11/12/21

Sajak-sajak untuk Bunda.

5 tahun lalu...

Perempuan perkasa yang berbetis indah dan perkasa itu pergi.
Ketika aku rindu padanya, aku cukup melihat semua adek-adekku.
Seyummu, raut wajahmu, rupamu ada pada mereka.
Maka kasihku tercurah pada mereka.
Begitu aku mengasihimu bunda.
Mengenangmu adalah kegembiraan duhai bunda perempuan perkasa
Mengingat-ingat seluruh cintamu pada kami adalah kebanggaan tak akan usai duhai bunda perempuan perkasa dari kaki gunung kambuna.

sajak untuk Bunda I

Makasar, kisah bunda yang tak pernah usai, cerita masa kecil, sungai, dangau, pematang, merah buah kopi dan ladang diujung desa, tersenyum engkau menutur.
Di Makassar, wajah manismu tak hilang diantara rintih menahan rasa sesaat bening bola mata meninggi dan tubuhmu tergoncang hebat, hempasan penghabisan
kutatap raut manis, guratan dan garis lekuk kaku menandai perjalananmu, hidupmu, perjuanganmu.
Kini, kukenang engkau dalam secupled puisi, seperti puisi yang dulu kau ajar, yang dulu kau tanam dalam hati.
Kau tempa, kau bentuk, kau pilin, kau cinta, kau sayang, kau jaga, dan kau tahu saatnya melepasku meski bertaruh hidup sebab kau seorang petarung tak kenal takut
Di sini, di sudut jakarta, puisi adalah doa untukmu.
(medio desember 2018)

Sajak untuk Bunda II

Engkau pergi
Tapi tak pernah kemana
Engkau di hati, di mata, di langkah kami bahkan dalam pikiran kami.
Puisi ini aku tulis juga karena engkau
Duhai kekasih
Kekasihku
Engkau pergi
Tapi tak pernah kemana
Sebab Engkau adalah aku
Dan Engkau pergi kedalam aku
Dari cintaku, dari kasihku
Padamu aku belajar mencinta
Darimu aku menyimak kasih
Ketika, Engkau menutup mata dan menghembus nafas penghabisan
Senyummu ada di senyumku
Nafasmu dalam nafasku
Tak ada lain, hanya engkau
Bunda kekasih
Bunda cinta, cintaku
Dan cintamu itu kekasih
Melalar entah bila kan henti
Berlipat - lipat, berganda - ganda
Engkau, aku dan anak-anak anakmu
dan cucu anakmu
Ach kekasih
Oh kekasih
Engkau pergi tapi tak pernah kemana.
Kau ada disini, dalam aku.
(mengenang, kekasih dan cintaku, Bunda)


Bunda III

Engkaulah Yang tersalib merenggang nyawa
Melahirkanku
Engkaulah Tuhanku.
Bidadari berselendang bianglala.
Selamat Jalan Bunda.

Cerita pendek Ibu.

Suatu sore, di Yogyakarta, aku lupa persisnya hari apa, tapi aku ingat bulan itu, November 2012.
Ibu tiba-tiba muncul di pintu pagar, sambil menenteng beberapa bungkus kopi tumbuk yang dibawanya langsung dari kampung kami pedalaman Sulsel.
Ibu memeluk sambil mengusap-usap kepalaku dan berbisik "Ibu rindu dan bahagia menjumpaimu disini"
Aku hanya memeluknya erat. 10 tahun, tak pernah kulakukan pelukan dan menerima pelukan seperti itu.
"Terimakasih, bunda sudah datang"
"Bunda merindukanmu nak, makanya jauh-jauh bunda kemari"
"Trimakasih bunda"
Aku cium kening beliau, pipi kira dan kanan, lalu kembali memeluknya. Lebih erat dari yang pertama.
Tapi itu kejadian 6 tahun lalu.
Tiga tahun sesudah itu, bunda pulang ke negeri baka.
Cintanya, kasih sayangnya, hatinya, jiwanya bahkan tubuhnya, ada dalam diriku dan adek-adekku.

Engkau nyanyian abadi

Ibu, kalau aku menulis puisi, engkaulah itu
Perempuan cantik, gemulai dan pintar membesarkan anak
Engkau cerdas bermain waktu bahkan ketika kau tak lagi berdua menghadapi bengal dan rajukan anakmu
Hangat tubuhmu mengusir malam panjang ketika tangislapar dan haus mengusik lelapmu, bangun tersenyum, kau beri jiwamu, kau taruh cintamu disini dalam hidupku
Tak ada hidup indah selain kehidupanmu ibu
Ibu, kalau aku bernyanyi, engkau kidung merdu
Perempuan elok, jelita dan tangguh membimbing anak-anak
Pandai menyimpan marah, seperti sejuk air terjun tercurah ke lembah, menghidupi, menyuburkan sekalipun engkau seorang diri
Pesona senyummu meleburkan pemberontakan dan khianat meski hatimu luluh lantak, kau beri rasa, kau letakkan cintamu di sini dalam hatiku
Tak ada kisah sehebat ceritamu
Ibu, kalau aku menulis cerpen, engkau cerpen itu
Perempuan rupawan, lincah dan perkasa melindungi anak-anak
Engkau sabar dan sanggup hadapi semua yang menantang hidupmu, bahkan di saat kau butuh bantuan, berdiri di depan melindungi anak-anakmu meski borok, luka nanah merajam tubuh, sayangmu lebih besar dari itu.
Tak ada epos, seagung dirimu
Ibu, engkaulah itu
Tuhanku.
Kasih nan subur
Yang setia berdoa
Untuk anakmu
Bunda engkaulah
Pohon pinus di lembah
Teduh dan sejuk
Memberkati anakmu
Sampai tutup mata




RWM.BOONG BETHONY

10/11/21

Luka

Sajak tentang Luka VII.

Dibilik, seukuran 3 x 4 meter itu, seorang perempuan paruh baya asyik merenda hidupnya.
Ia merasa itu tempat terindah, teraman.
Di dalam sana ia berkelana kemana saja, mengembara di mana saja, menemui sahabat-sahabatnya, berjumpa dengan kekasihnya.
Ia nyaman dengan layar persegi itu.
Ia tertawa, menangis, mencurahkan isi hati, bercakap-cakap, membicarakan apa saja.
Ia dapat mengatur dengan siapa ingin bertemu, seperti inginnya, tanpa paksaan pihak mana pun.
Ia bebas, tak butuh berdandan, bersolek, apa lagi bosa basi.
Ia tak perduli sekeliling.
Ia menemukan hidupnya di sana dan lupa siapa ia sesungguh.
Lupa, ada orang disisinya.
Lupa yang nyata.
Lupa, yang realita.
Lupa, ia sendiri.
Lupa, yang diseberang sana, orang-orang yang dianggapnya sahabat, karibnya, kekasihnya, cintanya, hanya ada di dalam kotak persegi itu
Diingkari semua.
Diingkari, marahnya.
Diingkari, bencinya.
Diingkari, perasaannya.
Diingkari, cintanya.
Diingkari, dirinya.
Diingkari, rasa sakitnya.
Bahkan, diingkari dirinya sendiri
Empat purnama lalu, Ia membuang kunci hati, satu-satunya yang masih dia miliki sebagai perempuan paruh baya.
Ia campakkan.
Ia tenggelamkan.
Ia hancurkan.
Ia kubur di dalam kolam agar tak seorang pun menemukan.
Ia asing dengan dunia yang membesarkannya.
Ia asing dengan perasaan sendiri.
Ia asing terhadap diri sendiri.
Ia asing pada cinta yang datang
Ia asing dengan perasaan yang menghampiri
Ia asing terhadap sentuhan hati
Bahkan ia tak lagi mengerti siapa dirinya.
Bahagianya ada didalam sana, di monitor persegi itu.
Dua chandra kemaren, lelaki baya menghampiri pintu mungil itu dan mengetuknya pelahan.
Ia peluk.
Ia cium
Ia berbisik
Ia katakan, aku menemukan cinta di dalam sana
Ia jumpai kekasihnya di situ
Dan perempuan paruh baya itu, masih disana.
Ia tak mengerti, semakin dalam mengurung diri, makin lebar luka di hati.
Ia tak pernah tahu, ruang seukuran 3x4 itu, penjara jiwanya.
Ia tak pernah paham, monitor persegi itu tak menyentuh hatinya.
Ia tak sadar, luka di tubuh, di jiwanya, di hatinya, bertumbuh melebihi kesanggupannya
Dan lelaki baya itu kini terbang bersama pelangi.
Tak ada lagi luka di hati, di jiwa
Ia tersenyum, melebihi senyum yang pernah ada padanya (Puri Garden Semarang, awal November 2017)

tentang luka V

Perempuan baya itu tak bergeming ketika untuk kesekian kali, android mungilnya berdering. Ia tahu pesan itu dikirim lelaki yang saat ini sedang ia benci. Lelaki yang banyak menyita perhatian bahkan mengaduk-aduk hatinya. Lelaki baya yang menggetarkan rasanya.
Semakin lama ia berdiam, makin dalam lukanya. Kian waktu ia membisu kian menganga borok di hati.
Seperti sore ini, android disampingnya kembali berdering.
Ia tetap membeku.
Tapi lukanya makin bernanah.
Perempuan baya itu tak mengerti bahwa sesungguhnya ia sedang melukai diri sendiri.
Semakin lama ia membisu semakin ia menyiksa diri. (Bandung oktober 2017)

Luka IV

Pada akhirnya memudar
Bahkan bayang pun tak berbentuk
Seperti itulah
Wulan jelita bersarung
Jelita didalam sana
Duhai
Mengingat pun tak
Apa lagi berharap, terlebih mengharap.
Seperti itulah engkau melukai diri, menipu hati
Wahai
Berapa purnama kan kau mamah?
Berapa candra kau butuh?
Agar terbuka dan melihat!
Supaya sadar dan jelas!
Ohoi
Bubur tak lagi nasi
Abu tak lagi arang
Dan garam pun hambar
Kekasihku
Ketika itu air mata sia-sia, sesal tak berarti
Dan hilang sudah panggung untukmu.
(Puri Garden, meski november'17)

Cerpen tentang Luka III.

Seorang temen yang sedang di rawat di rumah sakit karena Cancer ketika saya temui mengeluh begini :
"Romo saat ini yang saya butuh adalah orang-orang yang kurindukan! Hanya itu" mendengar ucapannya itu saya hanya bisa menunduk dan berharap bahwa orang yang dimaksud akan segera datang disampingnya. Sahabat itu kini sudah pergi beberapa hari lalu dan aku masih sempat menggenggam jemarinya. Di saat-saat terakhir ia masih sempat menitip permohonan maaf dan minta saya sampaikan itu. Tapi aku tak sempat bertanya pada siapa harus kunyatakan permohonannya itu. Tadi pagi seorang suster menyodorkan sebuah notes kecil. Dan meminta aku menulis status tentang dia yang sudah pergi itu dengan harapan bahwa orang yang dirindukannya membaca dan memaafkan sahabatku itu.
Sore ini aku tulis pesannya.
Maafkan dia.
(Puri Garden, Semarang) |

Cerita tentang luka II

Tahukah engkau duhai kekasih bahwa pembusukan itu mulai dari kepala turun kehati lalu membusuklah seluruh tubuhmu. Pikiran itu harus dikawal oleh hatimu, oleh batinmu. Jika tidak derita yang engkau tuai.
Sayang duhai sayang, banyak yang tak mau masuk kesana. Ia membiarkan dirinya membusuk secara perlahan karena hidupnya melulu di kendalikan oleh pikirannya. Pikiran yang hanya tahu untung rugi, pikiran yang selalu membawanya memasuki hitung-hitungan belaka.
Oh kekasih, kekasihku, keluarlah dari sana dan segera obati luka-luka yang mulai membusuk di tubuhmu.
Duhai kekasih, kekasihku, tinggalkan dan buanglah luka itu, biarlah hatimu, batinmu, menyembuhkannya.
(Puri Garden Semarang)

Luka I

Tubuh ini lemah dan gampang bernanah, membusuk.
Jangan kuatir akan luka-luka di tubuhku sobat.
Jangan merasa iba sebab itu hanya luka tubuh, luka raga.
Luka yang mudah diobati, gampang disembuhkan.
Kuatirlah pada luka di jiwamu.
Luka di batinmu.
Nanah di hatimu.
Bila luka ditubuh ini membusuk, itu lantaran raga memang petas dan rapuh.
Tapi jiwa yang petas dan rapuh membuatmu merana, menjadikan dirimu pesakitan.
Sebab luka yang sesungguhnya bukan pada tubuh, bukan pada raga tapi dalam batin, di jiwa.
Yah di dalam jiwa
Jangan biarkan ia terluka duhai kekasihku.

"Renungan tentang luka VI"

Lelaki baya itu terbaring lemah, setelah beberapa kali harus menjalani penyinaran di pinggang belakang. Meski berat badannya menurun drastis, tapi wajahnya tetap saja terhias senyum, tampaknya sesuatu di punggung itu tak pernah mengganggunnya, apa lagi menyita perhatiannya.
"kok kamu tenang-tenang saja Rob?" tanya perempuan berambut sepinggang yang datang menjenguknya
"lha..emang harus gimana Nin?"
"kamu...achh..nggak jadi aja" timpal perempuan berambut sepinggang sambil membenahi selimut yang menutup tubuh Roby.
"hm..aku tahu isi hatimu...." Roby berhenti sejenak lalu meraih remot TV dan mengurangi volume suara.
"kamu mau bilang kalau sikapku seperti orang tak sakit, begitu kan?"
Perempuan itu mengangguk lalu duduk di samping ranjang.
"Nin....yang sakit ragaku, tubuhku. Bukan jiwaku, bukan hatiku"
"maksudmu?" Perempuan itu heran.
"yang dilakukan dokter beberapa hari ini kan hanya luka di tubuhku, tubuh yang memang gampang sakit, gampang terluka...tetapi jiwaku, hatiku tidak. Kamu ngerti Nin?" Roby menoleh ke sahabat karibnya itu.
Perempuan yang dipanggil Nin itu hanya menggeleng.
"begini...tubuh kita ini terdiri dari daging, tulang dan air. Daging itu gampang busuk, Tulang juga mudah rapuh, apalagi air, sangat cepat menguap. Nach kebetulan..daging di tubuhku ini sekarang, sedang busuk, jadi para dokter harus mengeluarkan yang busuk itu, mungkin juga bulan depan atau tahun depan, ada tulangku yang rapuh atau justru air yang mengaliri tubuhku akan menguap pelan-pelan. Semua selalu begitu. Termasuk kamu. itulah sebabnya tubuh tidak abadi, tidak langgeng, tidak kekal!"
"maksudmu?"
"maksudku, kalau saat tubuhmu itu ada yang busuk ya jangan mengeluh, karena itu tak membawa perubahan. Tidak memberi dampak apa-apa pada tubuhmu, percuma, justru membuang energi"
"tapi kan terasa sakit Rob"
"sakit? Itu tergantung bagaimana melihat dirimu sendiri. Maksudku, bagaimana kamu dapat menerima keadaan itu sebagai sesuatu yang memang harus terjadi. Menimpa tubuh, mendera tubuh, jadi sesuatu yang natur, alamiah"
"wah..makin bingung aku!"
"pasti kamu sulit mengerti, jika kamu melihat tubuhmu ini sebagai sesuatu yang utama dalam hidupmu"
"lhoohh....semua orang beranggapan bahwa tubuhlah yang paling penting sepanjang hidupnya" protes Nin memotong penjelasan Roby.
"baiklah aku jelaskan pelan-pelan ya, kamu ada waktu kan?"
"hari ini waktuku untukmu" potong Nin lagi
"ok..makasih ya....jadi begini tubuh manusia itu tidak abadi, tidak kekal........"
Kelanjutannya sedang dalam pembedahan penulisnya.

Cerita tentang Luka VIII.

Entah sudah berapa kali lelaki baya itu mengantri di sana. Menunggu panggilan, masuk ruang periksa, ke Lab, dst. Yang jelas ia mulai bosan dengan ritual itu, plus obat-obatan yang harus di la jejalkan ketenggorokan setahun belakangan ini. Perut tambun mengecil serata dada, pipi yang padat bulat kempes mengeriput, langkah tegap jadi tertatih, tak sebanding usianya yang baru awal 50-an.
Ia melambai kearahku, saat aku muncul di ambang pintu perawatan VVIP Mahkota Hospital Malacca.
Senyumnya mengambang, saat kugenggam jemari kirinya yang bebas dari berbagai alat-alat aneh di mataku.
"Romo dengan siapa?" suaranya tenggelam jauh kedalam tenggorokan.
"sendiri, seperti yang kau lihat sobat" aku membalas senyumnya.
"senang Romo datang menjengukku. Romo bagaimana? sehat saja kan?"
Aku mengangguk sambil perhatikan wajah tirus kering tak berdaya itu.
Lelaki baya ini ku kenal sejak beberapa tahun lalu, ketika masih aktif mengajar di Perguruan tinggi Yogyakarta. Saat itu sedang mengikuti KKN Tematik mahasiswa Fakultas Arsitektur dan Desain ke Singaraja. Dalam diskusi Arsitektur Tradisionil lokal Singaradja, ia salah satu nara sumber. Dari situ kami jadi sahabat dan terlibat dalam berbagai kegiatan kebudayaan, khususnya Seni bangun tradisi Indonesia. Seorang arsitek berbakat dan cerdas, karya-karyanya bertebaran di kota-kota besar Indonesia dan juga luar negeri.
"Romo sudah booking hotel?" ia membuyarkan lamunanku.
"Sudah, di The Majestic Malacca Hotel. Nggak jauh dari sini"
"oh syukurlah, tadinya asistenku akan mengurus seluruh kebutuhan Romo selama di Malaka" jelasnya.
"terimakasih Rudi"
ia tersenyum, senyum yang asing di mataku.
"lalu bagaimana operasimu beberapa hari lalu?"
"operasinya berhasil dan bagus Romo, tapi jujur...itu tak banyak menolong. Doakan terus ya"
Mendegar jawabannya, ku tatap ia seksama. Meski baru sewindu mengenalnya, aku tahu, ia lelaki polos dan jujur bahkan karakter itu sering dianggap kasar, terlalu berterus terang, dan sebagian lagi menganggapnya aneh. Tapi begitulah aku mengenal Rudi.
"Romo bukan hanya sahabat tapi terutama pembimbing spiritualku. Aku butuh itu dari Romo" sambungnya lagi.
"aku tahu Rudi, itu sebabnya dikesempatan pertama setelah membaca pesanmu terbang kesini"
"terimakasih Romo" ia meraih jemariku dan kugenggam erat jemari kurus.
"Romo..." ia menatapku.
"ya sobat?"
"beberapa hari ini aku gelisah dan sulit tidur. Dokter sudah memberi obat penenang, tetapi itu tak berarti untuk gelisahku" suaranya bergetar
"aku takut Romo...!"
"Mati?" potongku berterus terang. Begitulah selama ini komunikasi kami.
"bukan! Aku sudah siap untuk itu. Bukankah Romo sering kali mengajarku bahwa kematian itu hal yang wajar. Jadi aku tidak takut Romo" sahutnya pendek, senyumnya melebar, mata yang cekung itu berbinar.
"jadi apa yang kau kuatirkan?"
Ia diam sejenak, lalu menoleh ke asisten pribadinya.
"Tati, tolong ambilkan box yang kamu simpan itu"
Tati, perempuan 40-an, cantik, cekatan dan energik. Perempuan cacat bawaan di ujung telapak kaki kiri. Ia hanya bisa mengenakan sepatu dalam bentuk design khusus. Meskipun demikian ia seorang master alumni Perguruan ternama di Merryland USA. Sudah 15 tahun ia jadi asisten Rudi.
Tati menyodorkan kotak abu-abu, kuraih kotak itu lalu menatap Rudi dengan wajah bertanya.
"aku percaya Romo dapat melakukan semua yang ada di dalam box itu, jika umurku seperti yang di nyatakan dokter" jelasnya menjawab pertanyaanku.
"baiklah. Apakah kau sudah melibatkan pengacaramu tentang isi kotak ini?"
"Sudah, semua tergantung pada Romo"
Aku mengangguk lalu memasukan box itu kedalam ransel.
"nach...sekarang ceritakan apa yang kau kuatirkan?"
Sekali lagi ia menoleh ke Tati dan memintanya keluar ruangan.
"Romo masih ingat perempuan yang aku kenalkan di Pantai Tanjung Aan Lombok beberapa tahun lalu?"
Aku menerawang jauh ke Mataram, pada seorang perempuan penari tradisionil nan gemulai berwajah oval.
"Mirah maksudmu"
Rudi mengangguk.
"ada apa dengannya?"
"maaf aku berdusta padamu. Dia......
Bersambung......
(Medio Oktober 17....)

Catatan tentang luka


Tubuhku boleh sakit, ragaku boleh rapuh.
Tapi hatiku tidak, jiwaku tidak.
Tubuh silahkan kau lukai
Raga silahkan sakiti
Tapi tidak dengan batin
Tidak dengan jiwa
Tetap bergembira
Tetap bahagia.



