07/04/22

Babad Barabas.

Sajak-sajak pra Paskah
Babad
Jalanan lengang lorong sepi gang sunyi, rumah-rumah tertutup rapat, hati tercekat. Kota yang biasa rame tiba-tiba mati, tak bergerak, hanya mematung, terdiam. Tinggal prajurit yang hilir mudik, meronda, menjaga, sambil membawa pentung entah untuk apa di kota sesunyi ini.
Tapi di ujung kampung Barabas sedang asyik menikmati domba panggang dan sebotol anggur merah. Ia tak perlu takut dalam situasi seperti ini, semua sudah tersedia. Api unggun, daging panggang, roti kering dan beberapa botol anggur.
"Mari bergembira kawan-kawan, toh aku pulih. Isolasi itu tak pernah mengubah diriku. Aku tetap Barabas yang tidak takut apapun"
Di istana, raja dan punggawa asyik berpesta, tari perut, tetabuhan, aneka hidangan. Tak perduli, mereka yang mendekam dirumah sambil menahan lapar dan takut.
"Wabah untuk rakyat, bukan untuk penghuni istana" teriak Herodes, wajah merah anggur sarat di ruang.
"Bukankah pembawa virus sudah di isolasi? Ia tidak akan menularkan lagi, ayo rayakan, pestakan, cherss" sambung herodes.
Malam tak pernah berubah, hanya waktu diam-diam bergulir, insan menggelisahi, kecemasan
Tapi virus bukan orang, ia selalu ada dalam pesta, hadir pada sunyi, menjalar sepi, mengisi kosong dan menembus kebisuan waktu. Persis kecemasan imam-imam di baitullah, lupa berdoa, ingkar keimaman, menyangkal panggilan dan hanya tahu melaknat, menghakimi, mengklaim pemilik surga.
Tiada sunyi absolut
Tiada sepi sesungguh
Jika TUHAN tidak bertahta dalam hati, dalam batin, dalam jiwa.
Malam itu dari ruang sunyi isolasi covid 19.
IA berdoa untuk Barabas, Herodes dan insan gelisah. ------------------------
Renungan hari ini tentang Banjir.
Romo Ro Wi Ma.
Banjir dalam perspektif saya adalah : Pengingkaran dan Penghianatan terhadap pengakuan kehadiran Tuhan pada alam dan Lingkungan. Dan itu dosa! Dosa Besar yang terus menerus secara legal, konstruktif dan sistimatika di dukung oleh semua pihak. Ya, Pemerintah. Ya, Lembaga Keagamaan. Lembaga Pendidikan bahkan oleh Lembaga Keadatan. Mana regulasi undang-undang yang serius untuk itu? Mana teologi untuk itu? Mana kurikulum untuk itu? Mana perlindungan untuk hutan adat dan hutan ulayat?
Jika hari hari belakangan ini banjir di mana mana, itulah upah dosa!
Tak perlu teriak sampai sorga.
Tak usah berdoa pada Tuhan yang sibuk menjaga keseimbangan alam.
Jangan menyalahkan siapa apa.
Jangan memaki terlebih menuding nuding.
Tapi
Berdamailah dengan alam karena itu bererti memohon ampunanNYA.
Samarinda, minggu palma 2016 ------------------------------------
Sajak tentang Doa.
I.
TUHAN ajar aku untuk selalu merendahkan diri dan berani menanggung apapun kesalahanku bukan saja kepadaMu tapi juga kepada sesamaku. Ajarlah aku untuk lebih berani mengampuni seperti Engkau mengampuni kami....Amin.
II
Sarung dan kopiah di nyanyi senja
Tak lagi seriuh surau kami di lembah sunyi
Memukau bak bangau putih putih menerjang biru langit
Karena doa adalah teks dan konteks yang tak bertepi
Sarung dan kopiah di kidung subuh
Tidak lagi seramai rumah tua di kampung kami
Memesona seperti pelangi sejuk usai hujan
Sebab doa bukan sekedar hermeunetik apalagi homelitik
Sarung dan kopiah di lagu petang
Tak lagi seagung langit membiru memayung
berdaya tarik sembah dan amalan
Sebab doa bukan lagi ibadah terlebih ritual pemujaan
Pada akhirnya rumah rumah menjadi kosong sepi dan sunyi
Sebab keramain bukan keramahtamahan
Hanya kebutuhan pengakuan, diakuai
Oh Al - Awwal Oh Al - Akhir


RWM.BOONG BETHONY

Tidak ada komentar: