21/08/22

beberapa sajak

Di balikpapan

Fosil yang tertidur
Tercium kemana mana
Sewangi elokmu tubuhmu
Goerge, Udin, Tono, mengais bersama
Sampai kapan?


Doa Gimin dan Inah.

Pakne, hari ini kita untung besar
Lihatlah tumpukan kemasan plastik itu.
Sampah bagi mereka rejeki kita.
Iya bu, syukur pada Allah.
Tumpukan sampah itu.
Menghidupi kita hari ini, esok dan lusa.
Mungkin kita musti berdoa agar tiap hari ada demonstrasi ya bu.
Seperti Hari ini.
Ya pakne.
Tadi polisi-polisi itu mengejar, menendang, menggebuk dan kita yang beruntung.
Tapi apakah halal Pakne. Kemasan plastik itu berdarah-darah.
Soal darah, kemarahan dan gebuk-gebukan itu, jangan ditanya bune.
Yang penting hari ini kita bisa makan dan Giyo anak kita bisa dapat baju baru.
Nanti kita mampir beli di pasar loak untuk Giyo.
Tapi kasihan Pakne.
Banyak demonstran yang luka dan diangkut ambulan.
Sebagian lagi dimuat di truck Polisi.
Bune, bune.
Mbok mikir sederhana saja.
Ini loh, plastik-plastik ini muat ke gerobak. hari makin larut.
Berdoa saja, agar negara ini tetap aman dan kita merdeka mengais sampah dimana saja.
Iyo Pakne.
Doa mereka melebihi doa yang suka formalis.
(Gambir, barusan saja)

Jakarta dalam beberapa kalimat.


Dulu
Jayakarta menarik Pinisi mengarung samudra ingin jumpamu
Memanggil hilir mudik biduk, mengambang hulu hilir besi-besi
Kereta dan pedati mengayun cambuk menyahuti dar dir dor
dan kini
sapa saja rindu
ingin meraba tubuh elokmu sepanjang masa
dan ranum buah dadamu menggoda segala arah
patah arang silih ganti
engkau itu Jakarta.
tumpang tindih untung dan malang
hanya engkau.
(gambir medio Agustus 2014)




RWM.BOONG BETHONY

19/08/22

Cas Cis Cus

Sajak tentang Cas Cis Cus.
Suatu kali Isa Almasih bicara depan banyak orang. Ia bercerita soal Sesama Manusia!
Di suatu kampung....Isa Almasih memulai ceritanya.
Ada seorang yang sedang bepergian keluar kampungnya tetapi di tengah jalan ia di rampok dan di aniaya. Para perampok sesudah mengambil semua barang bawaannya dan memukulinya, ia di biarkan tergeletak menderita di pinggir jalan.
Isa Almasih kemudian memandang orang banyak dihadapannya sebelum melanjutkan ceritanya.
Tak lama kemudian....lanjut Isa Almasih. Seorang Tokoh Agama lewat di jalan itu bersama rombongan.. Tapi si Tokoh hanya menengok lalu terus berlalu.
Beberapa saat kemudian seorang cerdikcendikiawan lewat juga di tempat kejadian. Ia hanya melihat orang yang di rampok itu dan merasa kasihan. Tapi ia tak melakukan apapun. Hanya merasa kasihan dan melanjutkan perjalanan. Jelas Isa Almasih lalu meneguk segelas air.
Sesaat kemudian...sambungnya.
Seorang lelaki dari kampung sebelah, kampung yang salama itu dianggap musuh oleh orang-orang di kampung asal si korban.
Melihat ada yang tergeletak dan terengah-engah di jalan sepi, lelaki itu menghampiri. Kemudian, ia menolong si korban dan membawanya kerumah perawatan. Dan orang dari kampung sebelah itu merawat si korban sampai ia sembuh.
Isa Almasih diam sejenak dan kembali menatap semua orang di hadapannya.
Menurut kalian, siapakah sesama manusia? Tanya Isa Almasih kepada orang banyak itu.
Tokoh Agama, Cerdikcendikiawan dan kedua orang kampung itu! Teriak seseorang dari kerumunan.
Apa kata TUHAN tentang sesama manusia? Sambung Isa Almasih.
Orang banyak itu, riuh rendah.
Hanya Cas Cis Cus yang terdengar.
Berbisik satu sama lain Cus Cas Cis
Hanya Cis Cus Cas
Banyak orang itu tahu, bahwa masing-masing miskin berbuat dan hanya kaya teori.
Mereka paham tetapi tak melakukannya.
Sebab itu Cus Cas Cis
Kasihilah sesamamu manusia bahkan mereka yang membencimu. Sambung Isa Almasih melanjutkan perjalanannya sebelum orang banyak itu ber Cas Cis Cus.
Salam dan doa rahayu.
(tepian mahakam, medio Agustus 2016)



RWM.BOONG BETHONY