07/09/22

Sajak T I D U R

Tidur.


Tidurlah kekasih.
Tidurlah dalam dekapan malam
Saat seperti itulah engkau menjadi bayi.
Pasrah pada degup jantung dan denyut nadi.
Itulah Tuhan.
Yang selalu menjaga degup jantungmu dalam asmara membaraNYA.
Tak perna lalai mengiring denyut nadimu karena cintaNYA.
Tidurlah.
Tidurlah kekasih.
Biarkan malam mendekapmu.
Sebab Tuhan membuat malam sebagai neraca waktumu
Tidurlah.
Tidur.
Romo Ro Wl Ma










PUISI CINTA

Bulan penuh di teras ketika hening jadi bening, Wajah bulatmu semburat di dedauan, menggemerisik bisik masuki jiwa lena
Jauh disana, entah, asmara membara di bilik dian seperti kisi lelampu warna warni mengutak atik rasa menyatu dalam tetes keringat. Seperti Pontius Pilatus basahi diri sambil bertanya, siapa apa Tuan. Dari mana kemana Tuan. Bathin bathil tak paham dimana kemana arah.
Candra purna di halaman saat bening jadi hening, rupa ovalmu terpancar luruh daun menggerayang rayang khayal rasuki rona hati
Berlangkah langkah, mungkin, cinta menyala perih di ruang lentera redup bri halusinasi antara surgawi neraka, nafas terengah mengetuk ketuk dada. Bagai dada ranum pencintaMu turun naik bermain main sahih tentang hakiki hakikat. Jiwa berjiwa tak tahu apa siapa mengapa kemana.
Dan bulan membias perih jatuh di halaman belakang, muka pucat pasi memeras raga menghentak hentak hari kemaren tegar tegur gagah perkasa bak Ken Arok merasa titisan dan Ia tersungguk sungguk sungkur pagi berkokok. Bulan berair dalam jam duka sesal, dahan patah meringkuk tanpa nyawa.
Lalu candra mencandai jaman, ode, epik, legenda, roman, novel, cerpen ialah puisi.
Ialah Tuhan.

Pelacur tua dan Cinta.


Mengisi hari lelaki, hari perempuan menapak tiap masa slalu menenteng rona magi memesona siapa apa. Melacuri waktu kekawin ketika patalon terayun dan gendhing suwak pancer, manunggal yang Illahi dalam rasa, bathin, jiwa, tidak di pikir.
Saat itulah kitab-kitab hanya kata. Siapa apa teologi, mana mengapa hermenetik homeletik hanya kata tanpa dialeg lebih idialeg, dialog hambar, hanya panggung jejar rahwana wajah Tuhan tak pernah teraba, ngono yo ngono nanging ojo ngono.
Dan hitam putih jadi panduan panggung dalam pertunjukan seolah tiada rona lain. Hei teolog pesanlah eksotismu bak tontonan sunggingan metematis, hanya hitungan.
Plung, ku cumbu, ku pagut, ku cium, dengus nafas gerayang menggerayang tanpa sisa, senyum pelukan malam serengai, sumeh pelukan siang menyelam ke kedalaman di balik bayang. Yah.. hanya bayang katamu, kemudian kau teriak hitam atau putih.
Riwayat ialah kata, tak lebih tak kurang mungkin terjebak wewayanganing ngaurip, pipih bukan distilisasi melainkan kebebasan bukan penghakiman. Laiknya perempuan hina dina mati terseret seret kekaum. Ahaa...dia mati menemui hidup, bukan jejar melainkan perupa menyatu wajah. Persis lelaki memborok sekujur tubuh, tapi bukan jiwa. Hanya pikir.
Mari berpesta, tuanglah anggur merahtua peninggalan leluhur jangan pikir terlebih masuki bathin, ruh dan jiwa. Bukankah wahyu milik kita?
Sementara itu bordir-bordir tua serupa bordiran kebaya pengantin menjubahi pejinah bersenandung gita bhakti, bertarian, berlompat lompat, berjingkrak jingkrak rupa dan wajah terpenggal penggal. Puzzel dimana kemana.
Mendesah desah asmaraMU.
Aku tak paham lagi warna lain, bisikMu
DesahMu.
AsmaraMu.

Harmoni


Jangan apa selain diri, ini malam penghabisan serumu serambi kejar gagak mengejar iring koar koor saat pucuk ubun ubun melompat lompat hinggapi siapa apa di pagi berembun. Dan ketika gelegar geger serupa dahak krakatao melalar maliuk liuk mewarna diri itulah bahak bahak Tuhan yang menari tari hakekat hakiki.
Tak juga paham.
Sesungguh alpa bukan.
Gendhing gendhing suwek bukan seruling mengalir alir merogoh sukma durga cerita kita.
Jejar Wajah wajah bukan kayon hanya bayang membayang wayang
Menurutmu aku siapa kekasih
jawabku, Air, udara, angin dan api.
Disini, dimana nafas menderu bergurau menulis kamus, membuat rerambu rambu serupa iklan tentang surga persis rasa manis pahit di lidah tak kecap rasa lain. Tak berwarna kacamata kuda.
Lalu tepat di kira pukul dua kali.
Gelap
Gulita
Merobek jiwa hamburan hamburkan mewarna mewarni rerasa rasi. Tak juga tangkap pertanda itu.
Hal bawa diri, jiwa, bathin, roh, bukan memikir pikir terhitung hitung lebih terlebih tersuci suci.
Bukan
Bukan kekasih.
Hanya diri.
Diri berdaki daki.
Hanya jiwa
Jiwa berjumawa
Hanya batin
Batin bathil
Hanya roh
Roh perongrong.
Selain itu tak
Tak itu selain
Itu selain tak
Selain tak itu
Di sini disitu, titik kau ada.
Tuhanmu
Bukan hitam putih, pahit manis tapi warna warni aneka rasa.
Menurutmu Aku siapa?
--------------------------------------

Kisah bawah matahari


Mari cumbui hari hari tanpa sisa bisikmu ketika bayu biarkan terik mengaduk aduk rupa sesawah leladang pepohon bebungaan luruh demi satu telanjang bulat tak malu. Saat itu, seekor domba panggang muda terguling diperapian diserambi rumah tua. Tuang anggur merah teriakmu lantang gembira di iringi kami puji dengan riang pentatotnis diatonis tak jelas mungkin juga selendro do mi sol do gong bergetar. Bumi bergolak dalam jiwa jagad gede cilik mainkan gendhing cucuk bawuk sampai suwuk pancer. Jejer berseberangan sempurna hitam putih, padahal hidup bukan itu. Tak ada kalah apalagi menang melainkan sentripetal, berlapis lapis hidup dalam sangkan paraning dumadi. Bukan kemarau, bukan penghujan tapi tetapi.
Tapak tapak lelah jejak rupa bumi, menderap derap kuyuh luka di barisan jiwa bila kan sembuh?
Hening dalam gelegar bayu meniup siang jadi malam saat irisan daging panggang domba muda harum mengelegak tertelan tenggorokan, gagap gempita sorak sorai tangis ratap geretak gigi Oh bapa, kepadamu ku berserah. Darah mewarnai angin, kematian merasuk sukma, terengah engah terbuih buih seperti butir butir ludah pembicara mimbar klaim mengklain penjaga kayangan pemilik nirwana. Lupa bahwa penjaga bukan pemilik lalai kemudian ubah jadi tukang pukul pukul persis anjing anjing geladag pemburu tikus tikus kolong harap seonggok daging. Ketika itulah domba panggang muda tercabik cabik terburai burai jemari jemari menggerayang apa saja kemana saja dimana saja siapa apa.
Siang dan malam tak pernah berebut terlebih minta kehormatan. Langit malam langit siang adalah langit bukan langit langitmu. Karena langit langitmu busuk dan anyir, seperti nyinyir bau anyir darah segar domba muda sembelihan terpanggang di panggung istana istana doa symbol imanmu itu. Dan lebah lebah bersenandung, suara suara tak jelas menerobos jendela rapat tertutup memagar merasa jijik pada sekitar.
Padahal perselingkuhan menyodok nyodok langit, pelacuran menutupi bumi masih juga jejer hitam putih jadi senjata pamungkas untuk kreatifitas untuk kembang kembang puja puji.
Penjor hanya satu teriakmu tak paham penjor berwarna warni sebab itu Tuhan suka.
Ya, semua.
Semua, ya.
---------------------------------------------

Pikiran dan Batin. (sebuah renungan)


Berbahagia mereka yang dapat melihat dengan hati atau batin, sebab ia jadi bijak. Tetapi mereka yang melihat dengan pikiran selalu mengukur untung rugi.
Hati atau batin selalu menerima Tuhan dalam keagungan, sebaliknya Pikiran menerima Tuhan sebatas kebutuhan.
Hati atau batin adalah tahta Tuhan, sebaliknya pikiran berusaha merebut tahta itu.
Berhikmat orang yang menangkap ajaran Tuhan dengan hati atau batin, sebaliknya fasik mengandalkan ajaran Tuhan hanya dengan pikiran. Sebab Hati atau batin berlaku jujur setiap waktu, sebaliknya pikiran berhitung atas segala sesuatu.
Hati atau batin adalah mahkota hidup sebaliknya pikiran membuangnya.
Bijak, orang melihat Tuhan dari hati atau batin karena ia melihat ke- Mahakuasaan yang tak terhingga, sebaliknya musrik orang yang melihat Tuhan dengan pikiran karena hanya mengerti soal hukuman dan pahala.
Bahasa hati atau batin selalu membahagiakan sesama mahkluk, sebaliknya bahasa pikiran merampas kebahagian itu. Kata hati atau batin selalu menerima siapa apa, sebaliknya pikiran membuatnya barang dagangan.
Hati atau batin tiada membedakan sesama manusia, sebaliknya pikiran membangun tembok penyekat. Sebab hati atau batin tahu, semua manusia adalah debuh dan Ruh Tuhan tapi pikiran mengingkari itu.
Hati dan batin mengakui bahwa Tuhan mengasihi semua manusia, tetapi pikiran menghancurkannya. Sebab hati atau batin tak pernah mengukur siapa apa manusia selain sesama ciptaan, tetapi pikiran mengukurnya salah benar.
Hati dan batin tahu bahwa hidup manusia berwarna warni tetapi pikiran membuatnya hanya hitam putih. Sebab hati atau batin mengerti Tuhan mencintai warna warni tapi pikiran meleburkannya dalam kotak hitam dan putih.
Hati atau batin mengaku hanya ada kita tetapi pikiran membuat kami dan engkau. Sebab hati atau batin mengakui Tuhan tak pernah membedakan tetapi pikiran mencerai beraikan.

---------------------------------

Gendhing suwuk pancer


Aku menunggu Guntur dan kilat mengurai burai awan mendung.
Kurindu kilatan api, udara dan gemuruh kereta kuda membuyarkan gumpalan gumbalan di langit.
Lalu kan ku mainkan tubuhku di basah tanah sambil menari ciumi aroma bunda pertiwi pada butiran bening.
Awan masih strato
Mendung tetap menggantung
Angin panasi jiwa
Rinai ialah nyanyian surga musim kemarau
Rintik ialah kidung pemujaan di masa kering
Selalu puitik pada luruh dedaun dan pokok mengering
Aku menantikan gelegar dari langit membuyarkan awan strato
Kunantikan percikan larva membakar tiap partikel kelam selimut abu abu langit
Jatulah.
Jadilah titik titik.
Hentikanlah kisah kerontang.
Entah kuncup entah kembang entah mekar
Hujan ialah kidung nirwana di musim kering
Dendang kekawin air dan buana
Seperti kekawin asmaraNYA yang melahirkan segala apa
Romo
--------------------------------------------

Pada Malam.

Malam.
Mari bicara empat mata.
Aku mau belajar tentang keadilan.
Selalu saja kau butakan warna, bentuk dan wajah.
Bagimu semua sama.
Presiden, Mentri, Gubernur, Kiyai, Ustads, Pendeta, Pastor, Pelacur, koruptor, pencopet, pencuri, perampok.
Tak beda.
Malam, mari bertutur tentang sikap.
Sikapmu.
Tak perduli siapa.
Bagimu sama.
Jangan bicara soal siang
Yang gemar membangun kisi-kisi, bilik - bilik, mengkotak-kotak, berupa-rupa, berwajah-wajah, berwarna-warni dan berupa - rupa
Malam, ayo kisahkan tentang dirimu
Apapun tentang kau.
Keadilanmu.
Sama, sebentuk, serupa, sebangun, tadak ada apa-apa.
Hanya gelap.
Gelap yang mengubah semua menjadi sama.
Apakah lantaran itu
Maka semua musti meraba dan di raba
Manusia peraba
Manusia di raba
Apakah karena itu
Manusia gemar meraba Tuhan?
Dan menolak di raba Tuhan?
Apakah sebab itu
Manusia masih meraba Tuhan?
(serombongan kunang-kunang datang berbisik dan mengatakan, Jangan tanya soal malam dan lihatlah cahaya kecilku. Tuhan menempelkan Sinar wajahNYA dan aku membawanya kemana aku terbang tiap malam. Rombongan itu pun pergi menembus gelap. Saat itulah tampak bentuk dedaun meski samar. Tapi aku tahu itu daun)
(September' 16)

Cerita hari ini tentang pedagang.


Pagi ini kudapati engkau diujung taman, setelah semalam kucari diseluruh ruang jiwaku. Engkau tak pernah permisi ketika datang pun pergi tahu tahu kau sodor beberapa notes kecil penuh.
Bacalah! Pintamu beberapa waktu lalu.
Sejak itu aku tenggelam telusuri tarian tinta dalam notes notes itu. Entah berapa purnama kulewati membacanya. Dan Semalam, saat aku terjaga ingin menanyaimu, mengapa semua goresan notes itu hanya berisi jelaga hidupku? Aku mulai gelisah dan mencarimu diseluruh ruang yang ada, tiap lorong yang mengikat diri, sel sel, titik titik, semua kumasuki hanya ingin jawabmu.
Tapi engkau tak ada disana.
Mataku hanya tertuju di pintu tertutup itu. Gelisah seluruh eksistensiku, Jiwaku, pikiran bahkan iman kuyu. Lalu tertidur bukan sebab kantuk tapi tak mengerti lagi musti bagaimana.
Dan pagi ini, engkau bertengger di ranting kering ujung taman sambil bersiul mencandai dedaun luruh dalam bayang serpihan surya.
Puluhan purnama kumencarimu sobat, sapaku gembira.
Engkau tersenyum dan melompat turun mendekapku. Mengapa mencariku? Tanyamu serambi melepas dekapan mengajak duduk bawah pokok kerontang meranggas.
Aku ikut dan duduk disamping.
Aku tak pernah kemana. Jawabnya sambil menepuk di pundak. Ketika kau gelisah mencariku aku ikut bersamamu bahkan saat kau tertidur pun aku ada disisimu. Tatapnya bening. Aku juga lelah, makanya pagi ini aku masuki taman ini menghirup udara segar.
Bagaimana engkau membiarkan aku gelisah sedemikian rupa? Bahkan pintu yang biasa kulalui tertutup rapat. Tegasku membalas bening tatapnya.
Hahahahahahaha......tawanya berderai.
Sobat! Sobatku...pintu itu tak pernah tertutup, tapi jiwamu. Tak sadarkah ada ribuan pintu lainnya yang bisa kau lalui. Apa yang kau inginkan?
Kutatap lekat lekat kudapat anggukannya.
Ada apa sobat?
Notes itu itu! Mengapa hanya catatan jelaga?
Hahahahahaha....itu karena kau tidak pernah membiarkan batinmu, jiwamu, nuranimu berbicara. Kau hanya mendengar pikiran-pikiranmu. Kau hanya berfikir soal untung rugi, soal mendapat, soal dirimu.
Maksudnya? potongku cepat.
Pernahkah kau dengar bisikan jiwamu, Nuranimu, hatimu? Bukankah semua ada dalam dirimu, ada padamu? Semua! Kebaikan, keindahan, kedamaian, kegembiraan, keriangan, kebahagian, lukisan-lukisan aneka warna ada padamu.
Tapi hanya jelaga? Bukankah selama ini hal-hal baik kuperbuat juga? Ini tidak adil! protesku.
Sobat, keadilan itu bukan soal hitung-hitungan, apalagi tentang hitam putih. Tapi soal kebenaran. Dan kebenaran itu ada dalam dirimu, bahkan dalam setiap insan yang pernah ada. Jadi bukan jumlah.
Maksudnya? Tanyaku lagi.
Jika keadilan itu hanya bicara soal jumlah, hitung-hitungan maka dengan pasti tak ada satupun keadilan dalam dunia ini. Kau mengerti? nach soal jelaga dalam notes yang kuberikan itu. Itu bukan tulisanku. tegasnya.
Lho?
Ya! Bukan aku yang menulis! Tapi kau!
Mengapa hanya jelaga? kejarku.
Karena yang kau maksud perbuatan baikmu selama ini adalah jualanmu! Harga dirimu! Kau menjual kebaikan pada semua orang. Padahal, kebaikan bukan barang dagang, apalagi sebagai pameran. Bila yang benar, yang baik kau perbuat untuk keuntunganmu, maka kau seorang pedagang!
Jadi?
Yahhhh...itu yang selama ini kau lakukan....Nach ijinkan aku nikmati serpihan surya yang terserak merabuk buana. Selesai berkata begitu, dia pejamkan mata dan berbaring disamping. Larik mentari persis menimpa wajahnya. Berkilau-kilau membuat mataku tak sanggup menangkap kilauan itu.
Sambil membuka tumpukan notes itu, aku mulai melihat siapa aku sesungguhnya. Nyata bagiku, seorang lelaki pedagang kebaikan dan menukar kebenaran untuk keuntungan.
Taman nurani, 10 Oktober 2015
Samarinda - Kaltim.
------------------------------------------

Pengamen.


Terkadang aku mengamen.
Meminta diberi hikmat
Untuk menyanyikan kidung kidung pujian
Membaca syair syair cinta
Mendendangkan dendang syahwat
Terkadang aku jadi pengamen
Memohon keping keping bijak
Untuk melantunkan nyanyian puja
Menyairkan nyanyian asmara
Berseloka tentang dahaga erotis
Terkadang aku jadi siapa apa
Untuk menemui dirimu yang selalu tersembunyi di bilik bilik jiwa
Seolah engkau tiada perduli.
Menuduhmu lamban ketika aku butuh
Menghakimimu saat aku terpuruk
Pun
Persalahkan dirimu ketika aku celaka
Terkadang aku harus menyelam
Menelusuri dedaun dan pokok pokok agar bertemu dirimu yang tak pernah kemana selain di batin
Menyangka engkau hindari saat aku butuh
Mempersalahkanmu atas semua kejadian
Seolah engkau sumber petaka
Padahal
Aku sumber.
Terkadang aku melupakanmu hanya demi inginku.


Foto : Rob Colection'2022

RWM.BOONG BETHONY

05/09/22

Kisah-kisah September.

Cerpen dan sajak September.

Kisah September.

Ini September keenam ya, bisikmu ditengah hiruk pikuk penumpang di terminal 1B Soetta.
Aku hanya mengangguk.
Abang ingat enam tahun lalu di Majene?
Aku mengangguk lagi.
Waktu Abang menjenguk kesana, hujan deras ya. Abang basah kuyup juga ransel yang berisi baju cadangannya.
Ingat bang?
Tentu Abang ingat, apalagi seharian Abang harus mengurung diri di kamar hotel gara-gara semua baju basah. Untung ada sarung yang kau pinjamkan. Eh, sarung itu masih aku simpan lhoo.
Yang bener bang! Sahutnya cepat sambil menatap ke arahku.
Iya, ada di rumah. Itu kan milikmu, jadi kusimpan baik-baik. Jawabku sambil memperhatikan monitor TV didepan kami. Kemudian aku menatapnya.
Perempuan yang memanggilku Abang ini hanya menunduk tak berani membalas tatapanku.
Maafkan aku bang. Bisiknya pelan seolah pada diri sendiri.
Ku perhatikan banyak perubahan dari dirinya, jauh melebihi perempuan sederhana yang dulu aku kenal dan mengisi hidupku.
Maafkan aku ya bang! Tak sabar menunggu kepastian darimu dulu.
Tiga September aku mencari tahu keberadaan Abang dan menunggu kedatangan abang. Ketika itu aku berfikir bahwa Abang pasti akan datang seperti kenekatanmu mengendarai motor dari Makassar ke Majene menerobos deras hujan. Tapi September keempat, aku akhirnya menyerah dalam penantian lalu menerima lelaki yang kini jadi suamiku.
Maafkan aku ya bang.

Rumah mungil.

Di rumah mungil
Kursi dan sofa menunggu lama
Sejak dengus nafas dan canda menutup jendela
Jendela dimana pandangan tertuju
lorong setapak diantara rerimbunan bambu
Kesana engkau pergi
Membawa sebungkus baju pengantin membiarkan pintu terbuka dan kursi berdebu diantara sofa berhias renda ungu
Sebongkah hati kau taruh di meja. Aku akan ambil suatu waktu nanti, bisikmu.
Dalam temaram cahya Dian menguning menari nari membuat semua melalar menghitam di lantai.
Juga bayanganmu
Renda ungu tua yang kau Sampir di sofa tak jelas warnanya
Aku akan selalu kangen bisikmu diambang pintu
Setelah itu kau susuri lorong rerimbunan
Dan tak menoleh lagi
Di rumah mungil
Kursi dan sofa menanti canda tawa
Jendela dan pintu terbuka lebar menunggu ketukan
Yang ada hanya larik mentari menerobos atau sinar rembulan melintas, hanya sejenak
Setelah itu harapan saja
Teringat saat kau minta.
Buatlah rumah mungil bang.
Rumah dimana gaun pengantin dan peraduan tak pernah sunyi
Kan ku hias seribu canda dan bunga mewarna. Bangunlah bang, bujukmu.
Dan rumah mungil itu tak pernah rame seperti inginmu
Bangunlah taman kecil dimana bunga seribu melati dan rose akan tumbuh di hati, bisikmu ketika itu.
Tapi hanya Putri malu yang setia menusuk dan menggores taman itu.
Kau tak pernah melihat
Rumah mungil dimana kursi dan sofa menanti canda selalu memandang lorong rerimbunan bambu perih sendiri
Disana penantian duduk memoles perih
Buatlah kolam kecil bang, pintamu.
Tiap senja memandang ikan berenang, kau disamping di kursi bambu, bujukmu lagi saat itu
Akan kulepas bunga teratai merah jambu pasti menyenangkan bang.
Dan kolam tak pernah jadi hanya air mata sesekali menetes disitu

Awal September 2017.

Sajak tentang rumah

Di rumah mungil
Pintu terbuka lebar
Tunggu ketukan
Seperti rembulan diam bercahaya
Peraduan sunyi tempat mengadu sepi
Wajah membayang hias pucuk bambu di samping rumah
Diam-diam daunnya jatuh
Melayang seperti hari berlalu
Tanpa cerita tanpa kisah
Oh rumah mungil
Di mana pintu lebar terbuka
Kemana ketukan tertuju
Ini bukan kisah kita, sahutmu kemaren sore
Tapi juga tidak berakhir disini, sambungmu lagi.
Duduk lelaki baya di kursi lapuk
Terpesona sinar Wulan
Mata bulat di langit
Mengapa membisu? Sapa Wulan
Rindu nun jauh ke pucuk Cemara! Jawab lelaki baya
Tapi, mengapa dibiarkan melayang kesana? Tanya Wulan berbisik.
Gapai, raihlah! Lemah Wulan berucap.
Di rumah mungil
Pintu lebar terbuka
Menanti ketukan
Diluar, bulan redup kebarat
Hari malam akan lalu! Keluh lelaki baya sambil membuka jendela dan menatap ujung lorong.
Tapi lorong itu sepi
Bahkan bayangan Cemara dan bambu pun hilang
Lelaki baya menutup jendela menggulung peraduan
Tempat mengadu yang sepi
Yang sunyi
Seperti hatinya.
Di rumah mungil
Pintu terbuka lebar
Tunggu ketukan
Sinar rembulan syahdu
Peraduan sunyi diam
Ketika Kokok ayam menguak takdir pagi
Rumah mungil dan lelaki baya
Tersapu angin
Menjadi Bayu
Terbang kemana saja
Mencari cinta yang tak pernah mengetuk pintu
Mengejar Wulan diantara pucuk Cemara dan bambu
Sementara itu diujung lorong
Wulan tertatih mencari rumah mungil
Rumah yang dirindukan
Borok nanah hias sekujur tubuh dalam kesunyian panjang
Mana pintu kan ku ketuk? Keluh wulan
Yang tertinggal hanya pokok Cemara kering dan rerimbunan bambu kerontang.
Sesal pun tak berarti
Hanya duka
Duka sesal
Di rumah mungil
Pintu terbuka lebar
Tunggu ketukan
Sepi
Sesal
Duka.
___________

Kata di dialog


Seorang teman bertanya : Romo, bagaimana perasaanya ketika menguburkan orang seperti yang selama ini Romo lakukan?
Saya jawab : Persis seperti menyambut kelahiran bayi-bayi.
Maksud Romo?
Persoalan bukan pada kematian dan kelahiran tapi pada kehidupan itu. Setiap orang lahir dan pasti mati. Tapi tidak semuanya dapat mengartikan hidupnya. Maksud Romo, ada tujuan seseorang lahir dan tujuan itu akan diperolehnya saat mati. Kesana, ketujuan itu ia mati.
Saya paham maksud Romo!
Lalu sahabat saya ini, memeluk erat.
Kami berdoa bersama. Dia sholat duhur di depanku dan aku berdoa di kursi tempat kami membagi rasa.
Itulah tujuan hidup dan kesana tujuan mati.

Angin September

Lembut kau datang, mengusap wajah membelai kepala dan;
Harapan membumbung tinggi
Melayang menembus awan putih
Saat bahagia merasuk
Sel-sel membelah berlipat ganda
Kaki berjingkrak-jingkrak
Kala jemari lentik menari
Wajah riang
Lalu ;
Kau pergi tak kembali.
-----------------------------

Hujan September

Bersimbah air mata kau ketuk pintu dedaun mengangguk-angguk tertimpa titik air, basah gemetar
Tapi baik air mata pun air hujan tak mau mengerti
Jika September selalu ceria
Dan ;
Kembang aneka warna menghias onggokan di tanah sunyi
Kau pergi tak pulang
----------------------------

Cerita September

Tak sama tiap orang
Berbeda kisah
(Awal September 2020)

26 tahun lalu..

Merapi jadi kawan
Rinjani jadi sahabat
Semeru selalu kurindukan
Kerinci gadis cantik di Kayu Aro
Dan
Engkau Raung nona gemulai penunggu Banyuwangi...
Dulu...kalian adalah sahabat tiap liburan
Aku nikmati dingin tubuhmu...
Sekarang aku hanya mendengar cerita kalian.
Hanya cerita.

Sajak Seorang Copet

Woiiii, teriakku
Copet! Copet!
woiii....teriakmu
woiiii teriak mereka
Hajarrrrr teriak semua orang
ambil bensin
bakar!!....koor bersamaan
Aku berlalu tak berdaya halau kerumunan
Mereka bukan lagi manusia
Sebab yang ditampar, ditendang, di injak, diludahi
Di bakar adalah manusia.
Harusnya aku tak teriak.
Meski dompetku ditangannya
Mustinya tak mengejarnya,
Isi dompet Rp.150.000 dan beberapa surat yang bisa segera diurus kembali.
Oh rimba jalanan
Oh manusia
Oh
sesal pun
tak
tak berarti sesal
Untuk mereka
kepuasan
kebanggaan
Ya Allah
Allahku
hari ini
ku beli nyawa
seharga 150.000 rupiah.
hanya dengan teriakku
Copet!
(RWM, awal September'15 di disudut kota Semarang)
RWM.BOONG BETHONY

21/08/22

beberapa sajak

Di balikpapan

Fosil yang tertidur
Tercium kemana mana
Sewangi elokmu tubuhmu
Goerge, Udin, Tono, mengais bersama
Sampai kapan?


Doa Gimin dan Inah.

Pakne, hari ini kita untung besar
Lihatlah tumpukan kemasan plastik itu.
Sampah bagi mereka rejeki kita.
Iya bu, syukur pada Allah.
Tumpukan sampah itu.
Menghidupi kita hari ini, esok dan lusa.
Mungkin kita musti berdoa agar tiap hari ada demonstrasi ya bu.
Seperti Hari ini.
Ya pakne.
Tadi polisi-polisi itu mengejar, menendang, menggebuk dan kita yang beruntung.
Tapi apakah halal Pakne. Kemasan plastik itu berdarah-darah.
Soal darah, kemarahan dan gebuk-gebukan itu, jangan ditanya bune.
Yang penting hari ini kita bisa makan dan Giyo anak kita bisa dapat baju baru.
Nanti kita mampir beli di pasar loak untuk Giyo.
Tapi kasihan Pakne.
Banyak demonstran yang luka dan diangkut ambulan.
Sebagian lagi dimuat di truck Polisi.
Bune, bune.
Mbok mikir sederhana saja.
Ini loh, plastik-plastik ini muat ke gerobak. hari makin larut.
Berdoa saja, agar negara ini tetap aman dan kita merdeka mengais sampah dimana saja.
Iyo Pakne.
Doa mereka melebihi doa yang suka formalis.
(Gambir, barusan saja)

Jakarta dalam beberapa kalimat.


