11/02/16

Sumpah-sumpahan

SWORN PROMISE AND POSITION
Ro By.Romo Wi Ma

"The promise of the oath, Father!" shouted friends who daily work to bring a camera, mini recorder and pens.
"Yes, but do not have to be so angry buddy!" I said quickly. Seeing her emotions suddenly found MKD Assembly (Assembly Honorary Board) that was broadcast live Metro TV. More questioning 'what Syamsoeddin Maroef mean' recording the conversation. From the Focus on 'profiteering behalf of the President and his deputy'.
"And who does not emotion Romo? The problem is the 'profiteering name!' why even creeping everywhere. Everywhere use the term 'glorious - glorious' all. As if they were (a member of the Honorary Board Assembly) noble people of all! " reporter's friend said it in a tone of emotion.
Well, I know most TV viewers the live broadcast of emotions like him. How come? has received such public pressure, ee trial MKD (Honorary Board Assembly) it actually looks not seriously questioning the 'Profiteering Names President and his Deputy.
What is happening is as if - if Maroef Syamsoeddin as President Director of PT Freepoert Indonesia so the defendant and accused those glorious. So What Happens guys? So naturally when the late President Abdurrahman said that in 'Senayan - Building board members' the kindergarten aka TK.
Though the members were already doing Promise MKD. even vows that two (2) times. The first, when they inaugurated a member of Parliament and secondly, when they were sworn in as members of MKD. "Do not they say the pledges it under the witness of Scripture, Father" interrupted the reporter next to me.
"That's right buddy. But remember that oath or affirmation in modern times simply as a 'ceremonial'. The promise was no longer something that is meaningful 'Spiritual! So do not be surprised, if the oath was just a mere ritual. You the reporter, many reports inauguration is happening everywhere where, starting from the lowest level to the highest levelitasnya. There is not that is not to say Promise or oath before taking a position? even in private institutions, mass organizations including religious institutions are also always say Promise or oath. People also like to promise marriage or vow not? including you! " I explained at length, staring at her
My friend was just shook his head.
"Lha if the reality is so, I think we'd better not no promise or oath of office if pledges that became the beginning of sin!"
"Wah..Romo already started to offend-offend ya!" journalist friend said as he exhaled Sam Ji Su (cigarette my passion) living piece of it.
"Ha..ha..ha..ha ... promise or oath is not a play on words my friend!" I said. "The promise or oath that is Nasar! Nasar who must keep it just or on the run. Not to be banned prior forgotten. Because once spoken, he became the property of many embedded within each of many people! Especially in hearing the Lord! Do not you believe that?"
Reporter's friend just stared and in her eyes I read a regret that he never uttered a promise or oath, at least when he was appointed editor of the national daily newspaper.
"So I think, just stop insults to MKD or Setyo Novanto. And from now on let blasphemy itself as a regret that we never spoke a promise or vow and break it!"
"Ah Romo, life is difficult and a lot of accessories,"
I looked at her face, tam [pack of fatigue despite still looking at the TV monitor in front of us.
"So according to Romo how?" he looked back
"I do not have a lot of thoughts about it mate. Only, the possibilities that can be resume"
"You mean Father?"
"God's love for an appointment or a Vow to people you know!"
"Hmm!"
"Oath or affirmation of the first to the good people, people of faith, people who run the charity and worship!"
"Yahh continue Romo"
"The second, an appointment or a Vow it to people who do not obey, those who boast, people - people who are not running a charity and worship alias deny the Lord. The difference, Oath or Promise the first blessed / blessing and the second laden suffering, torment "
"Yes Father"
"The promise or oath of the Lord we can never be banned or forgotten the Lord. Sooner or later always in Meet the Lord! It is important that we remember the man. And not a single human being can escape Oath or Promise of the Lord, including me and yourself!"
"Achh Romo, you poke my mind, because I belonged to two people it!"
"My dear, that's great Lord! Someone who realizes fault or negligence and for mercy to Him. God happy and definitely excited to welcome them. Including you buddy!"
Then we stood hugging each other, encourage each other to remain a good person.
"I'm used to saying goodbye Romo, it feels need to be alone and dialogue with HE tonight"
I tapped his shoulder as he drove out. The clock showed PM.00.45 pm.

Indonesian Version

JANJI DAN SUMPAH JABATAN

By.Romo Ro Wi Ma
"Janji itu sumpah, Romo!" teriak teman yang sehari-hari kerjanya nenteng kamera, mini recorder dan Bolpoint.
"Ya, nggak usah sewot begitu sobat!" sergahku cepat. Melihat tiba-tiba dia emosi mendapati Sidang MKD yang disiarkan langsung Metro TV itu. Lebih banyak menyoal 'apa maksud Maroef Syamsoeddin' merekam percakapan itu. Dari pada Fokus pada 'pencatutan nama Presiden dan wakilnya'.
"Lha siapa yang tidak emosi Romo? Persoalannya kan 'pencatutan nama!' kok malah merambat kemana-mana. Mana pake istilah 'yang mulia - yang mulia' segala. Kayak mereka itu (anggota MKD) orang-orang mulia semua!" sahut teman wartawanku itu dengan nada emosi.
Yah, saya tahu kebanyakn pemersa TV siaran langsung itu akan seemosi dia. Bagaimana tidak? sudah mendapat tekanan publik sedemikian rupa, ee sidang MKD itu malah terlihat tidak serius menyoal 'Pencatutan Nama Presiden dan Wakilnya.
Yang terjadi justru seolah - olah Maroef Syamsoeddin selaku Presiden Direktur PT Freepoert Indonesia jadi terdakwa dan di pojokkan orang-orang yang mulia itu. So What Happen guys? Jadi wajar ketika Almarhum Presiden Gus Dur bilang yang di Senayan itu taman kanak-kanak alias TK.
Padahal para anggota MKD itu sudah melakukan Janji. malah mengucapkan janji itu sebanyak 2 (dua) kali. Yang pertama, ketika mereka di lantik jadi anggota DPR RI dan kedua, ketika mereka dilantik sebagai anggota MKD. "Bukankah mereka mengucapkan janji atau sumpah itu di bawah saksi Kitab Suci, Romo" potong si wartawan di sampingku.
"Betul sobat. Tapi ingatlah bahwa sumpah atau janji di jaman modern ini hanya sebagai 'seremonial belaka'. Janji itu bukan lagi sesuatu yang bermakna 'Spiritual! Jadi jangan heran, jika sumpah atau janji itu hanya ritual belaka. Anda kan wartawan, banyak meliput pelantikan yang terjadi di mana-mana tempat, mulai dari tingkatan yang paling rendah sampai yang tertinggi levelitasnya. Ada nggak yang tidak mengucapkan Janji atau sumpah sebelum menjabat sebuah kedudukan? bahkan di lembaga-lembaga swasta, organisasi massa termasuk lembaga keagamaan juga selalu mengucapkan Janji atau sumpah itu. Orang nikah pun mengucapkan Janji atau sumpah bukan? termasuk anda!" jelasku panjang lebar sambil menatapnya
Temen saya itu hanya menggeleng.
"Lha kalau kenyataannya begitu, menurut saya lebih baik tidak usah ada Janji atau sumpah jabatan jika janji atau sumpah itu kemudian menjadi awal dari perbuatan dosa!"
"Wah..Romo sudah mulai nyinggung-nyinggung nih!" sahut teman wartawan sambil menghembuskan Ji Sam Su yang tinggal sepuntung itu.
"Ha..ha..ha..ha...Janji atau sumpah bukan sebuah permainan kata sobatku!" sahutku. "Janji atau sumpah itu, adalah Nasar! Nasar yang mustinya di tepati atau di jalankan. Bukan untuk di ingkari terlebih di lupakan. Karena sekali terucap maka dia menjadi milik orang banyak tertanam dalam sanubari banyak orang! Terlebih di dengar TUHAN! Apa kau tidak percaya itu?"
Teman wartawanku hanya menatap dan dari sorot matanya kubaca suatu penyesalan bahwa dia juga pernah mengucapkan Janji atau sumpah, setidak-tidaknya ketika ia diangkat jadi redaktur koran harian Nasional.
"Jadi menurutku, hentikan saja hujatan kepada MKD atau Setyo Novanto. Dan mulai sekarang mari kita hujat diri sendiri sebagai sebuah penyesalan bahwa kita juga pernah mengucapkan Janji atau sumpah itu dan mengingkarinya!"
"Ah Romo, hidup ini sulit dan banyak pernak-perniknya"
Aku manatap wajahnya, tam[pak kelelahan meski tetap mamandang monitor TV di depan kami.
"Jadi menurut Romo bagaimana?" ia menolehku.
"Aku tidak punya banyak pikiran tentang itu sobat. Hanya, kemungkinan-kemungkinan saja yang dapat menjadi resumeku"
"Maksud Romo?"
"Tuhan itu suka buat Janji atau Sumpah kepada manusia lho!"
"Hmm!"
"Sumpah atau janji yang pertama kepada orang-orang baik, orang-orang beriman, orang yang menjalankan amal dan ibadahnya!"
"yahh terus Romo"
"Yang kedua, Janji atau Sumpah itu kepada orang-orang yang tidak taat, orang-orang yang pembualan, orang - orang yang tidak menjalankan amal dan ibadahnya alias mengingkari TUHAN. Bedanya, Sumpah atau Janji yang pertama penuh berkah/berkat dan yang kedua sarat penderitaan, siksaan"
"Ya Romo"
"Janji atau sumpah TUHAN kepada manusia tidak pernah di ingkari atau di lupakan TUHAN. Lambat atau cepat selalu di Penuhi TUHAN! Ini yang penting kita ingat sobat. Dan tidak ada satu pun manusia yang akan luput dari Sumpah atau Janji TUHAN itu, termasuk aku dan dirimu!"
"achh Romo, engkau menyodok batinku, karena aku termasuk golongan orang ke dua itu!"
"Sobatku, itulah hebatnya TUHAN! Seseorang yang menyadari kesalahan atau kelalaiannya dan minta ampun padaNYA. Tuhan dengan senang hati dan pasti gembira menyambut mereka. Termasuk dirimu sobat!"
Lalu kami berdiri saling merangkul, saling menguatkan untuk tetap menjadi orang baik.
"Aku pamit dulu Romo, rasanya butuh menyendiri dan berdialog dengan DIA malam ini"
Kutepuk pundaknya sambil mengantarnya keluar. Jam menunjukkan pkl.00.45 Wita.

Tepian Mahakam, 4 Desember menjelang 5 Desember 2015.






RWM.BOONG BETHONY

Tidak ada komentar: