24/10/22

Kisah Akhir Pekan

Kisah akhir pekan.


Surya menusuk nusuk di rerumputan petas tertimpa reranting yang subur menggeletak menggelepar. Seperti hangat tunggku menghias meja lapang menyatu umbi umbian, keras di garis kering sesawah. Tiada apa tiada gerak, hanya bayu bersenandung haus.
Danau, sungai, mata air tingal bebatuan, seperti tikungan tajam di pelipis pipi anak anak tirus dan cekungan pipi tetua renta. Waktu pun berhenti, hanya petaka tergantung dimana mana. Pada segala pokok, pada semua mahkluk tanpa tanding, bulu pun rontok.
Sayup mengalun seruling menyayat jiwa iringi gendhing cucur bawuk keranda menari nari hidup kembali baru. Bak bebiji masuki alam baqa lalu bangkit beri bulir dan panen bebuah, kesegaran hanya mimpi ini kali.
Tuhan tunggangi bayu hinggap di pepucuk rumah lantaran tak ada lagi pepohon terlebih dedaun hanya bayangan perih, luka, duka di jam kematian.
Bintang gemintang setia menatap dalam sembab, timur, barat, selatan dan utara masih sama. Tak beringsut, bepergian, pun bergeser. Kesetiaan adalah cinta, ialah asmara. Seperti keteguhan Tuhan mencintaimu.
Jangan cari salah apalagi lapor sampai kesurga, semua ada di sini. Di rumah kita. Bukan disana atau disitu tapi disini, di rumah kita. Rumah semua mahkluk, bukan hanya rumahmu.
Tuhan melompat lompat hindari bara, bara di hatimu.
(Selamat berakhir pekan sobat dan handaitaulan.
Jangan lupa pake masker)

Sajak-sajak hutan.

Aku menggerutu gerah diantara rerindang luruh
pada pokok-pokok perkasa
seperti kenangan yang ditulis penyair
mengenai hutan
mungkin 40 tahun mendatang
sajak hutan
hanya kata
(menggali mata air dari air mata dan air keringat)
Foto : Rob Colection'17





RWM.BOONG BETHONY

13/10/22

Puisi TUHAN

Puisi.

Tuhan ialah Puisi. Ia tabur dari langit tiap bait diriNya,
Ada yang jadi daratan, lautan, air, batu, rumput, pepohonan, hewan.
Bait terakhir dari Puisi itu adalah Kau dan Aku.

Rahwana

Dulu, dulu sekali pohon ialah kehidupan buah ranum subur dalam tubuh. Kitab-kitab lama cerita bukan buah saja, dedaun, ranting dan pokok bahkan akar adalah hidup
Pilih yang ranum dan baik, tulis buku lama di bab satu. Jangan yang busuk kau telan ulat bersarang dalam tubuh.
Rahwana tak menyisakan, semua ditelan. Buah, daun, ranting, pokok dan akar. Sejak itu ia berkepala sepuluh. Maka semua pohon ditelan, jadi rumah, jadi gedung, jadi meja kursi jadi apa saja yang bukan pohon. Bumi meradang kehausan, air menguap merintih, lautan mendidih berapi. Dan asap menutup Asoka, rumah, gedung, meja - kursi, jadi arang.
Tiada tersisa.
Dan buku tua tertutup.
(Anyer, Medio November 2019)

foto : Rob Colection



RWM.BOONG BETHONY

09/10/22

Sarkem

stasiun tugu dan Sarkem


Saat kerlip padam
tarian jejak menghangat tubuhmu
gudeg sambal lalap sarat pada lalu lalang
tapi di ujung stasiun tugu
seorang gadis kecil duduk sendiri
ia memainkan bola bening di perasaan
ia menghitung roda kereta
tanpa lelah
seperti semangat
karena hanya itu yang dimiliki.
ia mengingatkan aku padamu.
gadisku, dulu. seperti kisah-kisah di bilik sarkem Foto : News - Harian Jogja

lainnya


RWM.BOONG BETHONY

Sang Penari.

Sang Penari.