Dulu
Jayakarta menarik Pinisi mengarung samudra ingin jumpamu
Memanggil hilir mudik biduk, mengambang hulu hilir besi-besi
Kereta dan pedati mengayun cambuk menyahuti dar dir dor
dan kini
sapa saja rindu
ingin meraba tubuh elokmu sepanjang masa
dan ranum buah dadamu menggoda segala arah
patah arang silih ganti
engkau itu Jakarta.
tumpang tindih untung dan malang
hanya engkau.
(gambir medio Agustus 2014)




RWM.BOONG BETHONY

19/08/22

Cas Cis Cus

Sajak tentang Cas Cis Cus.
Suatu kali Isa Almasih bicara depan banyak orang. Ia bercerita soal Sesama Manusia!
Di suatu kampung....Isa Almasih memulai ceritanya.
Ada seorang yang sedang bepergian keluar kampungnya tetapi di tengah jalan ia di rampok dan di aniaya. Para perampok sesudah mengambil semua barang bawaannya dan memukulinya, ia di biarkan tergeletak menderita di pinggir jalan.
Isa Almasih kemudian memandang orang banyak dihadapannya sebelum melanjutkan ceritanya.
Tak lama kemudian....lanjut Isa Almasih. Seorang Tokoh Agama lewat di jalan itu bersama rombongan.. Tapi si Tokoh hanya menengok lalu terus berlalu.
Beberapa saat kemudian seorang cerdikcendikiawan lewat juga di tempat kejadian. Ia hanya melihat orang yang di rampok itu dan merasa kasihan. Tapi ia tak melakukan apapun. Hanya merasa kasihan dan melanjutkan perjalanan. Jelas Isa Almasih lalu meneguk segelas air.
Sesaat kemudian...sambungnya.
Seorang lelaki dari kampung sebelah, kampung yang salama itu dianggap musuh oleh orang-orang di kampung asal si korban.
Melihat ada yang tergeletak dan terengah-engah di jalan sepi, lelaki itu menghampiri. Kemudian, ia menolong si korban dan membawanya kerumah perawatan. Dan orang dari kampung sebelah itu merawat si korban sampai ia sembuh.
Isa Almasih diam sejenak dan kembali menatap semua orang di hadapannya.
Menurut kalian, siapakah sesama manusia? Tanya Isa Almasih kepada orang banyak itu.
Tokoh Agama, Cerdikcendikiawan dan kedua orang kampung itu! Teriak seseorang dari kerumunan.
Apa kata TUHAN tentang sesama manusia? Sambung Isa Almasih.
Orang banyak itu, riuh rendah.
Hanya Cas Cis Cus yang terdengar.
Berbisik satu sama lain Cus Cas Cis
Hanya Cis Cus Cas
Banyak orang itu tahu, bahwa masing-masing miskin berbuat dan hanya kaya teori.
Mereka paham tetapi tak melakukannya.
Sebab itu Cus Cas Cis
Kasihilah sesamamu manusia bahkan mereka yang membencimu. Sambung Isa Almasih melanjutkan perjalanannya sebelum orang banyak itu ber Cas Cis Cus.
Salam dan doa rahayu.
(tepian mahakam, medio Agustus 2016)



RWM.BOONG BETHONY

11/07/22

Cerita Stasiun Tawang

Cerpen tentang Stasiun Tawang.

Lelaki itu menyeret sandal butut sambil menatap rel kereta di samping.
Dulu, dulu sekali aku tak ingat lagi bisiknya.
Kami berlindung di balik rel itu hindari pelor belanda yang terhambur dari menara di ujung itu. Tapi ehhh menara itu sudah tidak ada lagi. Pandangnya sambil mencari-cari.
Dan, di tengah rel itu. Bambang berkalang tanah, sebutir pelor bersarang di batok kepalanya. Lelaki tua itu melirik lengan kanannya yang tak lagi mampu di gerakkan. Di lengan itu, bambang sekarat, demikian juga Herry bahkan Jono sahabat sekampung dari tanjung emas. Ach, rel itu membuatnya teringat pesan Bambang agar ia jangan menyerah, meski kelak perjuangannya tak berharga di mata negeri ini.
Peringatan pertempuran 6 hari di Semarang, memaksa kaki tuanya kembali menyusuri Stasiun Tawang bukan menghindari pelor belanda seperti dulu, tetapi karena kesanalah ia harus mudik menemui dirinya. Menemui Bambang, Herry dan Jono. Terbesit cemburu kepada ketiga sahabatnya itu. Mereka mati muda sementara ia masih hidup. Sendiri. Ya sendiri. Nikmati kematian sahabatnya dalam kemerdekaan.
Mustinya kita mati bersama dalam pertempuran itu, keluhnya sambil memandang hilir mudik penumpang kereta yang tak perduli kehadiranya.
Titik bening jatuh dari bendungan kecil di pelupuk yang sedari tadi berusaha di tahannya. Tapi semakin ia berusaha makin deras pula mengalir basahi keriput pipi.
Mengapa pelor yang bersarang di punggung ini tak merenggut nyawaku saja ketika itu, jeritnya pada diri sendiri. Dan pelor itu membuat lengan kanan lumpuh berkepanjangan.
Raut mukanya legam tertimpa terik Surya ketika beringsut menyeberang rel itu, tapi kaki tuanya tak mau bergerak, persis seperti pertempuran itu, ia tersungkur dan punggung tertembus pelor.
Siang itu Stasiun Tawang berhamburan, riuh berkerumun.
Setitik air mata, masih mengalir ketika ia melihat Bambang, Herry dan Jono mangangkat tubuh ringkihnya yang tak bernyawa.
(Stasiun Tawang, Juli 2016)
Keterangan foto tidak tersedia.
Dian Kencana, Widaningsih Counselor dan 50 lainnya
87 Komentar
1 Kali dibagikan
Bagikan

87 Komentar

Paling relevan

  • Jootje O'Rugian
    Hmm, begitu menyentuh kabu!
  • Erma Rosliana
    Menggetarkan hati , rahayu
  • Ninik Noor Hidayatun
    Ketika kematian sudah dipersiapkan.........terharu Romo......salam fitri...rahayu selalu@
  • Greysand Harimau
    wiiih ceritanya ngeriiii deh romo Ro Wl Ma
  • Nia S Baidan
    Kenikmati kematian sahabatnya dalam kemerdekaan, yg sangat menyakitkan dan menyesakkan dada. Semg sang lelaki tua itu akan menemui kemerdekaan yg sesungguhnya dan berbahagia pada saatnya kelak. Amin
    Salam bahagia buat Romoku Ro Ml Ma. Rahayu
  • Bli Gede Bagus Suputra
    Cerpen yg indah.. seru.. dan mengharukan
  • Hallie Josias Sahertian
    Sangat menikmati......
  • Romo
    Selamat malam broer Jootje Rugianmandey....sebuah katarsis sosial.
    2
  • Romo
    Malam teteh Emma Liana....begitulah semua kisah selalu menggetarkan...🙂
    3
  • Romo
    Bunda Ninik Noor Hidayatun....atau kita yang musti siap menghadapi kematian ya?
    2
  • Romo
    Mas Greysand Harimau....lebih mengerikan mereka yang merampas kemerdekaan orang lain qkqkqkqkqk
    2
    • Greysand Harimau
      nah lho bicaranya rampas merampas romo Ro Wi Ma .... bisa dianggap bahaya laten tuh ..... hahahahaha
    • Romo
      Qkqkqkqkqkqkqkqk..lebih enak ketawa sesungguhnya...salah satu lambang kebebasan.
  • Romo
    malam mbak Nia S Baidan....iya ia telah menikmati kemerdekaan itu...
  • Romo
    Malam Bli Gede Bagus Suputra....cerpen sebagai outokritik
    2
    • Bli Gede Bagus Suputra
      Autokritik untuk ingat jasa para pahlawan bangsa.. baik yg tlh berpulang maupun yg msih berjuang..
      Autokritik utk membangun bangsa dg ikhlas
  • Romo
    Silahkan menikmatinya bro Hallie Josias Sahertian....🙂
    2
  • Poltak Situmorang
    "..Jangan menyerah, meski kelak perjuangannya tak berharga di mata negeri ini."
    Memang itulah yang terjadi, kita tidak menghargai pengorbanan para "Pahlawan" yang telah rela mengorbankan nyawanya untuk "Kemerdekaan". Kemerdekaan yang disalahgunakan untuk " Kemerdekaan Korupsi" hks.hks.hks...
    3
  • Ninik Noor Hidayatun
    Kematian itu akan datang, tp waktunya yang tidak bisa kita perkirakan, shg harus kita persiapkan menuju kematian.....dg amal shaleh, berakhlaq bagus....memperbaiki diri setiap saat...spt bunda kmrn saat diujung kematian krn kanker.....siap gak siap harus siap, alhamdulillah Allah begitu saayang...dg kehidupan kedua ini...bunda hrs berubah lbh baik atau punah jika tdk bisa memperbaiki dir....rahayu romo....geng ndalu@
    2
  • Hallie Josias Sahertian
    Sebenarnya Bambang, Hery, Jono...itu mewakili siapa ? Atau representasi dari apa ?
  • Hallie Josias Sahertian
    Apa menariknya stasiun Tawang sehingga menjadi setting pada pada cerpen ini ?
  • Romo
    Oppung Poltak Situmorang...begitulah negeri ini oppung...semakin diteriakkan anti korupsi semakin merajalelah korupsi terjadi...
    2
  • Romo
    Bro Hallie Josias Sahertian...itu nama-nama rakyat biasa yang populer di jaman perang phisik merebut kemerdekaan. Stasiun Tawang adalah salah satu stasiun dimana terjadi pertempuran hebat antara rakyat semarang dan belanda dalam kisah pertempuran 6 hari di Semarang.
    Yang kedua, Stasiun Tawang adalah salah satu mobilitas masyarakat masuk dan keluar kota semarang.
    4
  • Romo
    Bunda Ninik Noor Hidayatun....amin..amin. Begitulah bunda, sering kali manusia menjadi sadar saat-saat kritis melanda hidupnya. Ketika kuat, senang, terlebih bergemilang bendawi manusia lupa bahwa ia harus menghadapi kematian.
    Berbahagialah mereka yang menghadapi kematian dengan senyum, tanpa rasa takut, sebab mereka adalah manusia merdeka.
    Salam dan doa rahayu bunda, sugeng dalu.
    2
  • Romo
    Mbak Roro Mendut....masih banyak lagi yang tidak terdaftar dalam sejarah perjalanan bangsa ini dengan banyak alasan politis dst.
    Pertengahan tahun 80-an saya juga menulis sebuah puisi untuk sebagai outo kritik terhadap penghargaan para pejuang itu.
    Ini saya CP untuk mbak Roro Mendut
    CATATAN BEDJO KALI CODE
    By. ROBERTH WILLIAM MAARTHIN
    Yaa..anaku. Ketika muda kami
    Terjajah imperialis
    Lalu ku panggul tombak
    Kusandang Kariben dan mortir
    Ku hunus keris
    Darah imperialis berceceran
    Tunggang langgang. Merdeka!
    Ya Anaku! Itu dulu!
    Aku di puja, Di buat sejarah. Sumber ilmu.
    Dipelajari di SD, SMP sampai sekolah tinggi
    Semua bangga!
    Tapi sekarang anakku!
    Sesal diri tak habis
    Semua tak berarti lagi
    Tiada mimpi jadi nyata
    Yang kutuai pahit
    yang kulihat duka.
    Aku tertipu!
    Kawan-kawanku berkalang tanah
    bermandi darah di Tugoe, di lempuyangan
    di alun-alun, malioboro, jembatan solo
    yang menimbun di kali code. Tertipu!
    Nyata perjuangan itu bukan untuk rakyat
    bukan bagi negeriku
    Bukan bagi bunda pertiwi
    Kini kusesali
    Kenapa pelor belanda hanya menyisakan bekas luka dipunggung
    Mengapa tidak menembus dada atau meremukkan jatungku!
    Supaya tak kudapati, Anak-anak negeri memuja mimpi
    Agar tak kulihat sikaya memainkan hidup orang banyak.
    atau si kuasa mengacungkan telunjuk memusnakan dusun
    melenyapkan desa atau si imperialis kembali membenam tongkat membangun tembok-tembok pembunuh mendirikan roda-roda menggilas
    Oooh anakku!
    Tak tertahankan air mata jatuh
    Dulu pantang terjadi di perjuangan!
    Kini, ia mengalir, deras!
    Mungkin karena itu yang tersisa
    Hanya ini yang mampu kuberikan.
    Anakku
    Skarang tak sanggup aku baca koran
    Tak mampu melihat TV
    Aku takut
    Aku gentar
    Sebab semua bercerita tentang Penjajahan
    Semua memutar perbudakan
    Ibumu
    Ibu kita
    Bunda pertiwi
    Skarang bukan Indonesia
    yang dulu ku bela
    yang dulu merenggut sobat-sobatku
    yang dulu.
    4
    Sembunyikan 49 Balasan
    • Ninik Noor Hidayatun
      Ayah saya dulu berjuang mengawal pak Dirman sampai Jember ..Banyuwangi..berjalankaki, kalau bercerita kpd anak2 sebaya saya yg waktu itu msh SD....kawan saya bilang orang gila....menangis saya saat menulis ini...teringat alm bpk yang kecewa.....th. 87 baru dpt tunjangan veteran pejuang 45....itupun setelah bnyk org yg tdk berhak mendapatkan dicoret namanya.....alm lahir 17 Agustus 1921......@
      3
    • Poltak Situmorang
      Golongan Proletar, biasa hidup bersahaja. Mereka tidak memiliki titisan darah pembunuh, perampok atau pemerkosa. Tak pernah menerima upeti. Yang menerima upeti adalah orang yang memiliki garis keturunan dari yang memiliki mahkota berdarah. Lihatlah Ken Arok atau yang lain, yang menjadi raja karena membunuh Tunggul Ametung. Jangan berdalih, Ken Arok juga dari Proletar, tapi bukankah setiap raja itu harus membunuh dulu baru naik tahta? Wong Deso. Ngak punya banyak keinginan. Ngak pernah menginginkan upeti. Yang menginginkannya adalah para.... Silahkan lanjutkan.
    • Poltak Situmorang
      Ybs pernah memutarbalikkan sejarah, soal Pancasila.
    • Romo
      Oppung Poltak Situmorang....mungkin juga demikian dari perspektif kita dan seperti itu juga dari perspektif mereka.
      Jaman 'pancaroba' ketika terjadi peristiwa berdarah itu dan pengambilalihan kekuasaan oleh ORBA...semua hal menjaid milik ORBA, bahkan berpakaian, berfikir sampai pada struktur berfikir pun seolah-olah musti ORBA punya.
      Tetapi untuk saat ini Oppung, orang mulai melihat dan meneliti bagaimana sejarah dapat menjadi sejarah itu sendiri tanpa harus mengikuti kemauan Sang Penguasa.
    • Romo
      MBak Roro Mendut, saya memiliki beberapa tulisan-tulisan Nugroho Notosutanto, khususnya yang berhubungan langsung dengan sejarah dan pendidikan.
    • Poltak Situmorang
      Ketika masih Mahasiswa di Bandung, saya pernah menjadi bagian dari Team Pemberontak itu (Ketua DMSM Se Bandung. Dan Pernah mengundang Ketua BP7 sebagai Pembicara Tunggal tentang Sejarah Pancasila, karena seseorang mengatakan bhw Moh.Yamin lah penggali Pancasila bukan Soekarno. Dan itu kami protes dan Mhs. Bandung tdk takut sama bedil. Dan ybs itu menjadi Menteri P&K
    • Romo
      Bukannya 3, 6 tahun mas Chandra Yusuf? Lha saya kena di kelas 3 SMU. Sekolahnya jadi 3,5 tahun
    • Romo
      Penggali Pancasila itu ada beberapa orang, tetapi rumusan Pancasila beberapa orang itu ada yang di ambil BUng Karno dan ada yang tidak. Jika bicara penggagas Bung Karno bisa di depan.
    • Poltak Situmorang
      Dalam Surat Wasiatnya, M.Hatta mengatakan, Soekarno lah Penggali Pancasila.
    • Romo
      Qqkqkqkqkqkqkqkqk.....jangan mendebat orang sekapungnya Moch Hatta Oppung Poltak Situmorang..qkqkqkqkqkqk...😛
    • Poltak Situmorang
      Ha.ha.ha... Mau setinggi apapun pemikiran seseorang itu, kalau tidak membumi, sama saja dengan pepesan kosong. Yang jelas, Soekarno menghabiskan lebih dari setengah umurnya di Penjara untuk Kemerdekaan Indonesia. He.he.he
    • Romo
      Hanya satu saja kekalahan Moch Hatta dari Bung Karno Mas Chandra Yusuf....yaitu tidak mampu beli sepatu Bally...qkqkqkqkqkqk...dan Hanya punya satu Istri. Lainnya, sama jago berfikir, jago debat, jago filsafat, jago Agama, jago melawan Belanda..satau lagi Bung Hatta jago silat tetapi bung Karno tidak bisa silat qkqkqkqkkq
    • Romo
      Moch. Hatta..pemikirannya luar biasa, tetapi karena dia kalem ya...akhirnya Bung Karno yang menonjol.
    • Poltak Situmorang
      M.Hatta berkata Pintarkan dulu bangsa Indonesia baru Merdeka; Soekarno mengatakan, Merdeka dulu baru kita lontarkan bangsa Indonesia dengan cara kita. Bukan dengan cara Leiden he.he.he..
    • Romo
      Oppung Poltak Situmorang...bung Hatta memang jago berfikir dan konseptor lihaiiii
    • Poltak Situmorang
      RoMo RoWiMa, itulah sebabnya mereka disebut Dwi Tunggal. saling melengkapi.
    • Romo
      Nachhh waktu Bung Hatta nggak mau lagi mendapingi Bung Karno...Sang Proklamator mulai kebingungan sebab Konseptornya ilang....🙂
    • Romo
      Bung Hatta adalah konseptor ide untuk Bung Karno, meskipun keduanya suka bertengkar dan silih pendapat. Tapi pada akhirnya pemikiran Bung Hatta di terima oleh BUng Karno. Baca Buku Soekarno - Hatta Dwi Tunggal.
    • Poltak Situmorang
      Kadang kita melupakan seorang Dr. Sam Ratulangi, yg sdh meraih gelar Doktor ketika Soekarno masih mahasiswa. Pendiri PUTERA Indonesia (Pusat Tenaga Rakyat Indonesia) dan merelakan Soekarno menjadi Ketuanya, setelah beliau pulang dari Leiden.
    • Romo
      Dari dsikusi kecil ini para kerabatku, dapat kita melihat kekayaan perspektif Ilmu yang kita pelajari dari para pendahulu Negara ini...mereka memang orang-orang hebat yang tak perduli hidupnya kecuali Ilmu itu sendiri.
    • Poltak Situmorang
      Karena itulah Bung Karno mengatakan Jas Merah...!
    • Romo
      Wahhh saya sekolah di Surabaya, jaman kalian sekolah Cikini...jadi buat kalian ketika itu saya orang daerah qkqkqkqkqkqkqkkqkqkq
    • Romo
      Kalau mbak Roro Mendut itu orang jakarta pusat jaman itu qkqkqkqkqkqkqk
    • Romo
      Bangga itu pengalaman tetapi sombong pemeran...makanya saya nggak perna hadir di PJR dari jaman dulu qkqkqkqkqk
    • Romo
      Ralat PRJ qkqkqkqkqkqkqkqk
    • Poltak Situmorang
      Romo, tahun 1978, saya membeli sebuah buku usang di Cikapundung, cetakan pertama dengan judul "Dibawah Bendera Revolusi" dan beberapa pidatonya. Ternyata, M.Yamin itulah yang mengusulkan spy Soekarno menjadi Presiden Seumur Hidup dan menyarankan agar di depan nama Soekarno ditambahkan nama Muhammad yang ditolak oleh Bung Karno. He.he.he
    • Romo
      Sama Ice cream Rendezvous di Sarinah jaman itu mas Chandra Yusuf...mbak Roro Mendut inget nggak?
    • Romo
      Itu buku di cetak di Belakang istina Merdeka Oppung Poltak Situmorang...kalau nggak salah nama penerbitnya Pustaka Jakarta...
    • Romo
      Masa masih ada sampai sekarang mas Chandra Yusuf?
    • Romo
      Lalu buku itu sudah di cetak hampir 60 x cetakan oppung Poltak Situmorang.
    • Romo
      Wehhh mbak Roro Mendut yang di jalan Vetaran itu..anak-anak mentri yang nongkrong disana weeekkkkkk...sama anak pegangsaan
    • Poltak Situmorang
      Awal reformasi ada orang gila yang tawar Rp. 200jt ngak kulepas...ha.ha.ha. Dulu, Kalau baca buku itu di perpustakaan, pasti dilaporkan ke Laksusda he.he.he
    • Romo
      Bahhhhhhhhh kok jadi kita yang nostalgiaan ya qkqkqkqkqk
    • Mryana Veta
      Tulisan Romo kadi ingat seniorku Romo Mangun.
      Pernah seharian berkeliling Kali Code. Memang luar biasa Romo.
      Saya iseng2 nyeletuk, boleh gak kita menginap sayu malam, kata Fauzi Yhalis. Langsung Romo beraksi " selama kamu suka kau boleh tidur disini.
      Sala bertiga, bersama aktivis lingkungan dapat prodeo.satu dan dapat sabu novel.baru beliau,
      " burung mansur."langsung ditandatangani pengarangnya.
      Setiap ke Jogja, kami selalu menyempatkan diri
    • Romo
      Iya kangmas Mryana Veta....almarhum Romo Mangun adalah guru dan lawan berdebat kalau kami nongkrong di gubuk bambu bawah jembatan soedirman jln solo kangmas.
    • Romo
      Yang di Cikini sudah lama hilang..dah jadi bangunan berlantai-lantai....🙂 Yang di jln Veteran Ice cream Ragusa sepertinya masih ya?
    • Romo
      Wahhhhhhhhh...menantang tuhhh...apa lagi kalau masih pake mangkuk porselin...
    • Romo
      Kira-kira di jakarta masih ada es ganefo nggak? oleh Orba kan disuruh pabrikannya menggati nama qkqkqkqkqkqk
    • Romo
      Oppung buku cetakan stencilan itu masih ada ya? Hayooo kita pamerin yukkkk
    • Romo
      Masih inget tuhh thn 70-an ORBA minta ganti nama qkqkqkqkqk...es itu mirip es lilin...tapi bentuknya kotak persegi panjang...
    • Mryana Veta
      Ralat:_tertulis " burung2 mansyur seharusnya" Burung2 Manyar "
    • Romo
      Seru kalau bicara soal makanan masa remaj kita ya qkqkqkqk
    • Romo
      Kangmas Mryana Veta...untuk novel Burung-burung Manyar Romo Mangun, sudah naik cetak 24 kali, yang terakhir di cetak dalam bahasa ingris, belanda dan jepang.
    • Romo
      Jaman itu taman di Monas, persegi lima hanya ada rumput dan pager pendek, kambingnya orang-orang belakang gereja immanuel merumput di sana qkqkqkqkqk
    • Mryana Veta
      Betu2 Pak Chandra, sebuah heroisme yang menjadi hiburan getir
    • Romo
      Di lanjut dulu duhai kerabatku...saya ada tamu....rahayu..rahayu.
    • Poltak Situmorang
      Matursuwun Bu Roro Mendut, Pak Chandra Yusuf dan Pak Mryana Veta.
    • Mryana Veta
      Ini b÷lum ngomongin inti tulisan Romo Ro Wi Ma.
  • Romo
    Mbak Roro Mendut dan juga Oppung Poltak Situmorang...kaum proletar biasanya selalu jadi korban kaum ningrat sepanjang sejarah negeri ini. Tetapi kemudian baik kaum ningrat dan proletar di 'damai'kan oleh Pendidikan dan di satukan oleh perjuangan phisik di jaman revolusi phisik dulu.
    Yang jadi soal kemudian adalah mental spiritual kebangsaan menjadi luntur ketika bangsa dan negeri ini di arahkan pada pola pikir 'struktural' dengan muara keseragaman.
    Ketika pola pikir terstruktur seperti itu, maka mereka yang tidak mengikutinya dianggap sebagai kaum kiri atau kaum kanan.
    Padahal, berfikir buak soal struktur tetapi soal kebebasan
    2
    • Romo
      Leiden University di Belanda adalah salah satu universitas yang masih mempertahankan tradisi dan system perkuliahan dengan membatasi mahasiswa yang masuk. Bahkan gedung-gedung tua masih sangat di pertahankan...antara profesor dan Mahasiswa tak jelas dalam kehidupan di luar kelas...semua sejajar, termasuk di kantin...saya pernah magang di sana meski hanya satu semester mbak Roro Mendut.
      Tapi kita di Indonesia, terlihat jarak seperti itu...para dosen, guru besar tidak aktif menyapa mahasiswa.
  • Romo
    Kangmas Mryana Veta....cerpen-cerpen seperti itu untuk zaman sekarang 'bukan' lagi sebagai kampanye kebangsaan terlebih semangat perjuangan, melainkan sebagai kritik sosial terhadap sikap dan cara kita di masa kini melihat dan mengelola bangsa dan negara ini.
    2
  • Romo
    Bunda Ninik Noor Hidayatun....suatu kebanggaan dapat berkenalan dengan bunda.
    Saya pernah mengikuti Napak Tilas route yang di jalani oleh Jendral Besar Soedirman ketika saya masih kuliah dan di bangku sekolah 40-an tahun lalu.
    Ketika itu terasa sekali semangat dan penderitaan para pejuang itu membela kemerdekaan, meski hanya mengikuti Napak Tilas Jendral Besar Soedirman. Dapat saya bayangkan, bagaimana rombongan Soerdirman ketika itu berpindah pindah lokasi perjuangan karena selalu di kejar-kejar tentara Nica Belanda yang ingin menangkap beliau.
    Salam dan doa rahayu.
    2
  • Mryana Veta
    Banyak pahlawan2 sekelas. Supriadi, Mayor Oking, usman, Samadikun, sekarang ini,
    tapi mereka tidakmemanggul bedil
  • Romo
    Kangmas Mryana Veta, ini saya cp Puisi yang saya buat pertengahan tahun 80-an waktu masih di Yogya, masih bicara soal Pahlawan.
    CATATAN BEDJO KALI CODE
    By. ROBERTH WILLIAM MAARTHIN
    Yaa..anaku. Ketika muda kami
    Terjajah imperialis
    Lalu ku panggul tombak
    Kusandang Kariben dan mortir
    Ku hunus keris
    Darah imperialis berceceran
    Tunggang langgang. Merdeka!
    Ya Anaku! Itu dulu!
    Aku di puja, Di buat sejarah. Sumber ilmu.
    Dipelajari di SD, SMP sampai sekolah tinggi
    Semua bangga!
    Tapi sekarang anakku!
    Sesal diri tak habis
    Semua tak berarti lagi
    Tiada mimpi jadi nyata
    Yang kutuai pahit
    yang kulihat duka.
    Aku tertipu!
    Kawan-kawanku berkalang tanah
    bermandi darah di Tugoe, di lempuyangan
    di alun-alun, malioboro, jembatan solo
    yang menimbun di kali code. Tertipu!
    Nyata perjuangan itu bukan untuk rakyat
    bukan bagi negeriku
    Bukan bagi bunda pertiwi
    Kini kusesali
    Kenapa pelor belanda hanya menyisakan bekas luka dipunggung
    Mengapa tidak menembus dada atau meremukkan jatungku!
    Supaya tak kudapati, Anak-anak negeri memuja mimpi
    Agar tak kulihat sikaya memainkan hidup orang banyak.
    atau si kuasa mengacungkan telunjuk memusnakan dusun
    melenyapkan desa atau si imperialis kembali membenam tongkat membangun tembok-tembok pembunuh mendirikan roda-roda menggilas
    Oooh anakku!
    Tak tertahankan air mata jatuh
    Dulu pantang terjadi di perjuangan!
    Kini, ia mengalir, deras!
    Mungkin karena itu yang tersisa
    Hanya ini yang mampu kuberikan.
    Anakku
    Skarang tak sanggup aku baca koran
    Tak mampu melihat TV
    Aku takut
    Aku gentar
    Sebab semua bercerita tentang Penjajahan
    Semua memutar perbudakan
    Ibumu
    Ibu kita
    Bunda pertiwi
    Skarang bukan Indonesia
    yang dulu ku bela
    yang dulu merenggut sobat-sobatku
    yang dulu.
    3
  • Elisander Hia
    Kita terenyuh, seakan kita sedang berada di lokasi dimana pak tua mengenang teman seperjuangan dengan hati yang pedih. Romo Ro Wi Ma luar biasa, mampu menggiring perasaan pembacanya.
    Keterangan foto tidak tersedia.
  • Mryana Veta
    Urakan saya belum selesai tentang cerpen, novel, dan film2 perjuangan, tiba di cut hampir 3/4 isi balam. Kemudian fb ganti dengan seleranya sendiri.
    Ini bukan jamannya lagi membungkam pendapat.orang. itu jaman orde baru, bung.
  • Romo
    Amaq Elisander Hia....terimakasih sudah mampir. Salam dan doa rahayu. Yaovuuuu
  • Romo
    Pagi Kangmas Mryana Veta....qkqkqkqkkq...yang mana mas? Kalau masih ada orang seperti itu, mustinya dia sudah gugur bersamaan dengan reformasi 97/98.




RWM.BOONG BETHONY