23/09/16

Cultural Essays on Violence Journalism.

Cultural Essays on Violence Journalism.
Romo Ro Wi Ma

There are billions of news that we hear, read and watch the results of the Multi Media Journalism. Even for context and contemporary texts, Journalism is a major part in the life of human communication. So it's important he (journalism) to the World is very narrow, and no boundaries to it. The impact is, openness, transparency and being clear on everything. Therefore, Journalism emerged as a 'god' sole power over anything, except over himself.
We are grateful for the achievement of that, we are grateful for this result. Rejoice with all incidents and events in seconds can be read, heard, watched at the same time in all corners of the World. A friend of mine, who is also a journalist, said that the only world without borders, is Journalism.
'Any news can be! My friend continued it. Politics, sport, culture, fighting, fights, rapes, Educational, all become the object of journalism. Obviously my friend.
Perhaps my friend's statement is true, given the fact so.
As an observer of culture and also a The priest, I actually questioned this statement. Journalism without borders is Denial In journalism itself. That is, the denial of the noble intention of the purpose of journalism. Is not a news aggregator, Journalists must edit, write and deploy or declare what is collected (of course after editing). Either in the form of audio-visual else in the form of text, including in the form of sound.
So it is not without limits, but respect for the Spirit of journalism itself. Presumably it's the Spirit that binds Journalism, long gone, either move around.
No wonder when the news, either in the form of impressions (audiovisual), images, text and sound, showing 'something or showing' Vulgar journalism. What is without sensor (edit) that considers the principle of modesty, decency, and the feasibility of the results of journalism.
Look, how close the children and adults with the term 'rape, murder, suicide bombings, fights, infidelity, corruption, mutilation, terrorism, etc.' which was also accompanied by images and impressions very Vulgar even as the headlines are in needed by the audience.
Strange when campaigning journalism anti-violence, anti anarkiesme, Defender of rights, and so on, but at the same time it gives an overview accompanied by narrative explanation of how, violence, anarkiesme, rape, it happens? Is this not deny yourself?
Let searched carefully, in 1 x 24 hour news what stands out from the National TV shows and transnational. Do not be surprised, if news and anarkiesme Violence in all its forms, infidelity by various groups or corruption that occurred in both the bureaucracy, Legislature, Judiciary and the public, be Portions are large compared to the news educational, religious, artistic.
See also, similar events (such as impressions and news) inspired many children to adults to imitate.
Likewise, the dailies published, either too early afternoon, three-quarter money with Shows that.
My friend said that's journalism, to be honest, what to preach something to the audience.
Comment on this, I think, what it must be like? As it is? Journalism in the form of image (photo) must indeed be so, but if the images as mutilated bodies, frayed, for instance, feasible for the show?
Or footage of the incident (vidio) murder, shootings by the police, the accident with a body crushed, or impressions of victims of war (battles), the police investigations against the rapist and the victim, or the journalist asked how the perpetrators of murder, rape, burning, to make the weapons, decent a spectacle as a result of journalism?
Still remember the live broadcast of a shootout between police versus terrorism in the city of Temanggung time ago?
Also the live stream from the houses on fire since fighting between the village of Lampung also from the province a few years ago?
Or broadcast live demonstrations accompanied the 'bat-bat, hit hit, kick to kick, hit hit with Vulgar words, curses and blasphemies Is this feasible watched by viewers Indonesia?
Or impressions fights muntabir representatives of the people in senanyan, time ago?
Is it all worth it? who is allowed? Government? Society? Or for the sake of journalism that is honest and candid about?
I think, this is not journalism cultured, but violence spread in all directions, or in other words that the violence, anarkiesme, corruption, rape, murder, is something that 'ordinary' alias legitimate. Hm!
Journalism in my understanding, in charge of proclaiming the incident, but at the same time journalism also keep Decency, modesty and the feasibility of a message (display, sound and text).
As one of the pillars 'culture builder' then Journalism has a responsibility about it.
In the end, I think, lest Journalism abusers instead of itself.

Samarinda, early april 2016
Indonesian Verzion

Esai Kebudayaan tentang Jurnalisme Kekerasan.
Romo Ro Wl Ma.

