adalah manusia merdeka.
    Salam dan doa rahayu bunda, sugeng dalu.
    2
  • Romo
    Mbak Roro Mendut....masih banyak lagi yang tidak terdaftar dalam sejarah perjalanan bangsa ini dengan banyak alasan politis dst.
    Pertengahan tahun 80-an saya juga menulis sebuah puisi untuk sebagai outo kritik terhadap penghargaan para pejuang itu.
    Ini saya CP untuk mbak Roro Mendut
    CATATAN BEDJO KALI CODE
    By. ROBERTH WILLIAM MAARTHIN
    Yaa..anaku. Ketika muda kami
    Terjajah imperialis
    Lalu ku panggul tombak
    Kusandang Kariben dan mortir
    Ku hunus keris
    Darah imperialis berceceran
    Tunggang langgang. Merdeka!
    Ya Anaku! Itu dulu!
    Aku di puja, Di buat sejarah. Sumber ilmu.
    Dipelajari di SD, SMP sampai sekolah tinggi
    Semua bangga!
    Tapi sekarang anakku!
    Sesal diri tak habis
    Semua tak berarti lagi
    Tiada mimpi jadi nyata
    Yang kutuai pahit
    yang kulihat duka.
    Aku tertipu!
    Kawan-kawanku berkalang tanah
    bermandi darah di Tugoe, di lempuyangan
    di alun-alun, malioboro, jembatan solo
    yang menimbun di kali code. Tertipu!
    Nyata perjuangan itu bukan untuk rakyat
    bukan bagi negeriku
    Bukan bagi bunda pertiwi
    Kini kusesali
    Kenapa pelor belanda hanya menyisakan bekas luka dipunggung
    Mengapa tidak menembus dada atau meremukkan jatungku!
    Supaya tak kudapati, Anak-anak negeri memuja mimpi
    Agar tak kulihat sikaya memainkan hidup orang banyak.
    atau si kuasa mengacungkan telunjuk memusnakan dusun
    melenyapkan desa atau si imperialis kembali membenam tongkat membangun tembok-tembok pembunuh mendirikan roda-roda menggilas
    Oooh anakku!
    Tak tertahankan air mata jatuh
    Dulu pantang terjadi di perjuangan!
    Kini, ia mengalir, deras!
    Mungkin karena itu yang tersisa
    Hanya ini yang mampu kuberikan.
    Anakku
    Skarang tak sanggup aku baca koran
    Tak mampu melihat TV
    Aku takut
    Aku gentar
    Sebab semua bercerita tentang Penjajahan
    Semua memutar perbudakan
    Ibumu
    Ibu kita
    Bunda pertiwi
    Skarang bukan Indonesia
    yang dulu ku bela
    yang dulu merenggut sobat-sobatku
    yang dulu.
    4
    Sembunyikan 49 Balasan
    • Ninik Noor Hidayatun
      Ayah saya dulu berjuang mengawal pak Dirman sampai Jember ..Banyuwangi..berjalankaki, kalau bercerita kpd anak2 sebaya saya yg waktu itu msh SD....kawan saya bilang orang gila....menangis saya saat menulis ini...teringat alm bpk yang kecewa.....th. 87 baru dpt tunjangan veteran pejuang 45....itupun setelah bnyk org yg tdk berhak mendapatkan dicoret namanya.....alm lahir 17 Agustus 1921......@
      3
    • Poltak Situmorang
      Golongan Proletar, biasa hidup bersahaja. Mereka tidak memiliki titisan darah pembunuh, perampok atau pemerkosa. Tak pernah menerima upeti. Yang menerima upeti adalah orang yang memiliki garis keturunan dari yang memiliki mahkota berdarah. Lihatlah Ken Arok atau yang lain, yang menjadi raja karena membunuh Tunggul Ametung. Jangan berdalih, Ken Arok juga dari Proletar, tapi bukankah setiap raja itu harus membunuh dulu baru naik tahta? Wong Deso. Ngak punya banyak keinginan. Ngak pernah menginginkan upeti. Yang menginginkannya adalah para.... Silahkan lanjutkan.
    • Poltak Situmorang
      Ybs pernah memutarbalikkan sejarah, soal Pancasila.
    • Romo
      Oppung Poltak Situmorang....mungkin juga demikian dari perspektif kita dan seperti itu juga dari perspektif mereka.
      Jaman 'pancaroba' ketika terjadi peristiwa berdarah itu dan pengambilalihan kekuasaan oleh ORBA...semua hal menjaid milik ORBA, bahkan berpakaian, berfikir sampai pada struktur berfikir pun seolah-olah musti ORBA punya.
      Tetapi untuk saat ini Oppung, orang mulai melihat dan meneliti bagaimana sejarah dapat menjadi sejarah itu sendiri tanpa harus mengikuti kemauan Sang Penguasa.
    • Romo
      MBak Roro Mendut, saya memiliki beberapa tulisan-tulisan Nugroho Notosutanto, khususnya yang berhubungan langsung dengan sejarah dan pendidikan.
    • Poltak Situmorang
      Ketika masih Mahasiswa di Bandung, saya pernah menjadi bagian dari Team Pemberontak itu (Ketua DMSM Se Bandung. Dan Pernah mengundang Ketua BP7 sebagai Pembicara Tunggal tentang Sejarah Pancasila, karena seseorang mengatakan bhw Moh.Yamin lah penggali Pancasila bukan Soekarno. Dan itu kami protes dan Mhs. Bandung tdk takut sama bedil. Dan ybs itu menjadi Menteri P&K
    • Romo
      Bukannya 3, 6 tahun mas Chandra Yusuf? Lha saya kena di kelas 3 SMU. Sekolahnya jadi 3,5 tahun
    • Romo
      Penggali Pancasila itu ada beberapa orang, tetapi rumusan Pancasila beberapa orang itu ada yang di ambil BUng Karno dan ada yang tidak. Jika bicara penggagas Bung Karno bisa di depan.
    • Poltak Situmorang
      Dalam Surat Wasiatnya, M.Hatta mengatakan, Soekarno lah Penggali Pancasila.
    • Romo
      Qqkqkqkqkqkqkqkqk.....jangan mendebat orang sekapungnya Moch Hatta Oppung Poltak Situmorang..qkqkqkqkqkqk...😛
    • Poltak Situmorang
      Ha.ha.ha... Mau setinggi apapun pemikiran seseorang itu, kalau tidak membumi, sama saja dengan pepesan kosong. Yang jelas, Soekarno menghabiskan lebih dari setengah umurnya di Penjara untuk Kemerdekaan Indonesia. He.he.he
    • Romo
      Hanya satu saja kekalahan Moch Hatta dari Bung Karno Mas Chandra Yusuf....yaitu tidak mampu beli sepatu Bally...qkqkqkqkqkqk...dan Hanya punya satu Istri. Lainnya, sama jago berfikir, jago debat, jago filsafat, jago Agama, jago melawan Belanda..satau lagi Bung Hatta jago silat tetapi bung Karno tidak bisa silat qkqkqkqkkq
    • Romo
      Moch. Hatta..pemikirannya luar biasa, tetapi karena dia kalem ya...akhirnya Bung Karno yang menonjol.
    • Poltak Situmorang
      M.Hatta berkata Pintarkan dulu bangsa Indonesia baru Merdeka; Soekarno mengatakan, Merdeka dulu baru kita lontarkan bangsa Indonesia dengan cara kita. Bukan dengan cara Leiden he.he.he..
    • Romo
      Oppung Poltak Situmorang...bung Hatta memang jago berfikir dan konseptor lihaiiii
    • Poltak Situmorang
      RoMo RoWiMa, itulah sebabnya mereka disebut Dwi Tunggal. saling melengkapi.
    • Romo
      Nachhh waktu Bung Hatta nggak mau lagi mendapingi Bung Karno...Sang Proklamator mulai kebingungan sebab Konseptornya ilang....🙂
    • Romo
      Bung Hatta adalah konseptor ide untuk Bung Karno, meskipun keduanya suka bertengkar dan silih pendapat. Tapi pada akhirnya pemikiran Bung Hatta di terima oleh BUng Karno. Baca Buku Soekarno - Hatta Dwi Tunggal.
    • Poltak Situmorang
      Kadang kita melupakan seorang Dr. Sam Ratulangi, yg sdh meraih gelar Doktor ketika Soekarno masih mahasiswa. Pendiri PUTERA Indonesia (Pusat Tenaga Rakyat Indonesia) dan merelakan Soekarno menjadi Ketuanya, setelah beliau pulang dari Leiden.
    • Romo
      Dari dsikusi kecil ini para kerabatku, dapat kita melihat kekayaan perspektif Ilmu yang kita pelajari dari para pendahulu Negara ini...mereka memang orang-orang hebat yang tak perduli hidupnya kecuali Ilmu itu sendiri.
    • Poltak Situmorang
      Karena itulah Bung Karno mengatakan Jas Merah...!
    • Romo
      Wahhh saya sekolah di Surabaya, jaman kalian sekolah Cikini...jadi buat kalian ketika itu saya orang daerah qkqkqkqkqkqkqkkqkqkq
    • Romo
      Kalau mbak Roro Mendut itu orang jakarta pusat jaman itu qkqkqkqkqkqkqk
    • Romo
      Bangga itu pengalaman tetapi sombong pemeran...makanya saya nggak perna hadir di PJR dari jaman dulu qkqkqkqkqk
    • Romo
      Ralat PRJ qkqkqkqkqkqkqkqk
    • Poltak Situmorang
      Romo, tahun 1978, saya membeli sebuah buku usang di Cikapundung, cetakan pertama dengan judul "Dibawah Bendera Revolusi" dan beberapa pidatonya. Ternyata, M.Yamin itulah yang mengusulkan spy Soekarno menjadi Presiden Seumur Hidup dan menyarankan agar di depan nama Soekarno ditambahkan nama Muhammad yang ditolak oleh Bung Karno. He.he.he
    • Romo
      Sama Ice cream Rendezvous di Sarinah jaman itu mas Chandra Yusuf...mbak Roro Mendut inget nggak?
    • Romo
      Itu buku di cetak di Belakang istina Merdeka Oppung Poltak Situmorang...kalau nggak salah nama penerbitnya Pustaka Jakarta...
    • Romo
      Masa masih ada sampai sekarang mas Chandra Yusuf?
    • Romo
      Lalu buku itu sudah di cetak hampir 60 x cetakan oppung Poltak Situmorang.
    • Romo
      Wehhh mbak Roro Mendut yang di jalan Vetaran itu..anak-anak mentri yang nongkrong disana weeekkkkkk...sama anak pegangsaan
    • Poltak Situmorang
      Awal reformasi ada orang gila yang tawar Rp. 200jt ngak kulepas...ha.ha.ha. Dulu, Kalau baca buku itu di perpustakaan, pasti dilaporkan ke Laksusda he.he.he
    • Romo
      Bahhhhhhhhh kok jadi kita yang nostalgiaan ya qkqkqkqkqk
    • Mryana Veta
      Tulisan Romo kadi ingat seniorku Romo Mangun.
      Pernah seharian berkeliling Kali Code. Memang luar biasa Romo.
      Saya iseng2 nyeletuk, boleh gak kita menginap sayu malam, kata Fauzi Yhalis. Langsung Romo beraksi " selama kamu suka kau boleh tidur disini.
      Sala bertiga, bersama aktivis lingkungan dapat prodeo.satu dan dapat sabu novel.baru beliau,
      " burung mansur."langsung ditandatangani pengarangnya.
      Setiap ke Jogja, kami selalu menyempatkan diri
    • Romo
      Iya kangmas Mryana Veta....almarhum Romo Mangun adalah guru dan lawan berdebat kalau kami nongkrong di gubuk bambu bawah jembatan soedirman jln solo kangmas.
    • Romo
      Yang di Cikini sudah lama hilang..dah jadi bangunan berlantai-lantai....🙂 Yang di jln Veteran Ice cream Ragusa sepertinya masih ya?
    • Romo
      Wahhhhhhhhh...menantang tuhhh...apa lagi kalau masih pake mangkuk porselin...
    • Romo
      Kira-kira di jakarta masih ada es ganefo nggak? oleh Orba kan disuruh pabrikannya menggati nama qkqkqkqkqkqk
    • Romo
      Oppung buku cetakan stencilan itu masih ada ya? Hayooo kita pamerin yukkkk
    • Romo
      Masih inget tuhh thn 70-an ORBA minta ganti nama qkqkqkqkqk...es itu mirip es lilin...tapi bentuknya kotak persegi panjang...
    • Mryana Veta
      Ralat:_tertulis " burung2 mansyur seharusnya" Burung2 Manyar "
    • Romo
      Seru kalau bicara soal makanan masa remaj kita ya qkqkqkqk
    • Romo
      Kangmas Mryana Veta...untuk novel Burung-burung Manyar Romo Mangun, sudah naik cetak 24 kali, yang terakhir di cetak dalam bahasa ingris, belanda dan jepang.
    • Romo
      Jaman itu taman di Monas, persegi lima hanya ada rumput dan pager pendek, kambingnya orang-orang belakang gereja immanuel merumput di sana qkqkqkqkqk
    • Mryana Veta
      Betu2 Pak Chandra, sebuah heroisme yang menjadi hiburan getir
    • Romo
      Di lanjut dulu duhai kerabatku...saya ada tamu....rahayu..rahayu.
    • Poltak Situmorang
      Matursuwun Bu Roro Mendut, Pak Chandra Yusuf dan Pak Mryana Veta.
    • Mryana Veta
      Ini b÷lum ngomongin inti tulisan Romo Ro Wi Ma.
  • Romo
    Mbak Roro Mendut dan juga Oppung Poltak Situmorang...kaum proletar biasanya selalu jadi korban kaum ningrat sepanjang sejarah negeri ini. Tetapi kemudian baik kaum ningrat dan proletar di 'damai'kan oleh Pendidikan dan di satukan oleh perjuangan phisik di jaman revolusi phisik dulu.
    Yang jadi soal kemudian adalah mental spiritual kebangsaan menjadi luntur ketika bangsa dan negeri ini di arahkan pada pola pikir 'struktural' dengan muara keseragaman.
    Ketika pola pikir terstruktur seperti itu, maka mereka yang tidak mengikutinya dianggap sebagai kaum kiri atau kaum kanan.
    Padahal, berfikir buak soal struktur tetapi soal kebebasan
    2
    • Romo
      Leiden University di Belanda adalah salah satu universitas yang masih mempertahankan tradisi dan system perkuliahan dengan membatasi mahasiswa yang masuk. Bahkan gedung-gedung tua masih sangat di pertahankan...antara profesor dan Mahasiswa tak jelas dalam kehidupan di luar kelas...semua sejajar, termasuk di kantin...saya pernah magang di sana meski hanya satu semester mbak Roro Mendut.
      Tapi kita di Indonesia, terlihat jarak seperti itu...para dosen, guru besar tidak aktif menyapa mahasiswa.
  • Romo
    Kangmas Mryana Veta....cerpen-cerpen seperti itu untuk zaman sekarang 'bukan' lagi sebagai kampanye kebangsaan terlebih semangat perjuangan, melainkan sebagai kritik sosial terhadap sikap dan cara kita di masa kini melihat dan mengelola bangsa dan negara ini.
    2
  • Romo
    Bunda Ninik Noor Hidayatun....suatu kebanggaan dapat berkenalan dengan bunda.
    Saya pernah mengikuti Napak Tilas route yang di jalani oleh Jendral Besar Soedirman ketika saya masih kuliah dan di bangku sekolah 40-an tahun lalu.
    Ketika itu terasa sekali semangat dan penderitaan para pejuang itu membela kemerdekaan, meski hanya mengikuti Napak Tilas Jendral Besar Soedirman. Dapat saya bayangkan, bagaimana rombongan Soerdirman ketika itu berpindah pindah lokasi perjuangan karena selalu di kejar-kejar tentara Nica Belanda yang ingin menangkap beliau.
    Salam dan doa rahayu.
    2
  • Mryana Veta
    Banyak pahlawan2 sekelas. Supriadi, Mayor Oking, usman, Samadikun, sekarang ini,
    tapi mereka tidakmemanggul bedil
  • Romo
    Kangmas Mryana Veta, ini saya cp Puisi yang saya buat pertengahan tahun 80-an waktu masih di Yogya, masih bicara soal Pahlawan.
    CATATAN BEDJO KALI CODE
    By. ROBERTH WILLIAM MAARTHIN
    Yaa..anaku. Ketika muda kami
    Terjajah imperialis
    Lalu ku panggul tombak
    Kusandang Kariben dan mortir
    Ku hunus keris
    Darah imperialis berceceran
    Tunggang langgang. Merdeka!
    Ya Anaku! Itu dulu!
    Aku di puja, Di buat sejarah. Sumber ilmu.
    Dipelajari di SD, SMP sampai sekolah tinggi
    Semua bangga!
    Tapi sekarang anakku!
    Sesal diri tak habis
    Semua tak berarti lagi
    Tiada mimpi jadi nyata
    Yang kutuai pahit
    yang kulihat duka.
    Aku tertipu!
    Kawan-kawanku berkalang tanah
    bermandi darah di Tugoe, di lempuyangan
    di alun-alun, malioboro, jembatan solo
    yang menimbun di kali code. Tertipu!
    Nyata perjuangan itu bukan untuk rakyat
    bukan bagi negeriku
    Bukan bagi bunda pertiwi
    Kini kusesali
    Kenapa pelor belanda hanya menyisakan bekas luka dipunggung
    Mengapa tidak menembus dada atau meremukkan jatungku!
    Supaya tak kudapati, Anak-anak negeri memuja mimpi
    Agar tak kulihat sikaya memainkan hidup orang banyak.
    atau si kuasa mengacungkan telunjuk memusnakan dusun
    melenyapkan desa atau si imperialis kembali membenam tongkat membangun tembok-tembok pembunuh mendirikan roda-roda menggilas
    Oooh anakku!
    Tak tertahankan air mata jatuh
    Dulu pantang terjadi di perjuangan!
    Kini, ia mengalir, deras!
    Mungkin karena itu yang tersisa
    Hanya ini yang mampu kuberikan.
    Anakku
    Skarang tak sanggup aku baca koran
    Tak mampu melihat TV
    Aku takut
    Aku gentar
    Sebab semua bercerita tentang Penjajahan
    Semua memutar perbudakan
    Ibumu
    Ibu kita
    Bunda pertiwi
    Skarang bukan Indonesia
    yang dulu ku bela
    yang dulu merenggut sobat-sobatku
    yang dulu.
    3
  • Elisander Hia
    Kita terenyuh, seakan kita sedang berada di lokasi dimana pak tua mengenang teman seperjuangan dengan hati yang pedih. Romo Ro Wi Ma luar biasa, mampu menggiring perasaan pembacanya.
    Keterangan foto tidak tersedia.
  • Mryana Veta
    Urakan saya belum selesai tentang cerpen, novel, dan film2 perjuangan, tiba di cut hampir 3/4 isi balam. Kemudian fb ganti dengan seleranya sendiri.
    Ini bukan jamannya lagi membungkam pendapat.orang. itu jaman orde baru, bung.
  • Romo
    Amaq Elisander Hia....terimakasih sudah mampir. Salam dan doa rahayu. Yaovuuuu
  • Romo
    Pagi Kangmas Mryana Veta....qkqkqkqkkq...yang mana mas? Kalau masih ada orang seperti itu, mustinya dia sudah gugur bersamaan dengan reformasi 97/98.




RWM.BOONG BETHONY