Gemulai
Lentik
Mempesona
dan
memainkan gerak-gerik langit. Foto : Rob Colection



RWM.BOONG BETHONY

The Old Man

The Old Man and a piece of rhyme

Lord,
I'm only a human, just a man
The Old man was to start way in his prayed.
Help me to believe that You are here beside of me in what i could be and all that i'm
Lord,
I have to climb, for my sake and teach me to take someday maybe tomorrow, Lord.
And please show me the stairway I can to do
Lord
Just give me the strength to do day by day what i have to do
And help me to day.
Show me the way what i have
I think it is well, well for my soul
Lord
I'm only a human, just a Old man
I'm took my time,s, i took all the time,s for nothing, it was Lord.
Now i'm lost, lost for everything, lost for myself
No food, no shoes, no home, no once
Only my heart
Just my heart, Lord
And i'm ready, ready to go home
The old man was write the poem and get a sleep.
Sleep for long time's.
Go old man, I wrote this poem for you.
( Jakarta, Oktober 2022) Photo : Smule.com





RWM.BOONG BETHONY

08/10/22

Antara Cerebon - Tuban

Antara Cirebon - Tuban.


ngobrol diremang malam
duduk dibangku panjang
nikmati gorengan yuk Ina
segelas kopi aroma beras
selalu terasa pesona
bercakap dipekat malam
baring dibale bambu
rasai jemari Iyem
dari aroma minyak kopra
selalu melepas lelah
berbisik pada gelap malam
terlelap kamar pengap
terlena dalam dengusan
buruh memburu
antara saudagar dan pembayar
bertutur tentang malam
tak perduli siapa
yuk Ina atau Iyem
aroma dan wewangi
selalu menemani
Berjalanlah dari Cerebon menuju Tuban
tak kentara antara preman dan preman
tak jelas antara penipu dan penipu
sebab warung dan lapak tak beda
sebab moral dan moral sama
selalu sama
selamanya sama
Yuk Ina dan Iyem selalu ada, dimana tempat
menantimu.
( cerita dan kisah Pantura! Pekalongan, awal oktober 2013) Foto : Mediakita.com


RWM.BOONG BETHONY

Sajak AIR

Sajak tentang air.

Di negeri pardikan sumber-sumber dan mata air bukan milik kawula
Hajat banyak orang tak berarti
maka sawah - sawah mengering, membatu, mengeras, sungai kehilangan gemericik batu - batu berubah warna
alur kali hanya limbah tak ada air
di hulu nun jauh di atas sana, mata air jadi botol dan galon menyumbat sebab itu jangan harap air selain limbah
Ini negeri pardikan sobat, kawula membayar milik sendiri jadi gunungan sampah yang merampas kesuburan negeri ini lima puluh hinggaratusan tahun
Kadipaten dan kawedanan sibuk menghitung kampung atau dusun mana dijual
Untuk bupati dan wedana tak kentara orang dan hewan, tak jelas sawah kebun, tegalan, pekarangan, hutan dan mata air, hitung-hitunglah keuntungan
Mata air, hutan, lembah, gunung dan isinya hanya komuditi, mati hari ini atau esok sama untuk kawula, jika bisa mati hari ini mengapa tidak?
Di negeri pardikan, mata air ialah milik pemerintah, belilah pada kami tawar seorang menteri, bayarlah kemasan dan air, tumpuklah botol plastik dan galon jika tidak buang kemana saja.
Maka rakyat meradang, milik sendiri berharga mahal setetesnya berapa keuntunganmu wahai penguasa
Teringat buku sejarah, kadipaten dan kawedanan jadi antek penjajah. Sawah, kebun, tegalan dan pekarangan disulap jadi tebu, semua kerja untuk tebu dan tuan-tuannya, tak perduli kamu sakit atau lapar.
Sekarang negeri pardikan tak lagi subur gemah ripah loh jenawi, sebab sumber hidup dikuasai dan di jual ke penjajah, persis sejarah itu.
Maka rakyat membeli air, mengongkosi pabrik botol dan galon mencuri kesuburan tanah sendiri karena plastik
Di negeri pardikan, kawula mensejahterakan, membahagiakan, memakmurkan pemerintah dan pemerintah pelahan membunuh rakyat di balik UUD'45 kekayaan bumi, di atas di bawah di tubuh ibu pertiwi.
Ini negeri pardikan bung, bukan negeri merdeka.
Ini negeri pardikan bung, bukan negeri merdeka.
Ini negeri merdeka kapitalis liberal di mana kawula jadi modal dan pijakan kekuasaan untuk di injak-injak
Ini negeri pardikan bung air gratis di jual mahal.
Foto : Roboguru-Ruangguru



RWM.BOONG BETHONY

07/10/22

Bahasa Alam

Bahasa Alam.

