02/06/16

Sajak Laleki Gurun

Sajak lelaki gurun.
By.Romo Ro Wl Ma.

Mentari mengekor kemana jejak di pasir pergi. Tetapi sesering menusuk ubun-ubun. Manis kurma asam ara basahi jubah. Hanya pasir, hanya surya. Detak jam ialah nadi sekali lengah terkubur mandi pasir.
Saat itulah domba mengembik-ngembik berlarian mencari perteduhan semburat tak perduli siapa apa. 
Ini ceritaku bung, teriakmu mengepal tangan menunjuk langit tak biru tak kelabu tak kabur tak jernih tak ada persimpangan tak ada lorong. Semua arah sama, atas bawah kiri kanan belakang depan sama.
Tapi ini kisahku sobat, pekikmu seraya menggenggam diri tatap nyalang menantang surya. Telaga kering sungai kerontang mata air hanya air mata.
Teringat lembah sinai nan hijau royo royo dimana domba-domba berbulu putih larut senda gurau nikmat tetesan embun sejuk dari pucuk daun daun. Semak semak tak pernah menusuk terlebih membakar meski nyalang menyala.
Ini lakonku kawan, jeritmu jengah sambil menunduk melihat bayang menyatu di hamparan pasir, detik waktu ialah degup jantung teledor sedikit terpendam mandi pasir. Tetapi domba domba beria ria merasai sejuk air yordan sikut menyikut tendang menendang cakar mencakar garuk menggaruk hajar menghajar plak pluk plok plik plek.
Ini tuturanku sahabat, lembut engkau duduk diatas batu padas keriput dan lekuk wajah banyak menggurat laku padang gurun dan domba. Itulah saat penghabisan engkau duduk disana. Kelembutan rerumput lembah Moab menyatu denganmu, menyuburkan kurma, ara, zaitun, anggur dan gandum. Bukankah tiap manusia adalah rabuk Tuhan.

(sebuah catatan tentang Musa)
Sajak tentang Jakarta.
1. Mpok Enti
bergelut lawan malam
bermain sarung
tapi itu dulu, katanya
kubuang ia ganti mantel bulu
tapi tetap lawan malam
karena malam jadikan mpok apa saja
ya dipinggir kali, rumah harum, gedong tingkat
tak lagi apek aroma keringat
itu beberapa tahun lalu
sarung hangati melawan malam
lantaran hanya itu
kemaren ia bikin cerita
tidur bawah pohon asam ciliwung
Enti tak pernah bangun
tak pernah lawan malam
perginya menitik airmata sejuta mpok Enti
sebab ia ajar semua perempuan melawan malam
dan menitis pada sapa saja.
ya di rumah kardus, ya dirumah harum, gedong bertingkat
Mpok Enti tak pernah enti.
____________________________________
2. Jakarta.
Perahu tiga tiang jadi kisah usangmu
dulu tak jelas antara mesiu, gaharu dan candu menyerap siapa saja
mengencani
Mener, tokeh dan entong berebut molekmu
sepanjang abad
dan semua jadi cerita yang tak usang
dulu diantara peron dan gedung tua
mentari kelabu seperti derek berkarat menarikmu
cerita apa saja pintamu
celoteh kaki telanjang, sarung kumal, usang asing
harapan urban ceritamu
kali malang selalu malang, ciliwung pasti larung
tak bening persis
kini diantara peron dan gedung tua
kisah derek tua berkaratmu
dan kaki telanjang, sarung kumal, usang asing
tetap saja jadi ceritamu
entah bila henti.
keretamu merah jelaga tak lagi ada ringkikan terlebih taktiktuktak
mesiu, gaharu dan candu jadi pelatuk
untuk siapa saja.
seperti yang kau pinta
masih seperti itu
harapan urban
kali malang kian malang, ciliwung larut keruh
tak beri hidup
hidup tak.
Dari catatan di pojok Gambir 2015 lalu.
--------------------------------------------------------------------------------


3. Lelaki lembah Gangga.

Dia bilang
Segala mahkluk adalah cinta kasih
Metta ialah jalan
Karuna adalah persembahan dan
Dharma ialah hidup.
Waisak, tiga suci cinta kasih.
Dan cinta kasih adalah Tuhan.

RWM
(awal Juni, pojok pasar baru - jakarta)
Puisi kupersembahkan kepada saudara, kerabat dan Handai taulanku Budha di Indonesia.
RWM.BOONG BETHONY

23/05/16

Garong

Negeri ini Negara korup.
Oleh : RW. Maarthin.
Ketika korup jadi model negeri ini, apapun itu
Ketika korupsi melahirkan peradaban maka Tuhan menjelma roda-roda
diputar kemana mau
Ketika korupsi jadi program Kabinet maka rakyat adalah penyakit perusak pemandangan
Ketika Korup jadi idiologi, perempuan dan lelaki kaca ada dimana saja
Ketika korup jadi pengajaran maka negeri ini negeri para garong
Ketika korupsi jadi bahan ujian kelulusan, guru dan murid saling mengencingi
Ketika dan ketika.
Ketika seminar di depertemen apapun dalam negeri para garong ini kita belajar bagaimana korupsi sistemik, kita praktek bagaimana struktur korupsi
Ketika perguruan tinggi mengharu biru moral, karakter dan spiritual, sesungguhnya hanya berdengung pada tembok dinding pongah
Ketika mimbar rumah ibadah teriak, dosa, haram korupsi, karena mereka belum rasai nikmatnya jadi koruptor.
Ketika kitab-kitab, buku-buku suci bercerita Rahmat Tuhan, mereka teriak dijual brapa
Ketika pertemuan atas nama kebudayaan sesungguhnya belajar bagaimana peradapan korup
Lihat pesta pora mereka ketika saling memuji
Lihat mereka ketika berlomba merayu sambil berkipas lembaran rupiah
Lihat rumah-rumah ketika mereka sulap jadi gedung bertingkat tempat menyimpan
Lihat istri dan lelaki simpanan ketika mereka tak tahu akan kemana hasil korupsi
Lihat dan lihat
Ketika dan ketika
Lihat dan lihat.
(RWM....Pojok UKDW 23 Mei 2014)



RWM.BOONG BETHONY

30/04/16

Sajak Tentang Tuhan

Sajak hari ini tentang TUHAN.
Romo Ro Wl Ma.

Meretas yang lalu mengunduh akan datang. Semua dari tiada jadi ada kemudian tiada. Lalu mengapa musti kehilangan, kenapa harus memiliki? Cukup waktu yang punya, biar zaman miliki. Manusia adalah detik sekali berdentang lalu lenyap. Jangan cakap menit. Bukan punya, tidak milik. Terlebih bicara jam atau hari! Langit luar langit dalam sama. Bentang dari bentang. Mati atau hidup sama, rentang dari rentang. Hanya TUHAN.
Apa iman itu, apa itu agama. Asal sumber kembali ke sumber, TUHAN ialah sumber.
Mengapa sombong? mengapa tinggi hati? mengapa menimbang yang lain. Tidak, siapapun tidak berarti, tiada makna, tak berisi. Semua kosong, seluruh hampa.
Lihatlah, pohon mengering, tunas tumbuh. Rumput layu, umbi berkembang. Laut surut samudra sarat, hujan turun awan berarak. Tapi manusia? hanya di lahirkan lalu mati. Tak ada cerita, tiada kisah, ia dilupakan. Hanya TUHAN ya! Hanya TUHAN.
Tak lain, tiada lain, tidak lain.
Dari kata dari kalimat dari cerita. Berujung di kata, berakhir pada kalimat. Sampai di cerita. Hanya itu, itu hanya. 
Sungguh TUHAN tak pernah kemana, Tak pernah memiliki rumah, tak pernah memilih persinggahan sebab Dia batin tiap manusia.

Pondok Palem, Limau Samarinda.
Rhyme today about the Lord.
Romo Wl Ro Ma.

Then download a hack that will come. All of the dead so there and then gone. Then why must lose, why should you have? Enough time has, though the times have. Man is a tolled seconds and then vanished. Do not proficient minutes. Not have, does not belong. Especially talking hours or days! Outside the sky in the same sky. The landscape of the landscape. Dead or living together, the range of the span. Only God.
What is faith, what religion is. Originally the source back to the source, the Lord is the source.
Why arrogant? why haughty? why weigh another. No, whoever does not mean, no meaning, no lists. All is empty, all empty.
Look, the tree dries out, shoots grow. The grass withers, the developing tubers. Laden ocean sea receded, raining clouds. But humans? just be born and die. There are no stories, no story, he was forgotten. Only Lord yes! Only God.
Nothing else, nothing else, nothing else.
From the words of the sentence of the story. Culminate in a word, ending the sentence. Got a story. That's it, it's just.
It's where the Lord never, never have a house, never choose a stopover because then every human mind.

Palem cottage, Lemons Samarinda.








Diantara desau angin kerinduan halaman.
by. Roberth William Maarthin



Dalam kepenatan malam Yogjakarta, hari-hari berlalu tanpa kata tanpa bunyi. 
Menanti. 

Menunggu.
Dalam pulas asa.
teringat nyanyian sunyi padang-padang Seko
ketika lenguhan rusa menggesek ilalang mengubah hidup
angin menggambar rerumput karpet kekuningan
sungai jernih berkaca mentari
berapa lama engkau bertahan
berapa jauh engjau berjalan
berapa banyak anak negeri pulang


Dalam kepenatan malam Yogjakarta, hari-hari berlalu tanpa bunyi.
Menanti.
Menunggu.
Dalam nyenyak harap
teringat senandung ladang-ladang Seko
saat lenguhan kerbau moleling mengubah keringat jadi padi
angin melukis sawah jadi karpet kuning
gemercik air meliuk-liuk
sejauh mana engkau tegar
sejauh apa engkau menapak
sejauh jarak anak negeri kembali.


Dalam kepenatan malam Yogjakarta, hari-hari berlalu tanpa bunyi
Menanti.
Menunggu.
Teringat kidung pujaan bagimu
Engkau kucintalah seumur hidup
irama betue, malimongan baba 
itulah tanahku.
Lain tidak.

(yogjakarta, awal mei 2013)

Among the rustle of wind longing page.
by. Roberth William Maarthin

In the evening fatigue Yogjakarta, the days passed with no word without sound.
Waiting.
Wait.
In a deep despair.
remembered the desolate steppes singing Seko
groans when swiping reeds change lives
Wind draw yellowish grass carpet
clear streams filled sun
how long you survive
how far you walk
how many children home country

In the evening fatigue Yogjakarta, days passed without a sound.
Waiting.
Wait.
In soundly hope
remembered the hum fields Seko
groans when the buffalo moleling change so sweat rice
Wind fields into the carpet of yellow paint
splashing water snaking
the extent to which you are brave
as far as what you tread
as far as the child within the country back.

In the evening fatigue Yogjakarta, days passed without a sound
Waiting.
Wait.
Remembering ballad idol for you
You are the beloved of a lifetime
betue rhythm, malimongan baba
That's my land.
Others do not.

Rob Colection


(Yogjakarta, in early May 2013)



RWM.BOONG BETHONY

14/04/16

Esei tentang Ugahari.
By.Romo Ro Wl Ma.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia : Ugahari itu memiliki makna: Sedang; Pertengahan dan Sederhana. Bunyi Sedang itu memiliki arti Tidak keatas tidak juga kebawah. Ukurannya rata-rata, tidak besar, tidak banyak, tidak melimpah, tidak pula kekurangan, bukan miskin, bukan kecil. Selanjutnya bunyi Pertengahan, dapat pula berarti tidak di pinggir tidak pula di tengah; tidak di awal atau di akhir, tidak diluar atau di dalam, tapi di tengah atau pertengahan. Istilah Ugahari ini berasal dari istilah Sansekerta. 
Bunyi kedua setelah UGAHARI adalah KEUGAHARIAN. Bunyi kedua ini merupakan kata kerja yang berarti, Kesederhanaan atau Kesahajaan. Yaitu, berperilaku (menjalani kehidupan) sederhana, bersahaja di keseharian. Suatu pilihan yang berbalikan atau kebalikan dari keadaan sesungguhnya.
Kata UGAHARI dan KEUGAHARIAN berasal dari bahasa Sansekerta yang merujuk pada tradisi dan kebiasan hidup para Rohaniawan (Biksu - Biksuni, Begawan, Resi ), para Empu (para ahli, para pengajar, para seniman) dalam perkembangan Sejarah Indonesia masa kejayaan Hindu - Budha. Dimana, para rohaniawan dan para Empu memilih hidup sederhana di 'Pertapaan' (tempat bertapa), di padepokan, dst. Pilihan hidup sederhana atau bersahaja seperti yang di perlihatkan oleh para Rohaniawan dan para Empu ini, dapat kita sejajarkan dengan 'JALAN zen' yang berkembang di Jepang, di daratan China/Tiongkok sampai kedaerah Buthan dan India yang di kenal sebagai jalan Yoga meski secara substansil tidak sama persis, tetapi miliki jalan yang sama yaitu Memilih hidup Ugahari atau Keugaharian. 
Setelah Agama Islam dan Kristen masuk ke Indonesia, hidup Ugahari atau Keugaharian di perlihatkan oleh para Kiyai dan para pastor atau pendeta. Para Kiyai memilih hidup sederhana, bersahaja di balik Pesantren dan atau Asrama bagi para Pendeta dan Pastor.

UGAHARI dan KEUGAHARIAN Sebagai SPIRITUALITAS.

Dalam konteks Kapitalisme yang 'membesar' di masyarakat kita, dibutuhkan spiritualitas baru untuk mengembalikan Manusia sebagai Manusia seutuhnya. Yaitu spiritualitas yang dapat di artikan sebagai daya kekuatan bersama yang menghidupkan dan menggerakkan. Dewasa ini, spiritualitas jadi makin penting, karena menjadi ukuran hubungan pribadi dengan Sang KHALIK yang dapat terlihat dari perilaku hidup sehari-hari. Karena, Spiritualitas tidak hanya berhubungan dengan Keagamaan atau hal-hal yang rohani saja, tetapi juga dapat menjadi sumber kekuatan untuk menghadapi realitas dalam bentuk apapun (penjajahan, penganiayaan, penindasan, dst) tetapi juga sebaliknya untuk mencapai tujuan bersama (pembangunan, keadilan, kesetaraan, kesejahteraan, dst). Dalam pengertian seperti ini, maka Spiritualitas lebih merujuk kepada 'Cara hidup', 'cara bertindak' dalam keseharian. Spiritualitas sebagai Cara Hidup, adalah benteng bagi kehidupan beriman setiap orang, bahkan lebih lebih dari itu Spiritualitas dapat mendorong, memotivasi, menghidupkan dan menumbuhkan, seseorang dalam pengalaman perjumpaan dengan SANG KHALIK YANG DISEMBAHNYA.
Salah satu pertanda zaman yang mewarnai kehidupan masyarakat (manusia) dewasa ini yakni, Ganasnya Kapitalisme melanda tubuh manusia. Tubuh manusia di jadikan sebagai 'objek dan subjek' produk ekonomi dan alat Komoditas untuk kepentingan kaum Kapitalis (terlebih Neokapitalis). Seorang Sindhunata berteriak lantang, bahwa gaya hidup manusia hanya berorientasi pada diri sendiri dan berlomba-lomba mengejar kenikmatan, kepuasaan diri (Duniawi), krisi iman, miskin dalam solidaritas terhadap sesama, boros dengan membayar harga yang sangat mahal atau berhutang. Tubuh bahkan jiwa kita di jajah oleh kaum kapitalisme. Tak ada lagi ruang tersisa, mulai dari ujung jari kaki, sampai ujung rambut di kepala bahkan segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Semuanya, di rebut oleh Kapitalisme yang pada saat bersamaan berjalan seiring dengan NeoKolonialisme. Perhatikan dan amati dengan seksama, betapa dahsyat kapitalisme melanda hidup manusia. Merasuk semua lini dan komponen hidup bermasyarakat. Lihatlah, hidup para birokrat, Rohaniawan, kaum intelektual, Seniman (artis/aktor Filem, perupa, dramawan, Pemusik, sastrawan) Legislatif, Yudikatif. Perhatikan dan tonton tayangan TV nasional dan transnasional. Majalah, Buletin sampai pada jurnal-jurnal dalam dan luar negeri...semua di rebut oleh Kapitalisme, semua di jajah sebagai bentuk baru dari Kolonialisme. 
Begitu hebat Kapitalisme melanda hidup manusia, sehingga hidup beragama pun tak lagi menjadi sesuatu yang 'Magis, Luhur, Mulia, Agung dan Kudus' dan pada 'saat tertentu' hanya di jadikan pelengkap dalam bentuk-bentuk ritual belaka.

Bagaimana kita di Rumah HAIKUKU INDONESIA?

Seperti yang saya jelaskan secara singkat diatas, bahwa dahulu kala, para Empu (Seniman, ahli membuat...., pengajar,..) dan para Rohaniawan (biksu - Biksuni, Kiyai, Pendeta/Pastor) memilih hidup Ugahari atau Keugaharian sebagai jalan hidupnya.
Mereka (Empu dan Rohaniawan) itu, bukan saja memilih hidup sederhana, tetapi laku Mereka pun sangat sederhana, tidak sombong, lemah lembut, berbudi halus (welas asih) dan mengajar dalam kesederhanaan. Sebab itu, Mereka, sangat di hormati, di cintai, dan di rindukan oleh banyak orang. Sebab dari Mereka, orang lain belajar menjalani hidup.
Para sastrawan Haiku klasik, terkenal dengan Hidup Ugahari atau Keugaharian dengan memilih hidup sederhana. Hidup di pertapaan dengan apa adanya, tetapi pada saat yang bersamaan mereka menjadi Guru bagi siapa saja, termasuk menjadi guru kita para pecinta Haiku.
Dalam esai sederhana ini, saya mengajak semua Handaitaulan, kerabat dan para sahabat, untuk melihat situasi kita masing-masing dalam bentuk perenungan-perenungan, meditasi-meditasi, solat Tahajud, berkontemplatif, Berpuasa, sesuai dengan agama yang kita yakini.

Saya akhiri Esai kecil ini dengan Prosa kecil :

Pada akhirnya, Sang Khalik, TUHAN YANG MAHA ESA menjadi kesepian, di tengah umat yang menjadikan Ibadah dan amalnya hanya sebagai Formalitas Belaka.
TUHAN YANG SENDIRIAN di dalam semarak ritual-ritual keagamaan yang riuh rendah dalam bayangan Kapitalisme.
Pada arena ini, pandangan Spiritualitas menjadi penting bagi kita. Spiritualitas yang menjadi dasar terhadap gerakan dan kekuatan untuk merebut kembali Tubuh dan jiwa yang sudah di kukung, di penjarakan oleh Kapitalisme.
Spiritulitas yang mampu menggerak kita merebut kembali tubuh dan jiwa ini menjadi Tahta di mana TUHAN YANG MAHA ESA hadir dalam perilaku, tuturan, dan berfikir kita.
Selamat Ber-UGAHARI atau KEUGAHARIAN.
Salam dan doa dari Kalimantan Timur.

----------------------------- -
In English


Essays about frugal.
By.Romo Wl Ro Ma.
In Big Indonesian Dictionary: frugal is not without meaning: Medium; Mid and simple. Medium sounds that have meaning not upwards nor downwards. The size is average, not great, not much, not abundant, nor lack, not poor, not small. Furthermore mid sound, it can also mean not on the edge nor in the middle; not at the beginning or at the end, not outside or inside, but in the middle or middle. The term is derived from the term zealous Sanskrit.
Second sound after zealous is moderation. The second sound is a verb meaning, Simplicity or simplicity. That is, to behave (through life) simple, unpretentious in everyday life. A choice that is contrary or opposite of the real situation.
The word frugal and moderation is a Sanskrit word that refers to the traditions and habits of life of The priest (monk - nun, Begawan, Resi), the Professor (experts, teachers, artists) in the development of Indonesian History heyday Hindu - Buddhist. Wherein, the clergy and the professor a simple life in the 'Hermitage' (place for meditation), in the hermitage, and so on. Choice of living a simple or humble like that in the show by The priest and the professor is, can we align with the 'ROAD zen' developed in Japan, in mainland China / China until stricken Buthan and India, which was known as the Yoga albeit substansil not exactly the same, but have the same path that life Choosing zealous or moderation.
After Islam and Christianity into Indonesia, frugal living or moderation in the show by the Kiyai and pastors or pastors. The Kiyai choose to live a simple, unpretentious behind or boarding school and hostel for the Pastor and Pastor.

Zealous and frugality As SPIRITUALITY.

In the context of capitalism 'enlarged' in our society, it takes a new spirituality to restore Man Man as a whole. That is spirituality that can be interpreted as the power along the turn and move. Today, spirituality becomes more important, as being the size of a personal relationship with the Creator can be seen from the behavior of everyday life. Because spirituality is not only related to the Religious or things that are spiritual, but also can be a source of strength to deal with the reality in any form (colonization, persecution, oppression, etc.) but also contrary to achieve common goals (development, justice, equality , welfare, etc.). In this sense, then Spirituality refers to the 'way of life', 'how to act' in everyday life. Spirituality as a Way of Life, is a stronghold for the life of faith of each person, even more than that spirituality can encourage, motivate, animate and grow, a person in the experience of the encounter with the Creator that was worshiped.
One sign of the times that characterizes the lives of the people (humans) today namely, the ferocity of Capitalism hit the human body. The human body is made as 'object and the subject of' economic products and tools for the benefit of the capitalists commodities (especially neo-capitalist). A Sindhunata shouted, that the human life style oriented only on yourself and vying pursuit of pleasure, satisfaction of self (worldly), crisis of faith, the poor in solidarity towards others, wasteful to pay a very high price or owe. Body even our souls in its domination by the capitalist. There is no more space left, from toe to tip of the hair on the head even everything that is around us. Everything, in conquered by capitalism at the same time go hand in hand with neocolonialism. Pay attention and look carefully, how terrifying capitalism engulfing human life. Permeates all levels and components of community life. Look, life bureaucrats, The priest, intellectuals, artists (artists / film actor, visual artist, playwright, musician, writer) Legislative, Judiciary. Pay attention and watch TV shows national and transnational. Magazine, Bulletin until the journals at home and abroad ... all captured by capitalism, all in its domination as a new form of colonialism.
Capitalism struck so violently human life, so that the religious life was no longer something 'Magis, Noble, Noble, Great and Holy' and on 'certain moment' only made in complementary forms of mere ritual.

How do we in the House HAIKUKU INDONESIA?

As I mentioned briefly above, that long ago, the Professor (Artist, expertly made ...., faculty, ..) and The priest (monk - nun, Kiyai, Priest / Pastor) choose to live frugal or moderation as a way his life.
They (the professor and The priest) was not only a simple life, but their behavior is very simple, not arrogant, gentle, refined (compassion) and teach in simplicity. Therefore, they, very respected, in love, and longed for by many people. Because of Them, others learn through life.
The classic Haiku writers, famous or frugality frugal life with a simple life. Life in the Hermitage with what it is, but at the same time they become Guru for anyone, including being our teacher Haiku lovers.
In this modest essay, I invite all Handaitaulan, relatives and friends, to see the situation of each of us in the form of reflections, meditations, prayers Tahajud, berkontemplatif, Fasting, according to the religion we believe in.

I end this little essay with small Prose:
Ultimately, the Creator, GOD ALMIGHTY be lonely, among the people who make worship and charity just as a Mere Formality.
GOD ALONE in the vibrant religious rituals vociferous in the shadow of Capitalism.
In this arena, the view becomes important for our spirituality. Spirituality is the basis of the movement and strength to reclaim the body and the soul is already in kukung, in jail by Capitalism.
Capable of moving the spirituality that we reclaim the body and soul into the Throne where GOD ALMIGHTY present in behavior, speech, and thought of us.
Welcome Ber-zealous or moderation.
Greetings and prayers of East Kalimantan.






RWM.BOONG BETHONY

08/04/16

Esai Kebudayaan tentang Jurnalisme Kekerasan.
By. Romo Ro Wl Ma.

Ada milyaran berita yang kita dengar, baca dan tonton dari Multi Media hasil Jurnalisme. Bahkan untuk kontek dan teks kekinian, Jurnalisme adalah bagian utama dalam komunikasi hidup manusia. Begitu penting ia (jurnalisme) hingga Dunia ini sangat sempit dan tak ada lagi batas-batas untuk itu. Dampaknya adalah, keterbukaan, transparansi dan kebenderangan untuk segala sesuatu. Karena itu, Jurnalisme muncul sebagai 'Dewa' tunggal yang berkuasa atas apa pun, kecuali atas diri sendiri.
Kita bersukur atas pencapaian itu, kita berterimakasih untuk hasil ini. Bergembira karena semua kejadian dan peristiwa dalam hitungan detik dapat di baca, di dengar, di tonton dalam waktu yang bersamaan di seluruh pelosok Dunia. Seorang sahabat saya, yang juga seorang jurnalis, mengatakan bahwa satu-satunya dunia tanpa batas, adalah Jurnalisme. 
'Apa saja dapat menjadi berita! sambung sahabat saya itu. Politik, Olah raga, kebudayaan, pertempuran, Perkelahian, Pemerkosaan, Pendidikan, semua menjadi objek jurnalisme. Jelas sahabat saya.
Mungkin penyataan sahabat saya ini benar, mengingat kenyataan begitu.
Sebagai seorang pemerhati kebudayaan dan juga seorang Rohaniawan, saya justru mempertanyakan pernyataan ini. Jurnalisme tanpa batas adalah Pengingkaran Pada Jurnalisme itu sendiri. Yaitu, pengingkaran atas maksud mulia atas tujuan jurnalisme. Bukankah sebagai pengumpul berita, Jurnalis musti mengedit, menulis lalu menyebarkan atau memberitakan apa yang di kumpulkan (tentu setelah ada pengeditan). Baik dalam bentuk Audio visual pun dalam bentuk Tulisan termasuk dalam bentuk suara.
Jadi bukan tanpa Batas, tetapi penghormatan atas Roh Jurnalisme itu sendiri. Agaknya Roh yang mengikat Jurnalisme itu, sudah lama pergi, entah terbang kemana.
Tak heran ketika berita, baik dalam bentuk tayangan (audiovisual), gambar, tulisan dan suara, memperlihatkan 'sesuatu atau mempertontonkan' jurnalisme yang Vulgar. Apa adanya tanpa sensor (edit) yang mempertimbangkan azas kesopanan, kepatutan, dan kelayakan suatu hasil jurnalisme.
Lihatlah, betapa akrabnya anak-anak hingga orang dewasa dengan istilah 'memperkosa, membunuh, bom bunuh diri, tawuran, perselingkuhan, korupsi, Mutilasi, Terorisme, dst' yang juga di sertai gambar serta tayangan yang teramat Vulgar bahkan seolah menjadi berita utama yang di butuhkan oleh khalayak.
Aneh bila Jurnalisme berkampanye anti kekerasan, anti anarkiesme, Pembela hak-hak azasi, dst, tetapi di saat yang sama justru memberi gambaran di sertai narasi penjelasan bagaimana, kekerasan, anarkiesme, pemerkosaan, itu terjadi? Bukankah ini mengingkari diri sendiri?
Mari telusuri dengan seksama, dalam 1 x 24 jam berita apa yang menonjol dari tayangan TV Nasional dan transnasional. Jangan heran, jika berita Kekerasan dan anarkiesme dalam segala bentuk, perselingkuhan oleh berbagai kalangan atau korupsi yang terjadi baik di Birokrasi, Legislatif, Yudikatif dan swasta, menjadi Porsi besar di banding berita-berita pendidikan, keagamaan, kesenian.
Tengok juga, kejadian-kejadian serupa (seperti tayangan dan berita itu) banyak menginspirasi anak-anak sampai orang-orang dewasa untuk menirukannya.
Demikian juga harian-harian yang terbit, baik pagi pun sore, setali tiga uang dengan Tayangan-tayangan itu. 
Sahabat saya itu mengatakan : "...seperti itu Jurnalisme, ia harus jujur, apa adanya untuk memberitakan sesuatu kepada khalayak"
Atas komentar ini, saya berfikir, apakah musti seperti itu? Apa adanya? Jurnalisme dalam bentuk Gambar (foto) memang musti begitu, tetapi apakah gambar-gambar seperti, tubuh yang terpotong-potong, terburai, misalnya. Layak untuk di tonton atau di lihat?
Atau rekaman kejadian (vidio) pembunuhan, penembakan oleh polisi, kecelakaan dengan tubuh yang terlindas, atau tayangan korban peperangan (pertempuran), investigasi kepolisian terhadap pemerkosa dan korban, atau wartawan menanyakan bagaimana si pelaku membunuh, memperkosa, membakar, membuat senjata rakitan, layak menjadi tontonan sebagai hasil jurnalisme?
Masih ingat siaran langsung tembak-menembak antara Polri versus terorisme di Temanggung waktu yang lalu? 
Juga tayangan langsung dari rumah-rumah terbakar karena tawuran antar kampung dari Lampung juga dari Sulsel beberapa tahun lalu? 
Atau siaran langsung demonstrasi di sertai 'pentung-pentungan, pukul memukul, tendang menendang, hantam menghantam disertai perkataan Vulgar, makian dan hujatan Apakah ini layak di tonton oleh pemirsa Indonesia? 
Atau tayangan perkelahian yang terhormat wakil-wakil rakyat di senanyan, waktu lalu? 
Apakah semua itu layak? siapa yang mengijinkan? Pemerintah? Masyarakat? Atau demi jurnalisme yang jujur dan apa adanya tadi?
Saya pikir, ini bukan jurnalisme yang berkebudayaan, tetapi kampanye kekerasan kesegala arah, atau dengan kata lain bahwa kekerasan, anarkiesme, korupsi, pemerkosaan, pembunuhan, adalah sesuatu yang 'biasa-biasa' saja alias sah-sah saja. Hm!
Jurnalisme dalam paham saya, bertugas memberitakan kejadian, tetapi pada saat yang sama Jurnalisme juga menjaga Kepatutan, kesopanan dan kelayakan sebuah berita (tayangan, suara dan tulisan).
Sebagai salah satu pilar 'pembangun kebudayaan' maka Jurnalisme memiliki tanggung jawab soal itu. 
Pada akhirnya, saya berfikir, jangan-jangan Jurnalisme justru pelaku kekerasan atas dirinya sendiri.
Samarinda, awal april 2016

Ing English

Cultural Essays on Violence Journalism.
By. Romo Wl Ro Ma.
There are billions of news that we hear, read and watch the results of the Multi Media Journalism. Even for context and contemporary texts, Journalism is a major part in the life of human communication. So it's important he (journalism) to the World is very narrow, and no boundaries to it. The impact is, openness, transparency and kebenderangan for everything. Therefore, Journalism emerged as a 'god' sole power over anything, except over himself.
We are grateful for the achievement of that, we are grateful for this result. Rejoice with all incidents and events in seconds can be read, heard, watched at the same time in all corners of the World. A friend of mine, who is also a journalist, said that the only world without borders, is Journalism.
'Any news can be! My friend continued it. Politics, sport, culture, fighting, fights, rapes, Educational, all become the object of journalism. Obviously my friend.
Perhaps my friend's statement is true, given the fact so.
As an observer of culture and also a The priest, I actually questioned this statement. Journalism without borders is Denial In journalism itself. That is, the denial of the noble intention of the purpose of journalism. Is not a news aggregator, Journalists must edit, write and deploy or declare what is collected (of course after editing). Either in the form of audio-visual else in the form of text, including in the form of sound.
So it is not without limits, but respect for the Spirit of journalism itself. Presumably it's the Spirit that binds Journalism, long gone, either move around.
No wonder when the news, either in the form of impressions (audiovisual), images, text and sound, showing 'something or showing' Vulgar journalism. What is without sensor (edit) that considers the principle of modesty, decency, and the feasibility of the results of journalism.
Look, how close the children and adults with the term 'rape, murder, suicide bombings, fights, infidelity, corruption, mutilation, terrorism, etc.' which was also accompanied by images and impressions very Vulgar even as the headlines are in needed by the audience.
Strange when campaigning journalism anti-violence, anti anarkiesme, Defender of rights, and so on, but at the same time it gives an overview accompanied by narrative explanation of how, violence, anarkiesme, rape, it happens? Is this not deny yourself?
Let searched carefully, in 1 x 24 hour news what stands out from the National TV shows and transnational. Do not be surprised, if news and anarkiesme Violence in all its forms, infidelity by various groups or corruption that occurred in both the bureaucracy, Legislative, Judiciary and private, into a large servings in an appeal news educational, religious, artistic.
See also, similar events (such as impressions and news) inspired many children to adults to imitate.
Likewise, the dailies published, either too early afternoon, three-quarter money with Shows that.
My friend said: "... such journalism, he should be honest, what to preach something to the audience"
Comment on this, I think, what it must be like? As it is? Journalism in the form of image (photo) must indeed be so, but whether such images, bodies mutilated, frayed, for example. Deserves to be watched or seen?
Or footage of the incident (vidio) murder, shootings by the police, the accident with a body crushed, or impressions of victims of war (battles), the police investigations against the rapist and the victim, or the journalist asked how the perpetrators of murder, rape, burning, to make the weapons, decent a spectacle as a result of journalism?
Still remember the live broadcast of a shootout between police versus terrorism in Temanggung time ago?
Also the live stream from the houses on fire since fighting between the village of Lampung also from the province a few years ago?
Or broadcast live demonstrations accompanied the 'bat-bat, hit hit, kick to kick, hit hit with Vulgar words, curses and blasphemies Is this feasible watched by viewers Indonesia?
Or impressions fights were honorable representatives of the people in senanyan, time ago?
Is it all worth it? who is allowed? Government? Society? Or for the sake of journalism that is honest and candid about?
I think, this is not journalism cultured, but a campaign of violence in all directions, or in other words that the violence, anarkiesme, corruption, rape, murder, is something that 'ordinary' alias legitimate. Hm!
Journalism in my understanding, in charge of proclaiming the incident, but at the same time journalism also keep Decency, modesty and the feasibility of a message (display, sound and text).
As one of the pillars 'culture builder' then Journalism has a responsibility about it.
In the end, I think, lest Journalism abusers instead of himself.
Samarinda, early april 2016


Rob Colection.
RWM.BOONG BETHONY

22/03/16

Haiku / Hokku and KIGO

Artikel sederhana tentang Kigo.
Oleh. Romo Ro Wi Ma

Para sahabat, di bawah ini beberapa contoh Haiku sederhana tentang air.

Menulis haiku tidak sulit jika kita memahami bagaimana menempatkan Kigo yang merupakan KEHIDUPAN dari HAIKU. Haiku tanpa Kigo, adalah puisi biasa.
Beberapa waktu lalu, banyak yang mempertanyakan arti Kigo, apakah penting atau tidak?
Dengan Tegas, sekali lagi saya menyatakan, bahwa karakter utama oh Haiku adalah Kigo. Kigo adalah kehidupan seorang Haiku. Jika tidak maka ia hanya biasa-biasa saja puisi.
Silakan merujuk ke haiku sederhana di bawah ini.
----------------------
sarung abu-abu
Jatuh pada titik air
melembabkan pagi
-----------------------
Galon abu-abu
Menuangkan air di langit
dunia berlumpur
-------------------------
Dance air pagi
Dots pemukulan
insan mengeluh
-----------------------
dedaunan basah
Pagi hujan datang
jamur menari
----------------------
air mata bumi
Cinta sepanjang waktu
Puji Tuhan (Alhamdulillah)
--------------------
mengamuk alami
flash mengalir
menangis pagi
-------------------------
Beberapa Haiku di atas, sangat sederhana dan mudah menggambar / memberitahu apa yang terjadi, tetapi juga disertai renungan sebagai pesan yang ingin disampaikan oleh penulis, sehingga tidak mata belaka.
Berlatih sesering mungkin dengan mengangkat cerita hanya sebagai objek Haiku.
Dan memperhatikan hal itu:

1. cerita TIMING atau cerita, seperti: hari, malam, pagi, siang, pagi, pagi, dan sebagainya.

2. OR TANDA SAAT cerita atau kisah yang terjadi, seperti: bulan purnama, kelelawar terbang, suara burung hantu, jangkerik bernyanyi, kunang-kunang, ayam berkokok, katak melompat, bunga tumbuh, dan sebagainya.

3. ATAU SESUATU DI UMUM AKAN TRADISI AGAMA BAIK OLEH MASYARAKAT ADAT, seperti Lebaran Haji, Paskah, Natal, Maulid Nabi, Nyepi, Ritual Kesodho (Tengger dan DIY), Tahun Baru, Waisak, Sasaka Domas (Baduy), dll .,

4. UPACARA ATAU NEGARA YANG SELALU DO PERMANEN, seperti Hari Kemerdekaan, Kartinian, Kebangkitan Nasional, TNI HUT, Polri HUT, dan sebagainya.

5. Kigo JIKA KITA MEMAHAMI YANG HANYA SENDIRI (bukan sesuatu yang berlaku umum) HARUS KARENA ITU, DI HINDARI. Kigo KARENA KITA MEMAHAMI YANG HANYA, DAN MENDAPAT SENDIRI, AKAN SELALU DAN TERKESAN DI kekuatan polemik.

Atas perhatian seluruh Kerabat dan 'Handaitaulan', saya bersyukur. Salam dan doa Rahayu.

Catatan kecil tentang KIGO:
Kigo berasal dari Jepang yang memberikan arti:
Penyebaran atau tanda - tanda yang memberikan rasa transisi atau perubahan musim; atau waktu omset.
Kigo sebagai tanda musim semi dan tanda-tanda seperti:
Spring, musim dingin, musim panas, salju. Musim Pergantian bahwa ada, disertai dengan tanda-tanda perubahan di alam. contoh:
Pergantian musim dingin ke musim semi, ditandai dengan salju mencair; bunga - bunga mulai berkembang; tunas pohon mulai tumbuh, dan sebagainya.
Kigo sebagai tanda waktu, seperti:
Malam, pagi, siang, sore. Tanda-tanda malam, a.l:. Malam, bintang-bintang mulai terlihat, jangkrik suara, kelelawar keluar dari sarangnya.
Tanda-tanda pagi, a.l:. Suara ayam, kelelawar kembali ke sarang, embun meleleh, dll

---------------------------------------------
Simple article about Kigo.
By. Romo Ro Wi Ma

The companions, below some examples of simple Haiku about water.

Writing haiku is not difficult if we understand how to put Kigo which is the LIFE of HAIKU. Haiku without Kigo, is a regular poetry.
Some time ago, many have questioned the sense Kigo, whether important or not?
With Decisive, again I declare, that the main character oh Haiku is Kigo . Kigo is the life of a Haiku. If not then he just mediocre poetry.
Please refer to the simple haiku in the below.
----------------------
Holsters gray
Fell at a water point
Moisten morning
-----------------------
Galon gray
Pour water in the sky
world muddy
-------------------------
Water Dance morning
Dots beating
Insan complain
-----------------------
wet foliage
Morning welcome rain
mushrooms dancing
----------------------
Tears earth
Love all the time
Praise God (Alhamdulillah)
--------------------
natural rampage
Flash flowing
morning cry
-------------------------
Some Haiku above, it is very simple and straightforward drawing / tell what was going on, but also accompanied afterthought as a message to be conveyed by the author, so it is not a mere eye.
Practice as often as possible by lifting the stories simply as objects Haiku.
And pay attention to it:

1. TIMING story or the story, such as: day, night, morning, afternoon, morning, early morning, and so on.

2. OR SIGNS WHEN story or a story that happened, such as: full moon, bats flying, owl sounds, jangkerik singing, fireflies, the cock crowed, frog jumping, interest is growing, and so on.

3. OR SOMETHING IN GENERAL SHALL BE RELIGIOUS TRADITION WELL BY INDIGENOUS PEOPLES, such as Lebaran Haji, Easter, Christmas, Birthday of Prophet, Nyepi, Ritual Kesodho (Tengger and DIY), New Year, Vesak, Sasaka Domas (Baduy), etc. ,

4. CEREMONY OR STATE THAT ALWAYS DO PERMANENT, such as Independence Day, Kartinian, National Revival, TNI HUT, HUT Police, and so on.

5. Kigo IF WE UNDERSTAND THAT ONLY OWN (not something that is generally accepted) SHOULD THEREFORE, IN AVOID. Kigo BECAUSE WE UNDERSTAND THAT ONLY, AND GOT ​​OWN, WILL ALWAYS AND IMPRESSED AT polemical force.

For attention throughout Relatives and 'Handaitaulan', I am grateful. Greetings and prayer Rahayu.

A small note  about KIGO:

Kigo comes from the Japanese that gives meaning:
Dissemination or sign - a sign that gives the sense of transition or change of seasons; or turnover time.
Kigo as a sign of Spring and signs like:
Spring, Winter, Summer, Snow. Substitution season that there was, accompanied by signs of change in nature. example:
Substitution winter to spring, marked by melting snow; flowers - flowers began to develop; tree buds begin to grow, and so on.
Kigo as a sign of time, such as:
Night, morning, afternoon, evening. Signs of the night, a.l .: evening, the stars began to look, sound jangkerik, bat out of the nest. Signs of the morning, a.l .: rooster sounds, bats return to the nest, dew melt, Etc.



RWM.BOONG BETHONY

05/03/16

Haiku dan Sastra


HAIKU DAN PEMBELAJARAN SASTRA.                                                                                                                                                                     (tulisan pertama dari 3 artikel)

Oleh : Romo Roberth W. Maarthin/RWM

(Artikel kecil berseri sebuah narasi  dalam rangkah setahun Group Haikuku Indonesia)



Sebagaimana umumnya, orang tahu bahwa Sastra atau berkesenian dalam bentuk tulis terbukti mampu memengaruhi wajah dunia. Apa pun bentuk tulisan itu; Novel sejarah, novel Roman, novel Pop, Cerpen, Puisi, Biografi, Reportair, dokumentasi teks, naskah drama - filem, bahkan kitab Suci pun tertulis dalam bentuk sastra.
Sebelum kertas ditemukan para seniman sastra praklasik menulis karya kesenimanannya pada Papyrus (kulit kayu) Daun Lontar, Bambu, kayu dan Perkamen (kulit binatang) juga batu (dalam bentuk ukiran, Tugu, prasasti sampai dinding-dinding goa) semua itu karya karya yang informatif menyiratkan situasi sosial kemasyarakatan pada zaman para penulis. Di Indonesia misalanya, kita kenal kesustraan terbagai menjadi beberapa tahapan seperti pra pujangga baru (sebelum jaman kemerdekaan - Clasic), Angkatan pujangga baru ( masa kemerdekaan - Neo Clasic), angkatan pujangga 66 (?) dan yang terakhir angkatan pujangga modern(?). Periodesasi seperti itu hendak menyatakan kondisi sosial yang sedang terjadi ketika para penulisnya mencorat coret karya karyanya. Itulah sebabnya, karya sastra jadi dokumen primer pembelajaran perjalanan komunitas masyarakat tertentu bahkan sebuah negara.
Mengapa Kesusastraan? Yah, karena kesusastraan itu bahasa jiwa, bahasa batin, bahasa kalbu. Karena itu, ia selalu lahir dalam keindahan, dibuat karena cinta, oleh sebab ruh kedamaian. Lantaran itu, para seniman sastra biasanya luhur budi, halus peringai, santun bertutur, elegan berkarya dan yang utama spiritulitas berkeseniannya tak diragukan. Sebab buahnya hanya keindahan, keluhuran, ketulusan dan kebenaran dalam bentuk teks. Makanya, para seniman sering kali dijuluki 'manusia diatas angin' sebab norma norma seperti ini, oleh masyarakat hanya dapat dibaca dalam laku para seniman umumnya dan sastrawan khususnya.

Lalu bagaimana dengan Group Haikuku Indonesia dimana kita belajar bersama soal kesusastraan khususnya sastra Haiku?
Artikel kecil sederhana ini, saya narasikan dalam rangkah menyambut HUT pertama Group Haikuku Indonesia sekaligus memenuhi tantangan Sang Presiden Haikuku Diro Aritonang agar saya membuat sebuah artikel.
Dalam kerangka itu, saya akan jujur dan menghindari pemikiran yang sifatnya hanya subjektif belaka menuju objektifitas naratif.
Ketika saya di undang memasuki pintu rumah Haikuku ini saya sungguh kagum dan gembira. Gejolak darah berkesenian saya membuncah memenuhi syaraf yang ada. Gembira, karena ternyata ada sebuah group yang khusus menggeluti Haiku, Kesusastraan Negeri Matahari terbit. Gembira karena Intensitas member sangat luarbiasa dan animo Penulis Haiku bagai mata air yang enggan surut termasuk membengkaknya  jumlah penghuni.
Seperti hal lumrah terjadi bahwa sebuah komunitas selalu mengalami persoalan, baik karena pemikiran pun oleh karena ketidak pahaman satu anggota dengan yang lain. Mengenai apa itu sastra Haiku, tentang bagaimana Haiku, soal penyesuaian ragam dan bentuk penulisan karena  latar belakang yang memang berbeda dari asalnya di Jepang sana. Yang paling seru jadi objek diskusi ialah Kigo. Yang secara sederhana diterjemahkan dalam arti : Pertanda Musim dan juga Pertanda Waktu. Diskusi tentangnya (KIGO) jadi demikian seru dan vulgar mengenyampingkan keasadaran diri bahwa yang sedang berdiskusi adalah ‘Para Penghuni Negeri di Atas Angin’ yang katanya selalu melahirkan keindahan, ketulusan, kedamaian, kesopanan dan etika tingkat dewa. Padahal, keindahan tidak lahir dari ‘Chaos’/keributan. Ketulusan bukan datang dari amarah. Kedamaian bukan buah dari kebencian apalagi dendam, iri dan dengki. Kesopanan dan Etika tidak dikandung oleh pandangan negative dan prasangka buruk. Spiritualitas bukan persemaian dusta dan fitnah. Bukankah Haiku itu sebuah bentuk yang lahir dari jiwa atau batin yang mencintai keindahan, ketulusan, kedamaian, kejujuran? Bukankah Haiku itu ditulis oleh karena perenungan yang kuat dan dalam dari Jiwa atau Batin pada pondasi Spiritualitas yang kokoh? Bukankah begitu? Itu berarti menulis Haiku, merupakan penghargaan terhadap keindahan, terhadap cinta, terhadap kedamaian, terhadap ketulusan, terhadap kejujuran, terhadap keluhuran, terhadap kebenaran, oleh dan dari para pecinta Tuhan Yang Maha Esa?
JIka pada zaman Klasik Jepang, kebanyakan para penulis Haiku melahirkan karya dalam spirit spiritualitas Zen, mengapa seniman Haiku Nusantara tidak mendasari spirit spiritualitasnya sesuai Iman para penulis? Mengapa musti terpusat pada Zen? Bukankah Zen itu ‘hanya jalan menemukan....?’ dan bukan sebuah Agama. Melainkan sebuah cara untuk memahami ‘lingkaran kehidupan antara Alam dan Manusia. Sebuah jalan yang oleh para penganutnya disebut ZEN. Sebab itu Ia (ZEN) adalah jalan atau cara untuk memahami ‘Lingkaran Kehidupan Antara Alam dan Manusia’ maka ia (ZEN) pun berada dimana mana. Di Italia, Jerman, Belanda, Afrika, Amerika, Australia, China, Jepang, Korea dan juga ada disini. Di Indonesia. Zen tak pernah mengubah siapa dan apa kecuali mengantar memahami, mengantar mengerti. Dan Jalan itu melahirkan Haiku dari kontemplatif padepokan (pertapaan) para penganut Zen di Jepang yang pada umumnya beragama Shinto. Karena Ia (ZEN) hanyalah jalan, maka semua orang bisa menapak di lorong itu.  Terserah apakah berupa jalan tanpa hambatan (TOLL), gang gang kumuh, jalan tikus, jalan setapak baik yang menurun pun mendaki atau rata rata saja. Tidak soal, yang penting semua mencoba jalan itu.  Toh Haiku adalah karya keindahan, keluhuran, ketulusan, kedamaian atas nilai spiritualitas para penulisnya.

Sastra Haiku harus diakuai terlambat mendapat perhatian dari seniman sastra Indonesia, meskipun menilik sejarah kehadirannya (Haiku) telah mulai di kenal oleh para penulis Sastra Melayu. Sebut saja Sastrawan Melayu yang Fenomenal Amir Hamzah dengan Gurindam 12 yang tak kalah menarik dibanding Haiku. Atau syair syair Melayu dalam bentuk Pantun, Seloka dst, yang sesungguhnya juga amat di pengaruhi oleh Spiritualitas Islam. Jika mau jujur, Pantun, Seloka, Gurindam 12 lahir dari dasar yang sama. Yaitu, Keindahan, ketulusan, kejujuran, kedamaian, dan terutama Spiritualitas kesenimanan dari Iman yang kokoh para penulisnya. Saran saya, hendaklah penghuni rumah Haikuku Indonesia, juga belajar memahami jenis kesusastraan Indonesia yang beraneka ragam itu. Tapi baiklah kita kembali pada maksud artikel kecil ini saya tulis. Sejak lahir awal November 2014 lalu, Group Haikuku Indonesia jadi Booming dan mendapat perhatian khalayak pecinta sastra di tanah air bukan saja lewat Media Sosial tetapi juga dalam percakapan nyata di beberapa tempat, seperti Bandung, Surabaya, Denpasar, Jakarta, Yogyakarta, Tasikmalaya, Purwakerta, Malang, Lampung, Medan dan kota lainnya bahkan sampai keluar negeri. Hal ini terbukti dengan anggota/member membludak melalui karya karya terposting yang jumlahnya ribuan 1 x 24 jam. Kenyataan ini membuat penggemar Haiku di seantaro Dunia terheran heran akan fenomenal Group ini. Termasuk didalamnya, produktifitas Haiga (Lukisan sederhana yang membantu untuk menjelaskan isi Haiku dimana pada lukisan sederhana itu terdapat grafis Haiku). Mengapa butuh Haiga? Karena Haiku itu hanya terdiri dari 3 baris dalam format (Etika – Aturan) 5 suku kata pada baris pertama, 7 suku kata di baris ke-dua dan 5 suku kata dibaris ke-tiga. Bukankah dengan format seperti itu teramat sulit untuk menafsirkannya? Bisa di bayangkan! Cerita, kisah, kejadian, renungan seperti apa yang dapat dituturkan atau dituang hanya dalam 17 Suku kata? Itu hanya sebuah kalimat pendek jika ingin menjadikannya sebuah kalimat. Teramat pendek! Itu pun Haiku bukan sebuah kalaimat pendek yang kemudian di susun atau ditulis jadi Haiku. Bukan! Haiku bukan Kalimat Pendek. Nach! Belum lagi bahwa menulis Haiku di kemas dalam Pertanda Waktu dan Musim yang di perhadapkan pada interaksi interaktif pada kejadian itu. Sungguh amat sulit menafsirkannya. Karena itu, para penulis Haiku menyertakan lukisan atau gambar sederhana agar membantu para penikmat Haiku memahami maksud si Seniman.