RWM.BOONG BETHONY

SERI DIALEGTIKA

Dialegtika Bahagia.
Apa itu?
Banyak orang mengeluh bahwa hidupnya tak bahagia, penuh pergulatan bahkan cenderung menderita batin.
Jadi bagaimana agar terbebas dari semua itu?
Sederhana sobat.
Maksudnya?
Bahagia itu ada dalam dirimu.
Dalam diri?
Yah dalam dirimu.
Maksud Romo bagaimana? Masa bahagia itu ada dalam diri?
Yah.
Cerita dong Mo.
Begini, jika kamu sangka bahwa bahagia itu diluar dirimu, maka kamu akan kecewa.
Bahagia ialah anugerah Tuhan yang paling indah dan besar sepanjang hidupmu.
Bahagia itu hanya butuh kau pelihara dan manfaatkan untuk hidupmu dan juga pada orang lain. Bahagia itu bukan materi, bukan benda. Tapi rasa. Rasa yang membuat seluruh sel-sel tubuhmu bergembira. Membuat desiran darahmu bergejolak. Membuat adrenelin tubuhmu tetap sempurna.
Ach Romo bwrbelit-belit nih. Yang gamblang napaaa.
baiklah jika itu maumu sobat. Begini, bahagia itu pengorbanan.
Pengorbanan mo?
Iyaaa, karena bahagia memberi. Yaitu memberi kebahagian pada diri sendiri.
Bingung Mo.
Sebenarnya ketika kau menolong seseorang kau menolong diri sendiri. Saat kau memberi kegembiraan pada keluargamu, kau membuat dirimu bahagia.
Waktu kau luangkan waktu untuk menemani seseorang yang butuh teman, kau membahagiakan dirimu sendiri.
Bahagia bukan mengambil tapi memberi kebaikan pada orang lain.
Jika engkau berfikir bahwa bahagia itu tergantung pada materi, maka siaplah menerima kecewa darinya. Bila kau anggap bahwa uang sanggup membahagiakan dirimu, siaplah menderita karena uang. Kalau kau anggap jabatan dan kekuasaan mampu memberi bahagia bersiaplah terpuruk.
Bahagia tidak pernah membuatmu menderita, bergulat apalagi terpuruk.
Yang membuat manusia menderita, bergulat dan terpuruk, hanya satang dari luar dirimu. Semua yang kau ambil kelak akan mengecewakan dirimu.
Tapi semua hal baik yang kau berikan pada orang lain, pada keluargamu, termasuk pada alam, selalu membuatmu bahagia.
Sampai disini, kau paham sobat?
Salam dan doa Rahayu.
_______________________________________________________
Dialektis.
Seorang teman yang selama ini saya kenal sebagai budayawan, bilang begini.
"Romo, sorga dan neraka itu ada karena agama! Gimana pendapat Romo?"
sambil menatap aku balik bertanya : "lha menurut anda gimana?"
"Saya nggak percaya Sorga apa lagi neraka! Tapi saya percaya bahwa Tuhan itu ada" Jawabnya sambil menghembuskan asap rokok.
"Hm."
"Ya Romo! Masak Tuhan mengiming-imingngi sorga dan neraka supaya percaya dan taat padanya? masak sih Tuhan itu hanya soal Sorga dan Neraka? Emang nggak ada hal lain tentang Tuhan?"
"Hm."
"Lhooo, Romo kok hanya ham-hem aja? aku minta pendapa Romo bukan minta ham-hem saja" Kejarnya serius.
Sebelum menjawab, kuraih rokoknya diatas meja lalu menyulut dan menghisapnya dalam-dalam.
"Tuhan memang bukan soal neraka dan sorga. Kalau Tuhan hanya persoalan itu, maka posisi Tuhan akan sama dengan penguasa yang selalu melihat sesuatu sebagai Hitam - putih. Salah - benar. Sorga jadi putih atau benar, neraka serupa hitam atau salah"
"Hm" dengusnya.
"Tuhan itu tentang manusia, tentang makluk apapun di dunia ini. Dia tentang alam raya yang tak terbatas ini. DIA soal saya dan anda, soal hidup ini. Bukan soal mati seperti sorga atau neraka!"
"Maksud Romo?"
"Ya tentang manusia dengan manusia yang lain. Relasi dalam sejarah hidup manusia, dari masa lalu, sekarang dan mendatang. Tuhan emang bukan soal Neraka dan Sorga. Tapi tentang hidup kita, hidup orang lain. Itulah Tuhan"
"wahhh...saya bingung mendengar penjelasan Romo!" sahutnya cepat.
"hahahahaha....."
"apa yang lucu"
"Lucu karena seorang budayawan sekaliber anda tidak mampu menangkap makna di balik penjelasan itu"
"Tuhan itu adalah Iman! Tanpa itu Tuhan tak ada. Karenanya Tuhan itu sangkut paut dengan kehadiran manusia. Tanpa itu, nothing"
"kalau begitu, Soal Neraka dan Sorga bukan soal Tuhan?"
"Ya betulll"
"itu soal kematian"
"Ya udah Mo...yukkk baca puisi lagi karena ternyata Tuhan ada disitu"
"Ayoooo"
(malioboro, 8 November 2014) ----------------------------------------