Beberapa kota besar di Indonesia ketika hujan ringan apalagi hujan lebat, maka cerita banjir, air menggenang, air parkir ( istilah gubernur Anies hahahaha), jadi berita utama. Belum lagi bahwa berita-berita banjir ini disertai korban materi sampai korban jiwa.
Apa sebenarnya yang terjadi ketika banjir? Apakah karena curah hujan sekarang ini lebih lebat dari tahun-tahun sebelumnya? Hayoo kita telisik satu demi saru.
Masih ingat lagu Bengawan Solo dan Semarang Kaline Banjir, karangan Maestro Gesang? Nach lagu yang almarhum Gesang karang sebelum tahun zaman Orde Baru itu memberi gambaran bahwa Hanya ada 2 kota, Yaitu Solo dan Semarang yang selalu di landa Banjir. Kota Surabaya, Medan, Jakarta, Makassar, Malang, Bandung, dan kota lainnya, di jaman itu tidak pernah terdengar kebanjiran, tergenang air atau air parkir (kata Anies Baswedan). Tapi sekarang ini hampir semua kota-kota besar di Indonesia akan mengalami banjir ketika hujan turun. Tentu ada sebabnya, ada yang membuat gara-gara untuk banjir itu. Coba anda renungkan beberapa pokok pikiran saya di bawah ini :
1. Pembangunan Jalan raya dengan sistem tumpuk seperti sekarang, merupakan tanggul air terpanjang sedunia. Sistem pembangunan jalan raya seperti itu, sama sekali tidak ramah alam dan tidak manusiawi terhadap rumah penduduk sekitar jalan raya. Jalan makin tinggi sementara areal sekitar jalan raya tetap seperti semula.
Padahal kita tahu bawa air akan selalu mengalir menuju ketempat yang rendah (Sungai, Danau dan lautan) Tapi karena tanggul-tanggul panjang itu (jalan raya) menghambat air, maka tergenangkan areal sekitar.
2. Betonisasi areal terbuka. Membeton areal terbuka entah dengan semenisasi atau sistem kunblock pada hakekatnya merupakan penyumbat aliran air masuk tanah. Karena air tidak bisa masuk ke tanah, maka ia menggenang.
3. Bangunan Vertikal dengan pondasi bermeter-meter di bawah tanah. Tiap Bangunan vertikal/bertingkat, terlebih yang 10 tingkat keatas, butuh pondasi kuat, kokoh dan tahan atas segala arah (Tekanan berat, hembusan angin, goyangan, dst). Maka tiap bangunan bertingkat/vertikal akan membangun pondasi cuku dalam, baik dengan sistem paku bumi, penumpukan beton dalam tanah, sistem cakar ayam, semua itu tertanan cukup dalam di tanah.
Banyak yang tidak melihat bahwa sistem ini pun menyumbang penyumbatan air baik yang masuk ke tanah pun yang mengalir dari dataran tinggi ke yang lebih rendah.
4. Penggundulan hutan dan pemanfaatan hutan untuk perkebunan sawait dan perumahan. Pemanfaatan hutan dan lembah untuk perkebunan sawit dan pelebaran perumahan adalah salah satu penyumbang utama terjadinya banjir di banyak tempat di negeri ini. Bukankah hutan (pepohonan, perdu, rerumputan) adalah tendon air yang terbesar? Ketika tendon-tendon itu hilang, maka daya serap tanah ketika hujan turun berkurang dan mengakibatkan pergerakan air jadi sangat cepat dengan membawa lumpur dan segala janis material di sekitar pergerakan air dari tempat tinggi ke areal rendah, terjadilah banjir bandang dan menyapu desa, dusun bahkan kota yang dilewatinya.
5. Ketika alam lingkungan rusak atas kesewenang-sewenangan manusia dengan bahasa demi pembangunan, demi ekonomi, tanpa disertai pemikiran yang komperehensif, terukur, kritis dan memperhatikan dampak Lingkungan (AMDAL), maka manusia akan menuai akibat dari cara membangun yang meninggalkan harmoni manusia dan alam.
6. Teologi-teologi lingkungan alam dari perspektif agama-agama pun sering kali mendukung pembangunan yang merusak alam itu yang pada hakekatnya sebuah pengingkaran pada Kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang terlihat dari kebaikan alam terhadap manusia.
7. Kita yang butuh alam dan alam tidak butuh manusia.
Kita terima banjir, karena itu adalah bahasa alam yang ingin memproteksi diri dari kejahatan manusia.
Tak perlu menuding siapa ketika banjir datang, lha wong kita diam saja ketika segala bentuk pembangunan tidak menghormati kemuliaan alam ayng suka memberi.
Mungkin saatnya Alam mengambil dari manusia. Banjir menggenang di Jakarta di awal Oktober 2022.
Salam dan doa. Foto : Otomotif - Tempo.co



RWM.BOONG BETHONY

05/10/22

Lelaki Baya

KURSI DAN LELAKI BAYA.


Di kursi goyang, lelaki baya memandang rembulan
Teras rumah sunyi, temaram sepii bersama sinar sang dewi
Dulu! Beberapa tahun lalu, sinar matamu tak kalah cahya rembulan itu, bisik lelaki tua.
Tapi sekarang redup, persis sinar dewi di atas sana.
Rerimbun bambu di samping gemerisik, seperti hatinya, berisik.
Cinta ini kau bawa pergi, hati ini pun kau raih.
Hanya kursi dan lelaki baya.
Tak mengertikah engkau duhai rembulan?
Lelaki memandang langit
Membiarkan kursi bergoyang sendiri
Kembalikan padaku apa yang kau ambil.
Ia memandang rerimbun bambu yang masih gemerisik
Pulanglah, pinta lelaki pada rembulan
Setua itu kah dirimu?
Bukankah cinta
Hati
Tak pernah tua
Tak pernah usang?
Di kursi goyang, lelaki baya menatap bunga mekar di halaman
Teras rumah sunyi, temaram sepi di sela-sela cahaya mentari
Embun baru saja pergi, sedingin hati
Hati yang menunggu
Hati yang menanti
Persis mentari yang diam-diam membakar hati
Hati yang menanti
Hati yang menunggu
Datanglah
Kemarilah
Lelaki baya memetik sekutum kembang, mencium dan mendekap
Tak pernah kah kau pikir
Cinta
Asmara
Tak pernah lapuk
Tak pernah tua
Datanglah
Kemarilah
Kursi dan lelaki baya
Bergoyang bersama
Hari senja
Mati bersama kursi yang diam.
(medio September 2017, Hotel Primera Santika- Yogyakarta)



RWM.BOONG BETHONY

03/10/22

OPA

Opa pergilah.


Engkau lelaki
kemana dimana bagimu sama
untukmu hari kemaren, hari ini dan esok, sama.
Pergimu membawa separuh jiwa, seluruh cucu cicit
Teringat saat kau ayun sepeda tua berkeriyet riyet menyusuri lorong bebetu diantara rerimbun pokok nyiur
Kau berkisah tentang cintamu, kekasihmu, kegagalanmu, kolam tuamu
Saat ini opa, semua cerita itu terdengar sejuk.
Wajah tuamu, sorot matamu, keriput kulitmu dan getaran suaramu adalah cinta, nafas hidup cucu cicit
Terngiang pesanmu pada selarik kertas tua, kau tulis di situ 'Jangan pernah berharap orang lain menolong selain dirimu dan Tuhan tetapi bahagialah memenuhi harapan dan pinta orang lain'
kertas tua itu opa, kumamah, kutelan dan kini jadi sumsum tulang, jadi sel sel yang membaharui pandangan dan batin, jiwaku.
Pergilah opa, seperti yang pernah kau tuturkan semua akan pergi, tak ada yang tinggal.
RIP Opa tersayang. 3 Oktober 2015


RWM.BOONG BETHONY

24/09/22

Tanjung Priok

Tanjung Priok

Aroma laut menjemput aneka parfum
Barang berkotak-kotak bergerak datang dan pergi
Di bibir laut, dermaga beton, kulepas kekasih mencumbu Ceremei
Tak ada lambaian sapu tangan terlebih selendang biru muda seperti 40 tahun lalu saat engkau berlayar menuju laut bebas
Lampu kuning kokoh mematung diselingi laron-laron tertipu kilaumu persis para pendatang berlabuh mengadu nasib di tubuh bandar Jakarta jadi apa saja, kau aduk jadi satu
Tanjung Priuk oh semenanjung Jayakarta berabad jadi pintu gerbang imperialis, pencuri dan pedagang dari mana-mana.
Tanjung priuk oh semenanung Jayakarta, engkaulah saksi perpisahan dan kisah antara air mata berbaur darah bahkan jadi jalan tikus penelikung pajak, candu, cerita yang tak usai.
Tadi, subuh sebelum ayam berkokok langit jakarta pucat tanpa embun, kering dan tak bergairah bukan karena kau meninggalkan dermaga beton itu, semata karena jakarta dan langit tak saling mengenal. Karena itu, di sini, di jakarta kita hanya saling menatap, jika jodoh saling menyapa.
Tanjung Priuk, kota yang terpinggirkan sebab itu di sana selalu ada cerita perpisahan. Foto : Ekonomi & Bisnis


RWM.BOONG BETHONY

Kisah-kisah Malam

Sajak Segenggam malam.

Menyeruak lembayung
tanpa bayangan
Pada malam kucerita mimpi
satu-satu nafas
karena malam juga kehidupan
menguak senja
tak membayang
pada malam kudapat mimpi
satu-satu nafas
sebab malam ialah hidup
jika tidak
Tuhan pasti hanya memberi siang.
Tadi, ditepian Mahakam kurajut Tuhan pada tiap arti ku genggam.
Kecuali itu, malam pengadil siapa saja.
setelah usai bait tentang debu
tak ada cerita.
tapi malam tetap saja begitu
Jika tidak
Tuhan tak yakin kugenggam
Barusan malam berkisah
Tuhan bercinta dengan siapa saja
denganmu
mereka
dia
aku.
besar cintaNya
Ia tak perduli
borok aidsmu
luka sipilismu
makanya dimesrahi tiap waktu engkau.
(RWM, Mahony tepian mahakam, Medio Sep'014)

Perempuan malam.

Di rembang pagi malam tergesa menjauh sambil memoles gincu di bibir pekat
Selusin botol beer telanjang menganga menantu kekasih
Gaun malam tergeletak di tepian ranjang
namun hanya bayangan angin mengibas daun jendela
Kau selalu pergi dan membiarkan pintu menganga seiring ngungun pagi
Engkau bayangan di tepi malam, berseri memeluk kekasih
Menghembus embun jadi butir air sedingin kecupan yang tersisa mengantar kau berlalu
Dan perempuan ayu pemeluk bantal itu selalu bermimpi di ujung pengharapan sia sia.
Citra engkau bayangan begitu para pujangga menyebutmu
Pelukan hanya bayangan
Kecupan yang tersisa pun bayangan
Kecuali bau keringat berbaur parfum
hanya itu.
(Pojok Plaza Semanggi, medio Nov'19)
Foto : Bola.com



RWM.BOONG BETHONY

18/09/22

Kangen

Kangen.

Denpasar aku datang. 

Mari berncanda nikmati debur riak sanur dan celoteh pengagummu.

Ku harap tubuh elok dan pesonamu

merangsangku mengukir syair-syair yang lama mati

masihkah gairah lenggok-lenggok dan jemari lentik dalam kerling nakal

bangkitkan gairahku mencumbui parasmu

Sanur! Sanur! 

Ku rindu janur-janur menyatu tonggak penjor

Mendayu rayu

kembang pelangi menebar senyum

Sanur, engkaulah sejatinya gadis dewata

Gadis seribu wajah.

(taman Srigunting, 18 sep'011)

Bali dan kerlip bintang

Kute adalah desir ombak bermain cahaya dalam garis meliuk liuk mengejar buih diantara binar cahya lampu dan sorot mata menyatu dalam gelas gelas kaca dengan seribu kisah
Cerita yang melegenda kemana saja menarik semua orang untuk datang mencumbuimu bahkan menyesahmu.
Bali, engkaulah dewa atas semua wisata

KANGEN.

 

Berlari lewati pintu

Melompati gerbang

Menyeruak diantara balai-balai

Hati pedih, keluhmu

Jiwa sakit, teriak engkau

Rasa mati, pekikmu

Aku terdiam

TerpekurMerunduk

Rindu ini larut 

Kangen ini luruh

Meranggas

Meradang

pada sore berikut

kudapati tubuhku terbaring kaku

setangkai mawar merah muda merajam

tepat didada.

pagi berikut

kau cabut mawar itu

tanganmu merobek dadaku

kau bawa lari isinya.

Kidung Rindu.

 Rindu Ku

Menari diantara daun-daun luruh

Menyibak rerimbun pohon-pohon sajak

Mengecup manis kembang-kembang Puisi

 

Rindu Ku

Bergelantung pada akar-akar tua

Menjingkrak liar diantara rumput-rumput Pantun

Berlompatan pada pucuk-pucuk Syair.

RinduKu.

Foto : FJB Kaskus




RWM.BOONG BETHONY

Sajak Tentang Makassar.

Sajak tentang Makassar.

Di ujung yang dapat di lihat
Kesana daeng dan Karaeng menyatu di warung-warung Coto, nikmat dalam keringat
Sara'bak hangat mengalir di sungai cere'kang seiring alunan pemusik jalanan
Kaki lima, menawar pisang epek, es pisang hijau, nyuknyang dan sanggara' di garis Losari
Sengkang maki'
Mai maki'
Jappa-jappa maki..
Oh rinni maki
Di ujung yang dapat di pandang, disitu Makassar
Kota tua dimana orang-orang berebut asa bukan hanya dari Malino, Toraja, Soppeng, Bone, Palopa, juga dari Palu, Manado, Ambon dan bau-bau
Makassar kampung to Mangkassara' tak pernah sepi sejak jaman VOC dan entak kapan kan henti.
Tangan dan lengan bahkan kaki tak henti bergerak, memoles, menempa, mengolah, memikul, bercanda di bandar Makassar
Di ujung yang dapat di pandang, di sana Makassar berdiri tegak memghadap samudra
Hotel, penginapan dan wisma tak sepi sepanjang waktu
Bus-bus dari Pare-pare, Mamuju, Sengkang, Enrekang, Masamba, Rantepao, Malili, Tanah Toraja dan Mangkutana berlomba menerobos malam berpadu pete'-pete' Di ujung yang dapat di pandang, di sana bandar besar, bersandar melepas sauh kapal-kapan besi dan perahu Pinisi mengiris lautan menyebrang samudra bertukar budaya antar bandar dunia. Kami orang-orang Bugis, kami orang-orang Makassar, ombak dan samudra adalah tempat kami bermain.
Di Makassar, songkolo' sarapan yang nikmat.
(Makassar, Medio September'18)

Balada Majene.

Membayangkan pantai berpasir hitam di tepian Majene, teringat jejak kakimu terhapus riak ombak dan tawa renyahmu terbawa angin.
Aku rindu, aku kangen
Ikan tengiri segar, sekantong cumi-cumi kau suruh aku membeli saat perahu kecil mencium bibir pantai mengusir lelah ombak semalam
Girang engkau menggoreng, meracik bumbu, mengepul nasi, aroma sedap mengguncang perut duduk berhadapan denganmu
Masih kau ingat kekasih?
Sore ketiga, saat hujan turun, secangkir kopi toraja hangat, sepiring ubi rebus kau taruh, sehelai sarung bugis berwarna-warna kau lilit di batang leher. Kau berbisik "Syal abang tertinggal dimana?"
Teringat dan rinduku disana.
Hari minggu november tahun itu, ajak aku melihat kampung-kampung di kaki bukit, terjal, kering dan hanya pokok-pokok bambu sepanjang setapak, pengusir terik, runduk, reyot seperti rumah-rumah di kaki bukit itu.
Majene duhai Majene, apa kabarmu sarrebattang?
Membayang sungai-sungai kering diantara bebukit berhimpitan itu, tersadar betapa orang-orang Majene perkasa, sabar, tak mengeluh. Merawat hidup, merawat bukit, merawat sungai, meruwat keluarga.
Adakah epos
hebat
ini dibenakmu duhai kekasih?
Membayangkan tepian Majene berpasir halus, lenggok tubuh berselendang biru, berayun-ayun, melambai-lambai, memanggil bertarian diantara alun ombak, riak putih berbuih.
Perahu cadik pergi dan kembali diantara yang tak pulang.
Bukan. Bukan petaka, tapi pengabdian.
Kelak, anak cucu bercerita, mereka anak-anak laut, orang Majene.
Orang-orang perkasa, sabar, tak mengeluh. Merawat hidup, merawat bukit, merawat sungai, meruwat keluarga.
Membayangkan semua itu, surat merah muda, ribuan kata mesra, ratusan amplop berprangko, tinggal cerita.
Maafkan aku bang! Pintamu.
Lupakan rindumu
Bunuh kangenmu
Sebab, kami orang-orang Majene, akan selalu meruwat keluarga.
(Majene Medio november 1992)
Foto : Suara.com



RWM.BOONG BETHONY

11/09/22

Tenun Ikat

Sajak tentang Tenun ikat.

Memintal benang mencari warna diantara dedaun, akar dan kembang-kembang hutan.
Mengaduk rasa dan akal antara warna tetumbuhan
Lalu hitam, merah tua, coklat tua dan putih benang mengingikat-ikat.
Serat-serat hati
Urat-urat tangan
Menyatu dalam gerak gemulai kaki dan tangan
Tak..tak! Tak..tak! Tak..tak.
Merdu kayu menyilang diantara benang
Sulam menyulam diantara lorong dan jajaran simetris
Tak ada yang gampang terlebih Indi
Tak mudah apalagi instan
Berkelana ke seluruh negeri menyebrang samudra terbang di angkasa
Nyai, emak, mama, selonjor
Menenun
Mengikat
Negeri ini ialah tenunan mereka
Punya mereka
Milik mereka
(Awal September'18)

Gambar : Corak Tenunan Sika.


RWM.BOONG BETHONY

09/09/22

C I N T A dan K E S E T I A N

CINTA DAN MANUSIA.

Suasana ruang tunggu terminal IA sore itu agak sepi. Sambil menengok kiri kanan, aku mencari posisi untuk duduk. Kupilih kursi dekat Monitor disamping kanan front office Maskapai Batik Air. badanku terasa lelah, setelah menempuh perjalan Bandung - Cengkareng. Bukan karena jarak yang membuat lelah, tetapi lantaran macet hampir disepanjang ruas jalan Tol yang padat setiap akhir pekan.
Dering khusus Android membuatku terkejut dan segera merogoh saku celana. Dan membaca sebuah pesan.
"Yang duduk depan Monitor itu abang ya?" Begitu pesan yang aku baca. Aku melempar pandangan kesekeliling ruangan, sebelum menjawab. Hanya ada kurang lebih belasan orang yang duduk disekelilingku, tak satupun yang aku kenal.
"Maaf, ini siapa?" ku balas SMS itu sambil bertanya.
"Aku dapat nomer Abang dari daftar Alumni SMA beberapa waktu lalu. Abang datang waktu itu kan?" Seperti itu balasan yang aku terima dari Android mungilku.
"Iya, tapi ini siapa?" cecarku penasaran. Lalu kembali melempar pandangan keseluruh ruangan. Tetap tak seorang yang aku tahu.
"Ini Rahayutanty, temen sekolahmu di SMU" Balasan itu mengejutkan. Aku berdiri dan mencari-cari seraut wajah Imut dari kelas IPA 4. Tapi wajah itu tak kudapat dalam ruangan itu.
"Aku duduk dekat kursi pintu keluar bang"
Aku mengarahkan pandangan kesana. Benar, seorang perempuan duduk disana dan melambaikan tangannya. Segera kuraih ransel dan beringsut kesana.
"Ini kau Ayutanti?"
"Iya bang, aku ini!"
Kami berpelukan beberapa saat. Lalu saling memandang. Lagi, ia memelukku.
"Tak menyangka ketemu abang disini" Suaranya lembut tapi jelas kudengar. Pelukannya makin erat.
"Oh...sudah berapa puluh tahun ya?" sambungnya lagi.
"40 tahun Ayu!" jawabku singkat dan meregangkan pelukan.
"Oh waktu cepat berlalu ya bang?"
"Dan kita juga sudah beruban" Jawabku sambil menuntun duduk di kursi panjang ruang tunggu terminal IA Cengkareng.
Rahayutanti menatapku seksama, bola matanya yang indah masih memesonaku.
"Apa kabarmu bang?"
"Baik..sangat baik ayu. Kau bagaimana? Sejak malam perpisahan sekolah dulu, aku tak pernah lagi mendengar kabarmu. Aku mencari tahu ke semua kawan-kawan sekolah. Tapi, tak satupun tahu rimbamu ketika itu" protesku. Teringat puluhan tahun lalu, aku pontang panting mencarinya selepas SMA dulu.
"Maafkan Ayu bang! Waktu itu, saat malam perpisahan, Ayu mau bicara, tapi abang kan sedang ngeband. Pada hal, papa mama Ayu sudah datang menjemput karena esok subuh kami harus keluar negeri ketempat papa tugas. Ayu sudah mengulur waktu untuk bicara, tapi kau terlalu asyik dengan group bandmu. Sampai akhirnya aku pergi dan meninggalkan malam perpisahan itu"
"Mengapa waktu, itu kau tak memanggilku?"
"Ach..lupakan saja bang. Toh semua sudah berlalu. Jangan di ganggu pertemuan ini" potongnya.
"Aku bersyukur setelah 40 tahun, bisa ketemu abang lagi. Selama ini Ayu merasa bersalah. Ayu tahu, abang sangat menyayangku. Aku juga berusaha mencari tau keberadaan abang, sampai aku temukan no abang dan fotomu di daftar alumni kemaren. Aku terlambat datang, acara sudah selesai ketika aku tiba ke lokasi. Pada hal ingin sekali berjumpa abang" Ia meraih tanganku dan meremasnya lembut.
"Oh..bebanku jadi ringan sekarang bang" sambungnya menatapku lembut.
"Abang makin putih...rambutmu dan kau tampak gendut, sama seperti Ayu. Kita tak mudah lagi. Tapi kenangan bersamamu selama SMA dulu sangat indah. Tiap kali duduk sendiri, aku mengenangnya. selama ini abang di mana? apakah masih gemar mendaki gunung, keluar masuk hutan dan pantai, seperti dulu sering kita lakukan tiap liburan? "
"Hm..masih Ayu. Hanya sekarang ku alihkan menyusuri sungai-sungai, dan berkemah di danau. Kau masih ingat kan? dulu kita janjian selepas SMA nanti akan menyusuri sungai berantas dan berkemah di Danau Banyu Biru? Nachh aku melakukan karena janji kita"
Mendengar penjelasan itu, Rahayutanti menghambur kepelukanku.
"Maafkan Ayu bang"
"Lupakan semua masa lalu Ayu. Oh ya, berapa anak-anakmu?" aku bertanya mengalihkan perhatiannya. Tapi semakin erat Ayu memeluk dan air matanya terburai membasahi dadaku.
"Hust..orang orang memperhatiakn kita tuh"
"Biarin bang!"
"Tapi kita kan nggak muda lagi!"
"Semua manusia punya perasaan bang" jawabnya sambil melepas pelukan.
"Aku tidak menikah dan belum punya anak!" tandas Ayu tegas. "Mengapa Abang bertanya seperti itu?" Rahayutanti menatap tajam.
"Aku sudah berjanji ke Abang bukan? nach aku tepati janji itu. Dan besok jika ada lelaki yang melamarku, akan kuterima dia" sambung suaranya tetelan di kerongkongan
"Semua janjiku kita tak kulupankan. Dan sekarang sudah bertemu abang. Jadi janjiku sudah tuntas" Mendengar penjelasannya, aku yang justru menghambur memeluknya, memeluk erat sekali, tak perduli lagi tatapan orang-orang disekeliling.
"Oh..waktu 40 tahun berlalu sia-sia untuk memenuhi janji dan ikrar di Pantai Watu Ulo Jember" Bisikku ditelinganya.
"Tahukah engkau selama itu pula aku pegang janjiku" bisikku mesra.
Kesetian butuh pengorbanan. Setiap mereka yang setia tidak akan dikecewakan (RWM)
(Medio September, Terminal IA Soerkarno - Hatta, Cengkareng)

Cerpen tentang Pintu.


Sejak mata kunci itu kau buang ketelaga samping rumah, sejak itu pula tak pernah ada yang masuk kesana. Hanya dirimu. Hatimu dan pintu itu sendiri.
Kemaren engkau minyaki gembok yang menempel di pintu. Kau bilang akan mencari mata kunci itu ke telaga. Tapi semakin kau cari semakin tenggelam dirimu dalam lumpur hingga lehermu tercekik, meronta mengulur tangan, menggapai gapai.
Tolong berilah cinta, teriakmu hampir tenggelam.
Sementara gembok berkarat tetap kau gantung disana.
Bagaimana ku turuti pintamu?
Beri kesempatan! engkau meratap dari tengah telaga.
Tapi dengan apa membantumu, jika pintu masih rapat.
Tadi pagi kau bilang semua yang ingin kau katakan.
Itu untuk aku kan?
Ya. Untukmu! untuk siapa lagi jikan bukan?
Apakah tidak terlambat? bisikmu sepagi embun menetes
Dari pembaringan kecil kudengar pintu berderit.
Entah siapa yang membuka.
Tapi hati yang sepi tenggelam di telaga sunyi.
Dan pintu gembok berkarat serta daun pintu lapuk.
Mati bersama rumah mungil di tepi telaga sunyi.
Hanya angin berlalu, tanpa kisah, tanpa cerita
hanya sesal
tinggal duka
duka sesal.
(September bercerita tentang september)


RWM.BOONG BETHONY