Ada milyaran berita yang kita dengar, baca dan tonton dari Multi Media hasil Jurnalisme. Bahkan untuk kontek dan teks kekinian, Jurnalisme adalah bagian utama dalam komunikasi hidup manusia. Begitu penting ia (jurnalisme) hingga Dunia ini sangat sempit dan tak ada lagi batas-batas untuk itu. Dampaknya adalah, keterbukaan, transparansi dan menjadi jelas untuk segala sesuatu. Karena itu, Jurnalisme muncul sebagai 'Dewa' tunggal yang berkuasa atas apa pun, kecuali atas diri sendiri.
Kita bersukur atas pencapaian itu, kita berterimakasih untuk hasil ini. Bergembira karena semua kejadian dan peristiwa dalam hitungan detik dapat di baca, di dengar, di tonton dalam waktu yang bersamaan di seluruh pelosok Dunia. Seorang sahabat saya, yang juga seorang jurnalis, mengatakan bahwa satu-satunya dunia tanpa batas, adalah Jurnalisme. 
'Apa saja dapat menjadi berita! sambung sahabat saya itu. Politik, Olah raga, kebudayaan, pertempuran, Perkelahian, Pemerkosaan, Pendidikan, semua menjadi objek jurnalisme. Jelas sahabat saya.
Mungkin penyataan sahabat saya ini benar, mengingat kenyataan begitu.
Sebagai seorang pemerhati kebudayaan dan juga seorang Rohaniawan, saya justru mempertanyakan pernyataan ini. Jurnalisme tanpa batas adalah Pengingkaran Pada Jurnalisme itu sendiri. Yaitu, pengingkaran atas maksud mulia atas tujuan jurnalisme. Bukankah sebagai pengumpul berita, Jurnalis musti mengedit, menulis lalu menyebarkan atau memberitakan apa yang di kumpulkan (tentu setelah ada pengeditan). Baik dalam bentuk Audio visual pun dalam bentuk Tulisan termasuk dalam bentuk suara.
Jadi bukan tanpa Batas, tetapi penghormatan atas Roh Jurnalisme itu sendiri. Agaknya Roh yang mengikat Jurnalisme itu, sudah lama pergi, entah terbang kemana.
Tak heran ketika berita, baik dalam bentuk tayangan (audiovisual), gambar, tulisan dan suara, memperlihatkan 'sesuatu atau mempertontonkan' jurnalisme yang Vulgar. Apa adanya tanpa sensor (edit) yang mempertimbangkan azas kesopanan, kepatutan, dan kelayakan suatu hasil jurnalisme.
Lihatlah, betapa akrabnya anak-anak hingga orang dewasa dengan istilah 'memperkosa, membunuh, bom bunuh diri, tawuran, perselingkuhan, korupsi, Mutilasi, Terorisme, dst' yang juga di sertai gambar serta tayangan yang teramat Vulgar bahkan seolah menjadi berita utama yang di butuhkan oleh khalayak.
Aneh bila Jurnalisme berkampanye anti kekerasan, anti anarkiesme, Pembela hak-hak azasi, dst, tetapi di saat yang sama justru memberi gambaran di sertai narasi penjelasan bagaimana, kekerasan, anarkiesme, pemerkosaan, itu terjadi? Bukankah ini mengingkari diri sendiri?
Mari telusuri dengan seksama, dalam 1 x 24 jam berita apa yang menonjol dari tayangan TV Nasional dan transnasional. Jangan heran, jika berita Kekerasan dan anarkiesme dalam segala bentuk, perselingkuhan oleh berbagai kalangan atau korupsi yang terjadi baik di Birokrasi, Legislatif, Yudikatif dan publik, menjadi Porsi besar di banding berita-berita pendidikan, keagamaan, kesenian.
Tengok juga, kejadian-kejadian serupa (seperti tayangan dan berita itu) banyak menginspirasi anak-anak sampai orang-orang dewasa untuk menirukannya.
Demikian juga harian-harian yang terbit, baik pagi pun sore, setali tiga uang dengan Tayangan-tayangan itu. 
Sahabat saya berkata : begitulah Jurnalisme, harus jujur, apa adanya untuk memberitakan sesuatu kepada khalayak.
Atas komentar ini, saya berfikir, apakah musti seperti itu? Apa adanya? Jurnalisme dalam bentuk Gambar (foto) memang musti begitu, tetapi apakah gambar seperti  tubuh yang terpotong-potong, terburai, misalnya, layak untuk di perlihatkan?
Atau rekaman kejadian (vidio) pembunuhan, penembakan oleh polisi, kecelakaan dengan tubuh yang terlindas, atau tayangan korban peperangan (pertempuran), investigasi kepolisian terhadap pemerkosa dan korban, atau wartawan menanyakan bagaimana si pelaku membunuh, memperkosa, membakar, membuat senjata rakitan, layak menjadi tontonan sebagai hasil jurnalisme?
Masih ingat siaran langsung tembak-menembak antara Polri versus terorisme di kota Temanggung waktu yang lalu? 
Juga tayangan langsung dari rumah-rumah terbakar karena tawuran antar kampung dari Lampung juga dari Sulsel beberapa tahun lalu? 
Atau siaran langsung demonstrasi di sertai 'pentung-pentungan, pukul memukul, tendang menendang, hantam menghantam disertai perkataan Vulgar, makian dan hujatan Apakah ini layak di tonton oleh pemirsa Indonesia? 
Atau tayangan perkelahian yang muntabir wakil-wakil rakyat di senanyan, waktu lalu? 
Apakah semua itu layak? siapa yang mengijinkan? Pemerintah? Masyarakat? Atau demi jurnalisme yang jujur dan apa adanya tadi?
Saya pikir, ini bukan jurnalisme yang berkebudayaan, tetapi menyebarkan kekerasan kesegala arah, atau dengan kata lain bahwa kekerasan, anarkiesme, korupsi, pemerkosaan, pembunuhan, adalah sesuatu yang 'biasa-biasa' saja alias sah-sah saja. Hm!
Jurnalisme dalam paham saya, bertugas memberitakan kejadian, tetapi pada saat yang sama Jurnalisme juga menjaga Kepatutan, kesopanan dan kelayakan sebuah berita (tayangan, suara dan tulisan).
Sebagai salah satu pilar 'pembangun kebudayaan' maka Jurnalisme memiliki tanggung jawab soal itu. 
Pada akhirnya, saya berfikir, jangan-jangan Jurnalisme justru pelaku kekerasan atas dirinya sendiri.

Samarinda, awal april 2016


Beberapa tanggapan dalam bentuk diskusi saya cp di bawah ini :
Komentar
Okty Budiati mungkin memang sebenarnya inilah yang dimaksud dengan manajeman neo-klasik itu sendiri dan terjadi kini [sebut di bidang jurnalisme, salah satunya], di sini. makasih untuk berbagi esainya ya mas Ro Wl Ma 
AS Januar Duuuhhhh prihatin ya Romo kuuhh......
Ro Wl Ma Kekasihku Okty Budiati...pada sisi lain seperti itu, terutama pada kebebsan 'selera' pasar untuk memilih dan pada sisi lain 'menitik' pada keinginan dari 'sutradara' lalu penikmat musti menerimanya. Makasih sudah mampir...oh ya salah satu 'yang engkau ungkap itu' kekasihku, melekat pada dirimu....
Okty Budiati hihihiii... pada botakku kah mas Ro Wl Ma?
Ro Wl Ma qkqkqkqkqkqkqk...engkau sangat paham dirimu dan statemenmu di atas.
Tapi sesungguhnya bukan itu, melainkan dari pilihanmu untuk cair di tarian waut-awutmu itu qkqkqkqkkq.
Tapi aku cari karya-karyamu lewat Youtube, tak mendapatkannya. Berkenankah kekasih mengirim untukku?

Ro Wl Ma Mas AS Januar....absulut realitas.
Kang Ramdan Jadi inget pada photographer (uh, maaf, lupa namanya) yg memotret seorang anak kurang gizi, sedang merangkak di jalan berdebu yang diikuti oleh burung pemakan bangkai.
Hasil pemotretan ini mendapat hadiah jurnalisme bergengsi. Dan kemudian sang photographer mengundurkan diri dari kegiatan jurnalis. Dia merasa bersalah, padahal pada saat kejadian, setelah memotret, sang anak tsb ia selamatkan dari pemakan bangkai dan membawa ke pos palang merah terdekat.
Ro Wl Ma Kang Ramdan...ini alamat foto-foto itu, silahkan di click.
ver lo mismo que los demás | …y hacerle una foto.
otrosencuadres.wordpress.com


...y hacerle una foto.
OTROSENCUADRES.WORDPRESS.COM
Kang Ramdan Iya Romo, terima kasih atas linknya.
Sayang sy tidak bisa mengaksesnya, perangkat tdk memungkinkan.
Ro Wl Ma Dalam blog itu Kang Ramdan...foto beberapa tahun lalu, di print lalu anak yang kurus kering waktu masih kecil dulu, memgang foto-fotonya sendiri setelah dia menjadi remaja.
Mengharukan.
Kang Ramdan Oh... Terbayang. Ya mengharukan.
Ro Wl Ma Jangan di bayangkan Kang Ramdan...klik saja dan lihatlah sendiri...qkqkqkqkqkkqqk
Kang Ramdan Uh, Romo... 
Mryana Veta Jurnalisme kini tidak hanya milik koran, majalah, tv, radio dll. Tapi pekerjaan jurnalistik bisa dilakukan siapa saja.
Suatu saat jurnalistik bukanlah sebuah profesi. Ia menjadi pekerjaan setiap orang. Hanya koran, majalah dan televisi yang konsisten memegang etika berita, akan tetap hidup dan berumur panjang. Sebaliknya jurnalistik gadget akan terus merajalela, tak terkendali bahkan merangss buas membumi hanguskan etika budaya bangsa. Berita verbal dan tulisan akan tergantikan dengan berita2 visual yang mesum, jorok, menakutkan, memerindingkan bulu kuduk.
Romo kan tahu, anak2 muda yg gak jelas pekerjaannya setiap malam kumpul di sebuah kamar, memutar blue film sampai mabok2an.
Bukankah ini dampak dari jurnalisme. Bumi kita ini kan laksana kamar kost2an. Negara satu dengan negara jaraknya mungkin hanya satu cm.
Inilah sebuah tragedi besar yang terjadi di depan kita, Romo.
Salam rahayu..rahayu..!
Okty Budiati jika boleh berbagi di wall komentar ini [publik], tahun lalu saya menulis cerpen dan biografi seorang transgender dan rutin karena saya kontributor. alasannya karena saya melihat sisi hak manusia hidup dengan psiko sosialnya, dan bagaimana masyarakat luas masih melihatnya sebagai aib, sungguh memprihatinkan. namun berselang setahun, saya memutuskan tidak lagi menulis tentang mereka karena saya terpukul. saya menulis tentang kesedihan dan penderitaan mereka untuk dapur saya, yg saya sendiri coba perjuangkan keberadaan mereka sebagai individu. tapi batas individu dan aib itu setipis bayangan... akhirnya saya tidak lagi menulisnya... ini kontra dengan hati mas Ro Wl Ma
Agus Dinar Romo Ro WI Ma, dunia jurnalisme kita, sejak tahun 1998, mengalami perubahan drastis alias berevolusi. Kondisinya berubah begitu cepat, termasuk teknologi komunikasi. Segalanya serba cepat, termasuk . kemudian jurnalisme Ind mengarah ke liberalistis, termasuk dalam persoalan kapita. Bisnis media kemudian menjadi sangat seksi. Maka berbondong bondonglah para pemodal berinvestasi di bisnis ini. Ini seiring dng dibukanya kran "kebebasan pers" .Suka tidak suka pada kondisi seperti ini, jurnalisme (perusahaan pers) bergeser menjadi industri. Pers perjuangan yg selama ini menjadi orientasi para jurnalis turut bergeser pula. Segalanya dihitung dalam kaidah profit, soal benefit bisa dinomor sekiankan.
Untuk mengejar rating dan penjualan oplah banyak kaidah yg dilabrak. Di era kini jurnalisne pun, terutama fi media online menjadi tergesa-gesa pertimbangan dampak sosial dan kultural tidak lagi didepan. Inilah satu sudut jurnalisme Ind saat ini. Maka jangan kaget jika kekerasan dlsb begitu mudahnya muncul di media.
Ace Suhaedi Madsupi Lebih 20 tahun saya menggeluti dunia jurnalustik. Hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari profesi yang telah menghabiskan separuh usia saya tsb. Saya minggir dari media yang waktu itu "menjadi referensi utama publik negeri ini"

Mengapa? Karena saya merasa, dunia jurnalistik --termasuk di media tempat saya bekerja-- sudah kehilangan ruhnya, kehilangan jiwanya. (Nanti disambung lagi ya ... kalau sempat atau kalau mau).
Reinhard Samah Kansil Jurnalis (di semua matra) memiliki mekanisme ’edit’ masing2. Bahkan telah mengarah pada ’rejim edit’.

Menghadapinya, publik dituntut memiliki sendiri mekanisme ’swa edit’.

Sampai disitu, setiap era Jurnalistik melahirkan sekaligus menemukan e lan kebudayaan nya.
Wibowo Wib Bukankah jurnalisme memiliki kode etik? Apakah ini sdh diabaikan mestinya jika keluar dari kode etik hrs ada sanksi tegas yang diberikan
Sis Triadji Barangkali saat ini bisa dikategorikan ada 2 (dua) jenis "jurnalisme" yaitu White jurnalism yg diharapkankan oleh RoWlMa dimana nilai nilai idealisme yg penuh kemanusiaan untuk membangun peradaban manusia yg lebih baik , bisa dikontribusikan oleh "ruh" jurnalisme dng landasan etika yg telah disepakati dan Black jurnalism dimana nafas industri neo liberalism yg "menghalalkan segala cara" dilakukan oleh sebagian besar industri media dan individu yg tak sadar etika.
Jadi saat kini memang "masyarakat dunia" lagi didorong dengan sadar dan tak sadar bersama - sama menuju "Bunuh diri Ekologis" ...........!!!??
Okty Budiati hahaha... bunuh diri ekologis! apik tenan istilah e. hihihiiii...

Asnath Natar Setuju. para jurnalis menjadi pelaku kekerasan secara tdk langsung kepada masayarakat. membuat berita tidak perlu harus menunjukkan fotonya langsung. Hal ini akan berdampak kepada masyarakat pembaca. Kita harus ingat bahwa berita yang dimuat memiliki 2 sisi, di satu pihak memang menyampaikan informasi kepada masyarakat, namun di sisi lain, bisa digunakan sebagai contoh bg masyarakat untuk diikuti termasuk kekerasan. Lihat saja sekarang di media sosial, bukan hanya para jurnalis namun jg masyarakat memuat foto-foto kekerasan. Prihatin.
Ro Wl Ma Sobatku Reinhard Samah Kansil...sayang bahwa sistem Jurnalisme seperti itu di biarkan merajalelah. Dan sebagai akibat dari itu, ialah jurnalisme tanpa batas seperti yang di sitir oleh sahabat saya yang wartawan itu.
Jadi, tak perlu heran bila kekerasan dan tindakan anarkiesme menjadi hal yang biasa terjaid di sekitar kita....dunia yang di bentuk oleh junalisme adalah dunia tanpa batas...hmm
Reinhard Samah Kansil Jangan lupa Romo, saat ini era citizen jurnalism. Kitalah jurnalis2 itu. Medsoslah medianya. Kitalah yg membentuk kebudayaan itu.
Ro Wl Ma Kangmas Mryana Veta, Dunia tanpa batas...adalah dunia yang tak butuh nilai, tak ingin ada kepatutan, dunia nir etika, seperti yang di sitir oleh mas Agus Dinar dalam tanggapannya di atas, semakin meyakinkah saya bahwa, ada sesuatu yang salah dalam sistem jurnalisme kita. Di perparah ketiadaan usaha untuk mem'filter' berita, tayangan dan juga gambar-gambar yang tak layak di khalayakkan. Tetapi kenyataanya, seperti Mas Agus Dinarkatakan, Jurnalisme untuk saat ini adalah industri benefit, industri di mana aliran keuntungan di kedepankan. Jika, sistem-sistem ini kita terima, maka bukan saja sebagai 'konsumerisme' atas kerja jurnalisme malah ikutan terjun bebas kesana.
Itu yang pertama, dan yang kedua yang tak kalah penting ialah, bahwa Jurnalisme sejauh amatan saya, bukan membangun serta menjaga keutuhan dan keindahan kebudayaan tetapi sebaliknya (dengan pemberitaan tanpa sensor, pengeditan, dst) justru menghancurkan kebudayaan.
Agus Dinar Setuju Romo Ro WI Ma, lihat saja di media cetak kita apalagi media web, sangat minim space untuk esei budaya. Sy miris dng minimnya space yg tesedia itu, kebudayaan kita makin sulit dipahami. Tampaknya para elite negeri ini harus merestrukturisasi strategii kebudayaan nasional kita. Tabik! Rahayu Romo
Ro Wl Ma Sobatku, Okty Budiati...dalam konteks dan teks Indonesia, soal transgender, Gay..(LGBT) sebenarnya bukan hal baru di negeri tercinta ini. Hanya, masyarakat kita terlalu pandai 'menyembunyikan' persoalan itu dengan kemasan: tabu-lah, pemali-lah, memalukan-lah, dst.
Mereka (transgender, Gay, lesby) memiliki hak sosial yang sama, juga berhak di perlakukan setara dengan orang lain.
Saya justru mensuport mbak Okty Budiati agar tidak berhenti menulis kesetaraan dan kesejajaran hidup secara sosial.
Apa bedanya? Saya banyak kawan-kawan dan sahabat LGBT, kadang pergi makan siang, atau makan malam atau sekedar share, pengalaman hidup.
Okty Budiati mas Ro Wl Ma, dalam hal "bekerja/menulis" tentang mereka, dan dijadikan sumber mata pencarian saya, salah satunya, itu yg bikin saya mundur. ada konflik batin dimana saya mengangkat eksistensi kemanusiaan hanya untuk beras yang saya makan, tapi mereka tetap menjadi salah satu kompleksitas dalam ruang psiko sosial yg tidak pernah tersentuh selain menjadi proyek saja. ini ngilu...
Ro Wl Ma Kang Ace Suhaedi Madsupi...saya hanya ketakutan sendiri, ketika melihat anak-anak SMP tak ragu mengeluarkan makian bahkan mengolok temannya dengan sebutan teroris. Saya ketakutan sendiri, saat menonton berita di TV, bagaimana si Korban perkosaan, di tanya secara rinci oleh wartawan ' bagaimana cara dia memperkosa, dst. Saya ketakutan sendiri, ketika wartawan TV menayangkan pertanyaan-pertanyaan Polisi bagaimana si pelaku teror membuat bom.
Ini kekerasan yang dilakukan oleh dunia Jurnalisme kepada masyarakat umum, kang Ace.
Sungguh saya takut mendapati kenyataan ini.
Hallie Josias Sahertian Kepentingan....sekali lagi kepentingan.
Okty Budiati mencoba menanggapi komentarnya mas Sis Triadji mengenai "bunuh diri ekologis", aku suka istilahnya ini mas Ro Wl Ma, mungkin akan lebih dapat ditengok lagi ke belakang atau dipersempit misalkan dalam sistem pola berpikir di pendidikan itu sendiri, khususnya dalam hal tulis menulis dan desain komunikasi visual, mereka cenderung menggunakan otak kiri. ditambah sebuah bangunan bernegara yg kita jalani hingga kini, neo liberalisme itu sendiri, kapitalisme sebenarnya bukan soal ideologi tapi lebih pada suatu gerakan personal, yg berujung pada kepentingan personal maupun komunal. namun, apakah dengan adanya global dan teknologi, mampu menjadikan pemudah, jawaban saya "ya", hanya tinggal kesiapan pola berpikir. itu saja... walahhh mubeng-mubeng komentarku. hahahaha... oya, ingat dengan film G30SPKI yg ditayangkan jaman dulu. hihihihi... tiang pancang yg sangat sempurna untuk psiko sosial
Okty Budiati Igo Koesoemahprawira opo kok ckckckckckckc... hahahahaaa...
Roc Koesoemahprawira Boso ne blas ora mudeng aku
Ro Wl Ma Mas Igo Koesoemahprawira..wes ora mbok mudeng-mudengke..barr wae. Mengko dek ee yo muter-muter dewe qkqkqkqkqk
Ro Wl Ma Sobatku Wibowo Wib....inilah model jurnalisme kita. Dunia yang dibangun oleh sistem jurnalisme niretika, nirbudipekerti,..jadi jangan heran bila, kekerasan dan anarkiesme, perkosaan, terjadi di semua lini dan di lakukan oleh semua kalangan....
secara pribadi, saya menolak dengan keras Jurnalisme tanpa kepatutan.
Ro Wl Ma Mas Sis Triadji...ekologi bhineka tunggal ika, seutuhnya sedang di bumi hanguskan oleh sistem kerja Jurnalisme tanpa kepatutan itu.
Hanya, seberapa banyak yang gelisah dan menyadari arak-arakan bunuh diri ekologis itu?
Seberapa banyak yang gelisah dan menyadari, dunia ini dipaksa untuk menerima hasil jurnalisme nirnurani itu?
Poltak Situmorang Dalam era informasi ini, kabar di dunia hanya sebatas telunjuk dan jempol jari. Jurnalisme itu seperti pedang bermata dua, tergantung siapa yang punya telunjuk dan jempol jari itu. Kita mesti lebih bijak menyikapinya.

Saya masih suka dengan slogan salah satu majalah berita: "enak dibaca dan perlu". Jadi, kalau ada tayangan yang sadis di TV, tinggal ganti channel pake jempol, kalau ada berita yang tidak perlu, tinggalkan saja. Baca dan dengarkan saja berita yang perlu dan enak dibaca.

Dunia terus berubah dengan arus informasi yang cukup deras, susah untuk membendungnya. Kita sadari saja bahwa kita adalah orang asing di dunia ini. Jadi, tak usah dipusingkan Romo. Gus Dur bilang: " githu aja koq repot".

Rahayu..Rahayu..Rahayu..!
Ro Wl Ma Mama Radja Asnath Natar....akan sangat dalam lagi jika topik ini menjadi salah satu perhatian dari para sahabat PERUATI... atau saya yang ketinggalan ya?
Asnath Natar Peruati blm membahas masalah ini tp kalau di kuliah teologi feminis sdh, yaitu melalui prp dan kekerasan media. pusat Studi feminis UKDW rencana akan membuat seminar dgn tema ini
Ro Wl Ma Wah itu menarik mama Radja Asnath Natar...kalau undangan ke kaltim dengan gembira akan menuju ke Yogyakarta.
Asnath Natar Ro Wl Ma sipp, tunggu tglnya ya
Ro Wl Ma Sobatku Reinhard Samah Kansil....setuju soal 'medsos' itu. Yang saya ingin diskusi adalah, Jurnalisme formal, baik lewat Koran, TV, Radio..yang sangat vulgar memberitakan, menayangkan, sesuatu yang mustinya dapat di perhalus oleh Editing Jurnalisme itu sendiri.
Mengenai, Media Sosial, itulah new culture and new era plus nwe horizon....
Ro Wl Ma Laeku Poltak Situmorang...mustinya masih ada etika dan kepatutan untuk itu. Jurnalisme tanpa kepatutan (etika) akan merusak tatanan sosial.
Itulah yang saya maksud, bagaimana tayangan TV dalam bentuk berita itu dapat di edit, jadi bukan apa adanya. Toh, Dunia wartawan, adalah dunia yang juga menganut asas Edit (Editor sebagai penanggung jawab pengeditan) dan Redaksi ( Redaktur sebagai penanggung jawab pemberitaan).
Berita tanpa kepatutan (etika, kesopanan) adalah provokasi kepada masyarakat atas apa yang diberitaknnya.
Begitulah saya merasa kawatir atas perkembangan itu, Laeku Poltak Situmorang...Horas..horas..horas.
Ro Wl Ma Mbak Okty Budiati...Ekologis dalam konteks dan teks seutuhnya ialah, 'wilayah hidup bersama dan bersosialisasi'.
Tentu dapat kita bangun bersama, jika kita ingin melakukannya dan serius untuk itu.
Okty Budiati tentu saya, hanya benarkah kesadaran akan kebersamaan itu masih ada di era modern ini? apakah kita pun sudah benar2 masuk ke dalam negara yang berpikiran era modern? ah, banyak pertanyaan yg akhirnya hanya menjadi pr dan pr... 
Ro Wl Ma Mbak Okty Budiati....baca komentar saya di bawah soal masyarakat modern...
Ro Wl Ma Sobatku Hallie Josias Sahertian....Kepentingan...ini namanya politisasi dan neonisasi yang tak pernah perduli pada ekologi.
Jadi wajarlah, anda mau tidak mau harus membeli barang mereka.
Tapi apakah dalam dunia pendidikan terjdi pula apa yang disebut sebagai kepentingan?
Poltak Situmorang Romo, berita itu sudah menjadi industri, rating yang menentukan jumlah iklan. Masyarakat (dunia) menginginkannya, jadi mereka menjual keinginan dunia itu, demi "mamon". Klop sudah he.he.he
Ro Wl Ma Lae Poltak Situmorang...jadi jurnalisme iklan ya itu = Mamon Jurnalisme? begitukah Lae?
Reinhard Samah Kansil Meletakkan seluruh beban kepada industri media, tidak fair juga Romo. Ketika Rejim SIUP runtuh, maka seluruh eksistensi media diserahkan pada seluas luasnya mekanisme pasar.

Maka, apabila, Pasar (baca: publik) tdk menghendaki berita2 yg sadis, glamor, enghina akal sehat, tidak etis, etc etc maka media tsb akan ditinggalkan oleh pemirsa/pembacanya.

Lha, kalau justru media2 tsb tetap eksis bahkan meningkat oplag/ratingnya, jgn jgn berita yg seperti itu yg dikehendaki pasar/publik/kita.

