11/02/16

Kecoak jadi pahlawan?


Pahlawan dan bla..bla..bla.

By.Romo RWM.



Indonesia adalah negara yang mungkin paling banyak memiliki ragam sebutan resmi untuk para pahlawannya. Simaklah : ada pahlawan kemerdekaan, pahlawan revolusi, pahlawan tanpa jasa, pahlawan tak di kenal (bagi mereka yang gugur dalam pertempuran dan tanpa identitas), pahlawan pendidikan, pahlawan lingkungan, pahlawan reformasi, pahlawan kemanusian, pahlawan kebudayaan, pahlawan devisa dan mungkin akan muncul lagi embel-embel lain di belakang sebutan pahlawan. Misalnya, pahlawan air, pahlawan laut, pahlawan sungai, pahlawan jalan raya, pahlawan kampung, pahlawan kota, sampai pada pahlawan kesiangan dan pahlawan bla..bla..bla


Di ngera lain (Eropa dan Amerika, Australia, jepang China, Korea dan Malaysia..ini yang saya tahu) , sebutan pahlawan diberikan sebagai penghargaan terhadap kejuangan baik untuk bela negara pun untuk kemanusian termasuk lingkungan alam, hanya disebut Pahlawan Negara titik situ dan bukan bahlawan bla..bla..bla

Pertanyaan besar untuk kita ialah, Apa sesungguhnya pahlawan itu? Dan siapa yang menentukan seseorang harus disebut pahlawan? Sebagian rakyat Indonesia akan menjawab : Negara melalui ketetapan Pemerintah dan di umumkan oleh pemerintah. Di luar itu haram hukumnya...jangan coba bla..bla..bla.

Apa persyaratan menjadi pahlawan (lhoo ada syaratnya ya?). Ada! Dan itu ditentukan oleh penguasa atau pemerintah, makanya pahlawan di Indonesia itu dari periode ke periode bertambah jumlah penyebutannya. Sesuai penyebutan dan SK pemerintah. Karena itu kamu jangan sok menyebut diri pahlawan dan minta jasa. Itu namanya sok pahlawan, Sok bla..bla..bla.

Karena musti sesui syarat pemerintah dan terbukti memenuhi maka diangkat sebagai pahlawan. Jadilah seseorang pahlawan, versi pemerintah, selera pemerintah. Pokoknya Harus Formal dan lewat satu pintu. Di luar itu bla..bla..bla. 

Pertanyaan berikut, artinya jika tidak diangkat dan di SK kan oleh pamerintah maka tidak ada pahlawan? Betul dan itu karena bla..bla..bla

Nachhh menjawab pertanyaan terakhir ini sangat seru dan bisa menimbulkan polemik berkepanjangan. Siapa saja akan mengeluarkan pendapat, resume bahkan tesis sahih, pokoknya bla..bla..bla. 

Pada akhirnya menurut filosofi kepahlawanan, semua orang adalah pahlawan tetapi juga korban.
Ya pahlawan bla..bla..bla
Ya korban bla..bla..bla

Padahal, di kampungku seorang Bapak tua dengan fasih ia menceritakan bagaimana pertempuran ambara dan di dagunya masih tersimpan serpihan mortir.
Padahal, di kotaku seorang ibu tua suku tionghoa merelakan seluruh dagangannya habis di konsumsi untuk peperangan 6 hari di Semarang.
padahal, bapakku juga pahlawan untuk keluarganya
padahal, ibuku juga pahlawan untuk suami dan anak-anaknya

Padahal, aku juga bla..bla..bla.

Tepian mahakam hari tanggal bla..bla..bla tahun bla..bla..bla.




Negeri Kecoak
By,Romo RWM.

Di negeri para Koruptor dan kaum cecunguk, pahlawan adalah cerita kebaikan tak perduli apa maksud, apa tujuan, apa motivasi berbuat itu. Maka syahdan di negri para kotuptor dan kaum cecenguk, orang berlomba lomba berbuat baik, berkompetisi mempertontonkan keluhuran, riuh berretorika, semangat menafsir nafsir ayat ayat suci. Lantaran itu, di negeri kaum koruptor dan kaum cecenguk, cinta ada dimana mana. Di setiap sudut, di bilik bilik, di ruang ruang, di kantor kantor birokrat, kantor aparat bersenjata, kantor budayawan, di pertapaan pertapaan penjaga moral. Semua berkisah dan berlaku cinta. Jangan coba bertanya terlebih menggugat. Sebab mereka memiliki banteng banteng ketaton, prajurit prajurit perkasa siap mati. Persis seperti pepatah Yunani kuno, banyak yang rela mati untuk orang baik tapi tak satupun bersedia untuk orang benar.

Mereka menjual dan mencipta pahlawan pahlawan tak perduli si bangsat, wani piro? 


Di negeri para koruptor dan kaum cecunguk, tuhan hanya tukang sulap yang dalam sekejab mengubah sikurus bertambun ria, si pejalan kaki berroda ria, beristana ria, semua serba ria. Tuhan mereka pesta ria, ritual meriah ria, bersesakan penuhi rumah ibadat hingga tumpah ria. Itulah amal ibadah, gelembung pundi pundi menyulap rumah rumah doa cerlang gemerlang, megah kokoh. Di antara kasur dinding atap kardus kumuh menghitam jelaga persis para koruptor dan cecenguk itu.
Maka berkeriapan siang malam para pahlawan di mana saja memelihara si papa tetap miskin si derita dalam sengsara si bodoh mudah di perintah. Berlaku gagah diantara gubuk liar, bertingkah dermawan di tengah nasib buntung. Maka malang malang tuntas rawe rawe rantas rame rame buntung mereka di bela banteng banteng kataton, prajurit handal siap mati demi pahlawan. 

Di negeri para koruptor dan kaum cecunguk, tuhan berdansa dansi, berjogetria sambil meneguk anggur memerahkan muka mabuk kepayang bertelanjang bulat seperti Adam dan Hawa. Tak jelas antara rumah bordil dan rumah doa, tak ketahuan rumah sekolahan dan pub, tak nampak kantor dan rumah judi. Tak kentara rohaniawan dan perompak, semua sama, Semua halal, semua kudus semua dapat di beli. Wani piro?

Tepian Mahakam, Medio November'15.
 — di Kota Samarinda







RWM.BOONG BETHONY

Tidak ada komentar: