20/02/23

Jakarta dan Haiku

Jakarta VI

Tak ada waktu lowong, roda besi menggelinding mengejar penawar dari jendela bertingkat hingga di balik layar. Tak ada suara sayup, ribut antara putaran pembeli dan pedagang. Bahkan secangkir kopi pun tak sempat dingin apalagi sungai yang kehilangan hening, mau cari apa? Tak jelas antara bangkai dan mayat, tak kentara patung dan manusia. Semua bernilai di saat jatuh semurahnya.
Jalan tak pernah sepi, mall dan supermarket punya cerita, bandar tak sunyi, sandal dan sepatu hilir mudik
topeng - topeng datang pergi pergi datang. Kain dan plastik bahkan ransel berlomba pulang dan berangkat, tak ada perhentian selain perjalanan.
Kotak tembok melalar kesamping, kebawah, keatas dan memanjang entah bila kan henti.
Di Jakarta semua kisah ialah cerita dan seluruh cerita adalah kisah, tentang kardus, tentang salon, tentang senayan, tentang istora, tentang istana, tentang sungai jadi selokan dan selokan berubah sungai, tentang kaum puritan melawan demonstran, tentang ketunggalan menantang kebhinekaan, tentang kaum beriman berhadapan mereka yang kafir, tentang kelompok feodal versus pro demokrasi, tentang melawan Tuhan.
Tapi roda besi terus menggelinding, menggilas yang lengah, menggiling yang lalai, persis seperti yang kau katakan beberapa tahun lalu. "kalau nuranimu kuat jangan kejakarta" itu nasehatmu bukan?
Jangan jadi apa-apa jika tak berani seperti si rajatega
Jangan, sebab di sini, di jakarta, semua bisa jadi siapa dan siapa jadi bisa tak perduli nafasmu anyir atau bau bangkai, tak perduli tubuhmu membusuk pelahan
tak perduli otakmu tak waras
tak perduli kau gadai jiwamu
tak perduli kau percaya kuasa Tuhan
tak perduli kau penjaja tubuh
tap persuli kau guy
tak perduli kau waria
tak perduli kau bisek
tak perduli kau siapa
asal pintar bersandiwara
asal cerdik berpura - pura
asal pandai bermain
Dan roda besi akan terus menggelinding, berputar - putar, bermain hidup yang tak bernyali.
(Pasar Minggu, medio Feb'019) ------------------------------------------------

Rumah Rawat

Lorong dan pintu-pintu
Dingin
Sejuk pun tak
Dingin
Bukan pilihan
Ya
Bukan
Lorong dan jendela-jendela
Tangis juga harapan
Sejuk pun tidak
Dingin
Bukan pilihan
Ya
Bukan.
Roda dan kereta
Ranjang pun keranda
Sejuk pun tidak
Dingin
Bukan pilihan
Ya
Bukan
(Cilandak'18)
----------------------------------------

Beberapa haiku

1.
Dikeremangan
Perempuan bersolek
Menghias bintang 2.
Kota Jakarta
Tembok pongah beroda
Menggilas waktu 3.
Sudut waringin
Hujan menyebar haiku
Riang gembira 4.
Di atas langit
Angin senja yang sepoi
Rendevouz hati ------------------------------

Duka.

ialah kelahiran dan kematian
ialah kehidupan
bukan kematian
tidak pula kelahiran
menangislah kekasih saat menjalani hidupmu
tangisi kegagalan mencintai
tangisi ketika kehilanagan kasih, kehilangan sayang
bukan! bukan kematain yang harus menetes air mata
bukan! bukan kelahiran air matamu
bukan! bukan pernikahan kau menangis
tapi hidup! hidupmu
sungguh! sungguh perih saat kau kehilangan cinta di hati, di rasa, di jiwa, di pikir
sungguh! sungguh menyakiti ketika kehilangan kasih sayang
sungguh! sungguh saat itu butuh air mata
duhai kekasih, kekasihku
kematian tidak menyakitimu
kehidupan yang menyayatmu
kehidupan yang mengirismu
duhai kekasih, kekasihku
raihlah cintamu
gapai kasihmu
peluk sayangmu
penuhi hidupmu
karena itu yang kau bawa pergi
inilah kata mesra pengharapan
selain itu tak
duhai kekasih, kekasihku
Kekasih nun Abadi.
(catatan kecil dari ceceran ilmu, kupunguti) ---------------------------------
Ket Foto : TollJor suatu sore. 2019.



RWM.BOONG BETHONY