Bagaimana dengan Para penulis Haiku di Group Haikuku Indonesia?

Alam dan Insan
Satu di mangkuk rasa
Miliki waktu


IN ENGLISH VERSION :


HAIKU AND LEARNING LITERATURE. (The first article of 3 articles)

By Fr. Roberth W. Maarthin / RWM

(Articles tiny glow of a narrative within a year Rangkah Group 
Haikuku Indonesia)




As is generally known that literature or art in the form of facial hair proved to
affect the world. Whatever the shape of the article; Historical novels, romance novels, novels Pop, Short Story, Poetry, Biography, Reportair, text documentation, plays - film, even Scripture was written in the form of literature.
Before paper was found the literary artist praklasik was writing kesenimanannya at Papyrus (bark) Leaves Lontar, bamboo, wood and parchment (animal skin) also rock (in the form of carving, Monument, inscriptions until the walls cave) all the works of informative implies social situation at the time of the author. In Indonesia misalanya, we know kesustraan divided into several stages such as pre poet recently (before the era of independence - Clasic), Force poet new (independence - Neo Classic), force poet 66 (?) And the last class of the poet of modern (?). Periodization as it came to reveal the social conditions that happening when authors mencorat scratch his work. That is why, literature so the primary documents of certain community learning journey even a country.
Why Literature? Well, because the literary language of the soul, inner language, the language of the heart. Therefore, it is always born in beauty, made for love, because of the spirit of peace. Because of that, the literary artist usually noble minds, peringai refined, mannered spoken, elegant work and the main doubt spirituality in art. Because his only beauty, nobility, sincerity and truth in text form. Hence, the artists often dubbed the 'man on the wind' because the norms of this kind, the people can only be read in the general behavior of the artists and writers in particular.

And what about the Group Haikuku Indonesia where we learn together about literature, especially literature Haiku?
This simple little article, I Narrate the first anniversary of Group Haikuku welcomed Indonesia as well as meet the challenges of the President Haikuku Diro Arita so I made an article.
Within that framework, I will be honest and avoid ideas that are subjective only toward objectivity mere narrative.
When I was invited to enter this door Haikuku I was really amazed and delighted. My art blood turmoil erupted meet existing nerves. Excited, because it turns out there is a special group wrestle Haiku, Foreign Literature Sunrise. Happy because the member is extraordinary intensity and zest Writer Haiku like springs that are reluctant to recede including the ballooning number of occupants.
As a common thing always happens that a community has problems, either because the thought was because of unfamiliarity one member to another. Regarding the literature Haiku, about how Haiku, a matter of adjustment varieties and forms of writing because background is different from its origin in Japan there. The most intriguing become the object of discussion is Kigo. Which simply translates in meaning: Season Signs and Omens Time. Discussions about (Kigo) be so intriguing and vulgar disregard keasadaran self that is being discussed is 'The Occupant State in Upper Wind' which he always bore beauty, sincerity, peace, decency and ethical level of a god. In fact, beauty does not come from 'Chaos' / fray. Sincerity does not come from anger. Peace is not the fruit of hatred let alone revenge, envy and jealousy. Courtesy and Ethics are not contained by negative views and prejudices. Spirituality is not the nursery lies and slander. Haiku Is not it a form which is born of the soul or inner love beauty, sincerity, peace, honesty? Haiku Is not it written because of strong and deep reflection of Soul or Mind on a solid foundation of spirituality? Is not it? That means writing Haiku, is a tribute to the beauty, the love, the peace, the sincerity, the honesty, the sublime, to the truth, by and of the lovers of God Almighty?
If the Japanese Classical era, most of the authors of the works in the spirit of giving birth Haiku Zen spirituality, why artists Haiku Nusantara is not spiritually appropriate underlying spirit of Faith writers? Why must be centered on Zen? Zen Is not it 'just a way to find ....?' And not a religion. But a way to understand the 'circle of life between Nature and Man. A road by its adherents called ZEN. Therefore he (ZEN) is a path or a way to understand the 'Circle of Life Between Nature and Human' then he (ZEN) also are everywhere. In Italy, Germany, the Netherlands, Africa, America, Australia, China, Japan, Korea, and also here. In Indonesia. Zen never change who and what except drove understand, dropping understand. And it spawned Haiku Way of contemplative hermitage (hermitage) the followers of Zen in Japan are generally Shinto religion. Because he (ZEN) is just way, then everyone can tread in the corridor. It's up to whether a road without a hitch (TOLL), seedy alley alley, street rat, footpaths either declining or average climbed alone. No matter, all of it is trying to walk it. Toh Haiku is a work of beauty, nobility, sincerity, peace on the value of the spirituality of the authors.

Literature Haiku must be acknowledged too late to get the attention of Indonesian literary artist, although examines the history of presence (Haiku) has begun known by the authors of Malay Literature. Call it writer Malay Phenomenal Amir Hamzah with 12 couplets that are not less interesting than Haiku. Malay poetry or poetry in the form Pantun, Seloka etc., who actually also greatly influenced by Islamic Spirituality. If you're honest, Pantun, Seloka, couplets 12 born on the same basis. Namely, beauty, sincerity, honesty, peace, and especially the spirituality of Faith solid artistic authors. My advice, let residents Haikuku Indonesia, also learn to understand the type of Indonesian literature diverse it. But let us go back to the intent of this little article I wrote. Since birth the beginning of November 2014 and, Group Haikuku Indonesia so Booming and got the attention of audiences lovers of literature in the country not only through social media, but also, in conversation, in some places, such as Bandung, Surabaya, Denpasar, Jakarta, Yogyakarta, Tasikmalaya, Purwakerta, Malang, Lampung, Medan and other cities even abroad. This is proven by the member / member booming through the works of the thousands terposting 1 x 24 hours. This fact makes the Haiku fan at the World seantaro appalled to be phenomenal Group. Including, productivity Haiga (simple painting that helps to explain the contents of Haiku where the graphics are simple painting that Haiku). Why need Haiga? Haiku because it consists of only three rows in the format (Ethics - Rules) 5 syllables on the first line, seven syllables in the second line and five syllables dibaris all three. Is not the format as it was extremely difficult to interpret? Can imagine! Stories, stories, events, reflections such as what can be spoken or poured in just 17 syllables? It was only a short sentence if it is to make a sentence. Very short! It was Haiku is not a short kalaimat then collated or written so Haiku. Not! Haiku is not short sentence. Nach! Not to mention that writing Haiku pack in Time and Seasonal Signs in perhadapkan on interactive interaction on the incident. It is very difficult to interpret. Therefore, the authors Haiku include painting or a simple image to help the audience understand the intent of the artist Haiku.

What Writers Group Haikuku Haiku in Indonesia?

Natural and Human
One bowl flavor
have time





#RWM


HAIKU & ZEN
oLEH : Diro Aritonang.

[PENGANTAR: Mari kita pahami apa itu hubungan Zen dengan Haiku. Bagi masyarakat Jepang, Zen tentu berhubungan dengan keyakinan religinya, sehingga kalangan Zen Buddhism dalam memberi ruh pada haikunya, berhubungan dengan spiritual zen. Bagaimana dengan haiku di haikuKu Indonesia, apakah juga harus memasukkan spritual zen? Tentu tidak, tidak harus spiritual zen masuk di dalamnya. Tapi hal-hal yang berkaitan dengan eksplorasi nilai-nilai universalnya, bukan teologinya. Tentu itu pun tergantung eksplorasi kita dalam memasukkan unsur spiritual religi yang kita anut. Beriku merupakan uraian Richard von Sturmer, bagaimana zen merasuk dalam haiku. Menjadi kekuatan dan kekhasan haiku]
Catatan: Karena haikunya diterjemahkan ke bahasa Inggris dari bahasa Jepang terjadi perubahan mora/suku kata.
oleh RICHARD VON STURMER 
(New Zealand Poetry Society Te Hunga Tito Ruri o Aotearoa)
Sejak Abad Pertengahan, melalui upacara minum teh, merangkai bunga, seni bela diri, dan teater Noh, Zen Buddhisme, dengan penekanan pada kesederhanaan, kealamian dan penghematan, telah menjadi kekuatan dominan dalam budaya Jepang. Di sini kita akan melihat sembilan kualitas yang melekat dalam Zen dan bagaimana kualitas ini berhubungan dengan penulisan haiku.

1. Keesaan
Zen mengajarkan bahwa penderitaan kita timbul dari rasa keterpemisahan, dari perasaan "sendirian dan takut dalam dunianya yang tidak pernah dibuat". Praktek haiku adalah cara melarutkan perasaan pemisahan ini dengan mengalami kesatuan alam kita sendiri dan sifat dari segala sesuatu di sekitar kita. Seperti Basho menulis kepada seorang murid: "Belajar tentang pinus dari pinus, dan sekitar bambu dari bambu. Penyair harus. . . masuk ke objek tersebut agar bentuk puisi itu sendiri menyatu, menjadi satu antara penyair dan objeknya".
the sound of hail-
I remain, as before,
an old oak
bunyi hujan es
Aku tetap, semula
pohon ek tua
- Basho

2. Keintiman
Keintiman berarti tidak menarik kembali tetapi semakin dekat, dan dengan haiku kita selalu mendekat ke masalah. Ketika kita berhenti terpaku pada kekhawatiran pribadi kita, kita dapat memberikan diri kita kepada dunia. Untuk menulis haiku ini berarti menjadi benar-benar selaras dengan lingkungan kita, apakah kita sedang berjalan di sebuah jalan yang sibuk atau berbicara diam-diam dengan seorang teman.
they spoke no word,
the host, the guest
and the white chrysanthemum
ngomong tak kata
tuan rumah, tetamu
dan krisan putih
- Ryota

3. Kekosongan
Ketika Bodhidharma, pendiri Zen, bertemu ke Kaisar Wu dari China Selatan, Kaisar bertanya, "Apa ajaran fundamental agama Buddha?" Jawab Bodhidharma, "Kekosongan yang luas dan tidak suci". Pernyataan revolusioner ini telah bergema sepanjang masa, dan kebenarannya sekarang dikonfirmasi oleh kuantum fisika: atom - hal-hal dasar dari alam semesta - yang 99,999% kekosongan. Itulah cara permasalahannya. Dan kita harus kosong sehingga hal dari dunia ini dapat mengungkapkan diri kita.
midnight - no waves, no wind
the empty boat is
flooded with moonlight
tengah malam – tak gelombang, tak angin
perahu kosong
dibanjiri cahaya bulan
- Dogen

4. Suchness
Misteri besar alam semesta adalah bahwa dari kekosongan yang mendasar muncul berbagai hal mengejutkan bentuk. Sebagai Yasutani-roshi, Zen Guru modern, katakan, "Wajah asli dari universalitas bergerak cepat dalam rincian khusus".
the spring is cold-
the puppeteer
keeps coughing
semi yang dingin-
tentang seorang dalang
selalu batuk
- Suiha

5. Keunikan
RH Blyth menegaskan bahwa "catatan Haiku bagaimana Wordsworth menyebutnya 'titik waktu', saat-saat yang untuk beberapa alasan yang cukup misterius memiliki makna yang aneh". Haiku juga merayakan keunikan itu hal biasa dan, pada saat yang sama, menunjukkan bagaimana keunikan yang berisi universal.
spring rain-
a rat is lapping
the Sumida River
semi berhujan-
tikus memukul-mukul
Sungai Sumida
- Issa
6. Ketidak-kekalan
Dunia ini begitu menakjubkan, misterius dan indah, kuga sedih karena terus berubah. Tak berguna berlangsung, semuanya dalam keadaan fluks. Kebenaran ketidakkekalan tidak mengurangi, melainkan meningkatkan keunikan setiap hal, setiap orang. Hidup ini berharga karena begitu cepat berlalu. Penyair haiku, mungkin lebih daripada kelompok penulis, juga seperti wartawan uang melihat pada sifat fana dunia ini.
the owner of the cherry blossoms
turns to compost
for the trees
milik sakura
nyata adalah kompos
bagi pohonan
- Utsu (ayat kematiannya)

7. Kealamian
Dalam kedua Zen dan haiku ada apresiasi dari tanpa hiasan, dari yang usang dan lapuk. Saat menulis haiku, kita memperhatikan apa yang diabaikan, untuk apa yang ada di margin, untuk apa orang begitu mudah kehilangan di keramaian dan hiruk pikuk kehidupan sehari-hari. Kealamian berarti menjadi satu dengan alam, selaras dengan musim dan keadaan berubah sendiri.
the wind brings
enough fallen leaves
to make a fire
angin membawa
daun bergugur cukup
membuat api
- Ryokan

8. Perhatian
Suatu hari orang awam dikatakan Ikkyu, "Guru, tolong menulis untuk saya beberapa maksim kebijaksanaan tertinggi?" Ikkyu segera mengambil kuas dan menulis kata Perhatian. "Apakah itu semua?" Tanya pria itu. "Apakah Anda tidak menambahkan sesuatu yang lebih?" Ikkyu kemudian menulis Perhatian Perhatian. "Yah," kata pria itu agak kesal, "Aku benar-benar tidak melihat banyak kehalusan dalam apa yang Anda baru saja menulis." Kemudian Ikkyu menulis kata yang sama tiga kali: Perhatian Perhatian Perhatian. Setengah marah, pria itu bertanya, "Apa arti kata perhatian sih?" Ikkyu menjawab, "Atensi berarti perhatian." Dialog ini tentang merangkum: Haiku adalah seni memperhatikan.
peeling pears-
sweet juice drips
from the knife blade
kupas buah pears-
menetes jus yang manis
dari pisaunya
- Shiki

9. Responsif
Kita hidup di alam semesta yang dinamis dan kita dipanggil untuk menanggapi. Sebagai penulis haiku, kita menanggapi dunia melalui tulisan kita. Haiku, dengan mengungkapkan afinitas tersembunyi antara hal-hal, menegaskan keterkaitan dasar dari semua kehidupan.
each time the wave breaks
the raven
gives a little jump
gelombang rehat
seekor burung gagak
beri lompatan
- Nissha

Gagak menjadi satu dengan ombak, dan kami kembali ke tempat kami mulai di daftar kualitas Zen.

Catatan Editor: Artikel ini adalah versi kental dari sidang paripurna disampaikan di Haiku Festival Aotearoa, Wellington, 04-06 Maret 2005. Kami berterima kasih kepada Richard untuk memungkinkan untuk direproduksi di haikuKu ini.
Untuk informasi lebih lanjut tentang Richard von Sturmer dan Zen, melihat Auckland Zen Centre situs.
Beberapa catatan Haiku dan Zen : 
Catatan: Karena haikunya diterjemahkan ke bahasa Inggris dari bahasa Jepang terjadi perubahan mora/suku kata.
(New Zealand Poetry Society Te Hunga Tito Ruri o Aotearoa)
I remain, as before,
an old oak
Aku tetap, semula
pohon ek tua
the host, the guest
and the white chrysanthemum
tuan rumah, tetamu
dan krisan putih
the empty boat is
flooded with moonlight
perahu kosong
dibanjiri cahaya bulan
the puppeteer
keeps coughing
tentang seorang dalang
selalu batuk
a rat is lapping
the Sumida River
tikus memukul-mukul
Sungai Sumida
turns to compost
for the trees
nyata adalah kompos
bagi pohonan
7. Kealamian
enough fallen leaves
to make a fire
daun bergugur cukup
membuat api
8. Perhatian
sweet juice drips
from the knife blade
menetes jus yang manis
dari pisaunya
9. Responsif
the raven
gives a little jump
seekor burung gagak
beri lompatan
Untuk informasi lebih lanjut tentang Richard von Sturmer dan Zen, melihat Auckland Zen Centre situs.




RWM.BOONG BETHONY