RWM.BOONG BETHONY

29/03/21

Yang aku pikir


Renungan pendek : Latah.
Indonesia itu serba multi. Mulai dari warna kulit penduduknya sampai pada keanehan masyarakatnya.
Teringat saat Stunami memporak poranda Aceh, disusul beberapa gempa dahsyat yang merobohkan rumah dan fasiltas umum di berbagai daerah.
Ketika itu hampir semua orang, kalangan tani dan nelayan, pedagang dan pembeli, birokrat dan rakyat jelata, para pakar dan awam, rohaniawan dan umat, tiba-tiba jadi ahli stunami, jadi pakar gempa. Yang lebih parah ialah, penyataan-penyataan kaum ahli agama dari mimbar dan podium-podium yang merasa lebih tahu dari pakar stunami dan gempa yang bertahun-tahun menuntut ilmu sampai keluar negeri. Belum lagi pengutipan ayat-ayat suci untuk meyakinkan umat bahwa kaum agamawan itu lebih tahu, lebih paham, lebih mengerti dan lebih ahli dari pakar yang bergelar profesor pun.
Sekarang, saat virus corona (Covid 19) merebak dan menjalar keseantaro negeri seberang dan masuk Indonesia, yang paling banyak komentarnya, paling seru analisanya bahkan memberi solusi penangkal menghadapi Covid 19 itu adalah mereka yang kita sebut sebagai rohaniawan, agamawan. Jumlah kaum yang tiba-tiba pakar ini, tiba-tiba ahli ini, tak terbilang. Mereka ada dimana-mana, di kampung, desa, kota bahkan megapolitan Jakarta pun disesaki olah kaum tiba-tiba pakar ini, tiba-tiba ahli ini.
Pendapat mereka, opininya, tersuar dari berbagai mimbar, podium bahkan muncul di layar - layar Televisi.
Suaranya, teriakannya, dengungannya mengalahkan kaum pakar, kaum ahli, yang sungguh pakar dan benar ahli.
Akibatnya, terjadi kebingungan, chaos pikir, dan heboh di tengah kalayak.
Agaknya, Indonesia bukan hanya multi etnis, tradisi, bahasa dan agama, tetapi juga multi pendapat pada cara mengobati, menangkal virus Copid 19 akibat kehadiran kaum latah ini.
Berharap anda semua tidak latah mengikuti pendapat, opini kaum latah yang tiba-tiba jadi pakar apa saja, tiba-tiba jadi ahli apa saja.
Salam dan doa Rahayu.
Romo RoWiMa - Pemerhati kebudayaan dan praktisi.


Dialog pagi.
"Mo, Romo.." seorang ibu memanggil saya dari samping disela-sela diskusi reproduksi dan kesehatan.
"ya bu?"
"Romo kan rajin baca buku. Tahu soal implan kan?"
"tahu dikit" jawabku, heran atas pertanyaannya. Belum pernah ada umat atau kawan-kawanku yang bertanya begitu.
"Apa pendapat Romo soal implan?"
"Maksud ibu?"
"Banyak teman arisan masang implan di bagian tertentu tubuh mereka Mo"
"Oh ya? trus.."
"Aku tanya pendapat Romo" tandasnya sambil menatap.
"Hm..gimana ya bu..banyak orang melakukan operasi plastik dan pasang implan pasti punya tujuan bukan?"
"Iya Mo. Teman-teman aku itu, beralasan supaya terlihat seksi dan modis"
"Yah jaman sekarang penampilan luar lagi trendi ya bu. Kalau boleh tahu, bagian tubuh mana saja yang dioperasi teman-teman ibu?"
"Ealahh...Romo malah nanya kek gitu" Ibu ini tersenyum simpul membalas tatapanku.
"Ada di bokong, dada, dan sekitar wajah Romo"
"Wouw...menarik tuhh"
"Iya Mo hihihihi. Jadi apa pendapat Romo?"
"Itu hak setiap orang ya bu. Dan nggak ada larangan untuk itu. Pasang Implan atau operasi plastik hal yang biasa di masa modern ini. Komentar saya tentang operasi plastik dan pemasangan implan ialah Dingin dan kaku"
"Maksud Romo?" cecar si ibu mrnatap tajam kearahku.
"Yaa ibu pikir saja...bokong jadi semok tapi dingin, buah dada jadi besar tapi dingin, wajah mulus dan cantik juga dingin dan kaku...karena darah yang hangat tidak bisa mengalir kesana bukan?"
"Iya sih"
"Nach, mengapa ibu bertanya tentang ini?"
"Anu mooo...." tapi ibu ini tak melanjutkan kalimatnya karena seseorang datang menghampiri dan menyodorkan absensi acara seminar itu dan tiba giliranku untuk bicara sebagai narasumber.
"Mooo kita sambung kapan-kapan ya.."
Aku hanya mengangguk sambil berjalan ke podium.
Selamat pagi sobat-sobat semua.
Salam dan doa Rahayu.

Siapakah yang paling rugi saat seseorang berbohong?
Sudah pasti diri sendiri dan berbahaya pada orang lain.
Sayang bahwa kebohongan, dusta, sering dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya jadi contoh.
Dipanggung teater aktor/artis memerankan orang lain, setidak-tidaknya meniru orang lain atau tokoh dalam naskah melalui arahan sutradara. Itu panggung sandiwara!
Tetapi sungguh berbahaya orang yang memerankan kebohongan dalam dunia nyata. Sebab disamping merugikan diri sendiri, ia membahayakan banyak orang termasuk mengancam keberlangsungan harmoni alam dan manusia.
Anda tidak percaya?
Silahkan teliti, simak, kasus-kasus Korupsi, penyelewengan jabatan, penyalah gunaan wewenang, pembelokan status sebagai figur publik, manipulasi data, menyampaikan kabar dan pemutar balikan fakta, menutupi yang benar, dst.
Hiksss.

Surga dan Neraka? Apa itu!
Surga atau neraka, tak penting selagi aku hidup
Hidupku di sini, di bumi, di dunia
Selagi hidup tak mau surga atau neraka merebutnya terlebih hidup demi surga apa lagi demi neraka
Aku, kau dan bumi ialah kehidupan
Hutan, rawa, lembah, sungai, gunung, desa dan kota ialah realitas.
Tapi surga?
Neraka?
Nanti saat mati.
Siapa mau menukar hidup dengan surga, tak ada. Apalagi neraka.
Sekalipun seorang kiyai, ustad, pendeta atau pastor.
Hidup adalah cinta
Hidup ialah kasih
Dan cinta kasih ada pada hidup
Siapa mencinta surga, silahkan duluan kesana.
Aku di sini saja nikmati hidup
Menikmati cinta
Merasakan kasih
Apa lagi neraka
Jika kelak aku mati, tak peduli apa itu surga apa itu neraka, yang utama saat ini adalah membagi hidup, membagi bahagia, membagi kegembiraan, mencintai, mengasihi
Siapa tak mau hidup, pergi kesurga atau pilih neraka.
Yang asyik saat ini, adalah bicara kehidupan, mempercakap cinta menajamkan kasih
Mengubah benci jadi cinta
Merubah dendam jadi kasih
Jangan dengar petuah tentang surga atau neraka, sebab si petuah tak pernah kesana
Usah peduli petutur surga atau neraka, karena ia tak mengerti apa surga dan apa neraka
Bukankah surga itu cinta kasih?
Bukankah neraka itu kebencian?
Ayo bercakap soal cinta, tentang kasih
itu penting dari sekedar bertengkar tentang surga dan neraka.
Siapa mengasihi sesama mencipta surga
Siapa menyayang sesama menghadirkan surga
Siapa mencinta sesama membawa surga
Tapi neraka adalah adu domba, benci, dengki dan dendam.
Ia merusak surga.
(Jakarta, akhir February 2020)
------------------------------------------

Sajaka Malam-malam sunyi.
Lampu lampu kehilangan cahaya meski menyala
Jalan, selasar, panggung, sepi.
Tak ada suara tawa, tiada perbantahan mutual, bahkan coretan perupa menghilang hanya sesekali terdengar puisi mengalun terbawa angin
Rumah yang dulu riuh, rame dan kreatif jadi kubur, hanya puing-puing tinggal bata-bata berserakan
Gelas, piring, garpu dan sendok tak lagi beradu, gerobak - gerobak beraroma sate, nasi goreng, cilok dan gorengan mengungsi entah kemana.
Duh kekasih, malang nian engkau
Bercumbu mesin penggilas sejarah pemamah narasi - narasi pengulum naratif panggung
Aduh sungguh buruk perjalananmu kekasih gagah tegak tak nampak kecantikan luntur terburai hanyut terbawa arus revitalisasi
teringat Umar Kayam ketika menulis Kunang-kunang di Manhattan tapi engkau lebih sunyi dari itu, bukan sunyi di keramaian tapi engkau sunyi itu.
Dan sesunyi itu berarti mati
Aku tak mau mengirim krans kembang terlebih keranda sebab berarti aku pun mati
Mau aku menumpuk bata-bata berserakan dan menyusun puing yang terserak lalu sekali lagi meminta agar mesin-mesin penggilas zaman itu meruntuhkan tumpukan dan susunan tersisa
Agar semua tahu, sunyi adalah kehidupan
Di sini engkau kekasih di hati, di otak, di kaki, di tangan. Di situ Taman kami ada selamanya.
(TIM, Medio February 2020)

RWM.BOONG BETHONY

Cerita Pendekku

Cerpen I.: Anak-anak
"Anak-anak pada ribut di bawah sana romo..mengganggu diskusi kita" Keluh seorang teman melihat keriuhan di sana.
Lalu saya jawab "Namanya saja anak-anak, ya pasti ribut, kan mereka asyik dengan dunia sendiri"
"Maksud Romo?"
"Emang kamu nggak pernah jadi anak-anak?"
"Lha ya....hehehehehe.."
"Yang mesti kamu herani itu, kalau orang tua kek kamu ini masih suka ribut - ribut seperti anak-anak itu"
"hehehehe....iya romo"
(Medio April'20)
Cerpen II : Modal berharga.
"Mo, Romo! Boleh nanya?" celetuk seorang teman, saat kami sedang duduk-duduk di warung kopi Upnormal Cikini beberapa waktu lalu di awal tahun 2020.
"Boleh sobat! Apa objek tanyamu?"
"Ini agak serius Mo!"
"Sobat...semua hal serius kok. Termasuk ketika kita sedang membanyol dan konyol" sahutku sambil tersenyum.
Sahabat itu hanya menelan ludah mendengar jawabku.
"Iya Mo, paham. Apa sih modal utama kita sebagai manusia Mo? Agar hubungan menjadi baik pada semua orang"
"Hm...pertanyaanmu di luar dugaanku sobat" sahutku sambil mengelus dagu yang ditumbuhi satu, dua jenggo itu.
Ia menggeser kursi agar langsung berhadapan denganku diantarai meja panjang.
Aku menatap wajahnya, cari tahu, seserius apa ia bertanya.
"Rendah hati sobat! Itu modal utama dan pertama" sambungku masih menatap wajah sobatku itu.
"Maksudmu Mo?"
"Rendah hati adalah sikap dan karakter yang menganggap orang lain lebih penting, lebih utama, lebih baik dari diri sendiri!"
"Jelasin sederhana dong Mo" timpal sobatku.
"Hm...."
"Kok hm Romo?" potongnya penasaran.
"begini sobat, dalam bergaul dengan siapapun modal kita hanya kerendahan hati. Bukan uang, bukan jabatan, bukan harta. Bukan juga popularitas, apa lagi karena politik hahahahaha..." Aku menyambar cangkir kopi dari meja dan meneguknya.
"Romo, jelasin lagi dong. Misalnya, seperti apa karakter orang rendah hati itu?"
"Sobatku, mudah saja. Orang rendah hati itu siap direndahkan oleh orang lain.Itu karakter utamanya. Makanya, ia tidak mau membalas perlakuan buruk, ia justru melakukan hal baik pada orang yang membencinya. Kalau boleh saya berumpama, orang rendah hati itu biangnya kebaikan. Sampai di sini kau paham sobat?"
"jelaskan lagi, sekalian aku berguru tentang kerendahan hati pada
Romo
" pintanya lagi.
"Baiklah sobat jika kau butuh itu...." aku tersenyum padanya.
"Saya menganalogikan orang yang rendah hati itu seperti tanah yang kita pijak. Tanah ini menerima apapun yang kita berlakukan padanya. Tidak pernah menolak apalagi membalas kejahatan manusia padanya. Tanah justru terus menerus memberi kehidupan, menumbuhkan kehidupan. Itulah sifat kerendahan hati. Bukan kebetulan bahwa, aku dan anda, adalah bentuk lain dari tanah. Bukankah kita berasal dari tanah dan akan kembali kesana?"
"Iya Romo"
"Persoalannya adalah, apakah kita mau seperti itu? Aku, sobat dan orang lain tahu bahwa kerendahan hati itu penting dan utama. Bahkan agama-agama juga mengajarkan hal yang sama bahwa manusia utama adalah yang memiliki budi pekerti rendah hati. Sebab, orang yang rendah hati, akan menaruh hormat terutama pada TUHAN Sang Pencipta Alam Raya dan pemilik kehidupan kita. Sebaliknya, orang yang sombong tidak akan pernah menaruh hormat pada TUHAN"
"Aduh Romo, bimbing aku jadi rendah hati" wajahnya sendu dan matanya berlinang.
"Sobat, aku juga butuh pengajaran ini dan masih terus bergumul untuk melakukannya. Kita jalani bersama sobat!"
Selamat bermeditasi jelang Paskah'20
Salam dan doa Rahayu.
Cerpen III : Super Hero Versus Super Kadrun

Ketika pertama kali Presiden mengumumkan ada warga negaranya yang terpapar Covid 19, maka yang paling sibuk adalah para medis (dokter dan perawat/Mantri). Mereka sibuk mempersiapkan diri, sibuk mempelajari, sibuk membuat strategi mengenai : Perawatan, Pencegahan, dan bagaimana menjaga diri agar tidak tertular. Yah, mereka itu tenaga medis, para dokter, perawat/mantri dan pekerja di rumah sakit.
Mereka bekerja dalam diam, tapi tangan mereka cekatan, otaknya bekerja cerdas, pengerahan tenaga melebihi kapasitas mereka sendiri, siang malam mereka berada di garda terdepan NKRI untuk merawat, mengobati, mencegah dan memotong penularan Covid 19. Yang pada akhirnya oleh Presiden, dibentuklah Gugus Tugas Penanggulangan Bencana Covid 19 (Corona).
Pengorbanan Paramedis itu tak sanggup kita bayar dengan berapapun!
Sebaliknya di sisi lain negeri ini, ada sebagian orang teriak-teriak mengkritisi segala upaya yang dilakukan oleh paramedis itu, tak kurang pula dari mereka mencela bahkan menghujat pengorbanan paramedis dan kebijakan pemerintah untuk berjuang melawan Covid 19. Yah, mereka itu yang selama ini disebut banyak orang KAUM KADRUN (entah siapa yang pertama kali memakai istilah KADRUN untuk mereka yang suka nyinyir atas nama apa saja itu). Uniknya, orang-orang KADRUN ini ada disemua lapisan masyarakat Indonesia, ada di seluruh wilayah negeri, ada yang PNS, ada anggota Dewan, dengan latar belakang pendidikan yang berbeda dan latar belakang agama. Pekerjaannya, teriak-teriak, riuh dan selalu berkelompok. Teriak di media sosial, FB, IG, Twitter dan Youtube. Asal teriak, asal bunyi, asal ngomong, itu cirikhas orang-orang KADRUN ini.
Sebaliknya, Paramedis adalah Pasukan Khusus yang bekerja dalam senyap demi masyarakat termasuk demi para KADRUN itu.
Ketika artikel kecil ini saya tulis, Hampir 2000 Paramedis terpapar Virus Covid 19 dan ada 7 Komandan yang gugur di medan perang. Itu pun, masih ada para KADRUNS itu mengejek bahkan menghujat komandan-komandan yang gugur di medan perang melawan serbuan virus COVID 19.
Renungan sore dari Pojok Roti Bakar
Yang banyak versus yang sedikit
"Banyak orang kehilangan jiwa meski tubuhnya hidup dan sedikit yang jiwanya hidup meski tubuhnya rapuh"
"Dari mana Romo tahu?" protes teman diskusi disela-sela percakapan menulis beberapa naskah Drama.
"dan bagaimana membedakan yang banyak dan sedikit itu Mo?" sambungnya sambil menghisap kretek.
"Perhatikan saja sekelilingmu sobat"
"Maksud Romo?"
"Perhatikan sekitarmu! Yang hoby maki-maki, gemar menghujat, murah dengki dan iri, gampang berdusta, acap menipu, sering menfitnah, gampang mengambil hak orang lain. Nach mereka yang banyak itu! Sebaliknya, yang suka menolong, rendah hati, pemaaf, mementingkan orang lain, tidak sembarang bicara, berterus terang, spiritual dan bukan ritual, murah hati, mereka itulah yang sedikit"
"Wah sulit mendapat orang seperti itu Romo" protesnya lagi.
"Makanya hanya sedikit brooooo...."
Sahabat saya hanya mengangguk-angguk dan jemariku kembali menari-nari di atas tuts laptop.
Salam dan doa Rahayu.
Romo RoWiMa.

--------------------------------

RWM.BOONG BETHONY