Pertanyaannya kemudian, kebudayaan yang membentuk pemberitaan/mindset media, atau, sebaliknya?
Ro Wl Ma Sobatku Reinhard Samah Kansil...pertanyaan di larik akhir itu menarik.
Pada kenyataan sekarang ini, Jurnalisme pada akhirnya jadi 'tabung' raksasa membentuk kebudayaan. Pada masa lalu kebudayaan banyak memengaruhi jurnalisme.
Justru menyadari titik ini, saya sangat gelisah tetapi pada saat bersamaan merasa kesepian.
Okty Budiati semoga tetap teguh dan damai selalu yaa... 
Ro Wl Ma mbak Okty Budiati.....
Lisbeth Ho Selamat malam....
Trimakasih sharenya Romoku terkasih...♡♡♡
Kucerna pelan pelan yaa.... 
Berjah dalem Gusti nggih
Cucu Hermawan · Berteman dengan Bunda Tami dan 116 others
Jurnalisme sebagai dewa tunggal telah tersandera oleh kepentingan pemilik modal dan kekuasaan ..... Panama Papers muncul bagaikan firman dari langit yang seolah-olah membuat melek masyarakat awam bahwa telah terjadi skandal dan dunia akan segera kiamat !
Padahal jurnalis dan media yang mengeksposnya juga tidak jelas di modali oleh siapa , mungkinkah pemilik modalnya tercantum dalam Panama papers itu sendiri ?
Greysand Harimau sy pengen tau angka pastinya berapa romo Ro Wl Ma......hahahaha .... sampey gempor ngitungnya .....
SukaBalas18 April pukul 0:07
Tan Lioe Ie Juga Ada kalanya, media seakan mengajarkan "cara menghilangkan jejak" bagi "calon" pelaku kejahatan. Ada kalanya, korban menajdi korban lagi karena pemberitaan. 
Hardiana tulisan nya uakeh... ðŸ˜…
Cucu Hermawan · Berteman dengan Bunda Tami dan 116 others
keberpihakan jurnalisme itu sendiri yang telah meracuni kebenaran dari informasi ........ bagaikan sayur segar dan makanan yang telah diracuni formalin ! Ada baiknya kita bercermin pada saudara kita di Cibeo yang tetap konsisten menolak listrik dan menolak demokrasi acak kadut sebagai idea dari hidup bernegara !
Kang Ramdan Kalo saya mah menolak jika harus menolak listrik mah. Tapi kalo menolak demokrasi acak adut mah, hayu...
SukaBalas28 April pukul 9:38
Cucu Hermawan · Berteman dengan Bunda Tami dan 116 others
Listrik dalam hal ini adalah simbol dari teknologi yang pada akhirnya dimanfaatkan sebagai sumber komoditi / barang dagangan untuk keuntungan segelintir pemilik modal.
Opa Rachmat Hidayat Apa kita menolak juga tentang informasi "PANAMA PAPER" ?
Ro Wl Ma Selamat pagi mbak Lisbeth Ho....silahkan mencerna sembail beraktifitas...salam dan doa rahayu.
Ro Wl Ma Mas #Cucu_Hermawan selamat pagi. Setuju dengan stateman mas Cucu. Benar jurnlisme meracuni diri sendiri.
Sebelum era Reformasi, Kebudayaan menjadi dasar Jurnalisme di Negara tercinta ini. Saat itu, semua berita baik bentuk Tulisan, Gambar dan tayanganTV juga radio, masih sangat menghormati Etika masyarakat. Berita-berita yang patut di sampaikan sangat selektif, demi menjaga kebudayaan Indonesia.
Kita malah sering menerima sajian dari para jurnalis di gital terutama TV, berita-berita pesanan untuk membangun opini dan memengaruhi masyarakat. Mas #Cucu_Hermawan pasti masih ingat saat-saat pemiliha Legislatif, Presiden, dan PILKADA. Bagaimana Jurnalisme hanya memenuhi keingina para 'klien' saja.
Jadi jangan harap bahwa jurnalisme akan menjadi pilar untuk melakukan Pendidikan Kebudayaan pada masyarakat, merusak ia.
makasih sudah singgah mas #Cucu.#
Ro Wl Ma Mas Greysand Harimau....wadohhh...bagaimana kalau jadi PR saja qkqkqkqkqkkqkq
Ro Wl Ma Bro Tan Lioe Ie Juga...seperti itu kenyataannya...Jurnalisme sangat kuat membangun opini masyarakat dengan gaya reporteir yang handal. Sayangnya, semua itu memenuhi pesan 'klien' yang sanggup menggelontorkan $ dan Rp. sebanyak-banyaknya.
Akibat dari itu, terlalu sulit menemukan berita yang benar-benar memberikan pendidikan kebudayaan pada masyarakat. Rahayu..rahayu.
Ro Wl Ma Mbak Hardiana....nuwun jih mbakyu...Rahayu..rahayu.
Hardiana ta baca pelan2 ya romo... nuwun.
Ro Wl Ma ....
Ro Wl Ma sobatku Reinhard Samah Kansil...tentu tidak menaruh semua beban itu kepada Jurnalisme karena itu keniscayaan. Tetapi dengan Jurnalisme sebebas-bebasnya (tanpa batas) maka jurnalisme menjadi sewenang-wenang dan itu berarti Jurnalisme bukan lagi sebagai pemberita tetapi provokator terhadap masyarakat.
Yang saya maksudkan adalah, bagaimana Jurnalisme tetap menjadi diri sendiri sebagai pemberita dengan memperhatikan Etika, Kepatutan dan menghormati para pembaca, para pelihat dan para pendengar berita-berita hasil Jurnalisme.
Ro Wl Ma Selamat pagi jelang siang Kang Ramdan...sudah membaca berita pagi ini lewat koran atau menonton berita dari TV dan mendengar berita dari radio?
Semoga semua berita itu baik sajiannya....rahayu..rahayu.
Ro Wl Ma Mbak Okty Budiati...masyarakat modern adalah masyarakat yang justru mampu menjaga keseimbangan antara privancy dan komunal. Masyarakat yang menghormati hak-hak asasi individual dan hak komunitas. Termasuk dalam soal jurnalisme, pertimbangan untuk berita-beritanya adalah soal kepatutan baik isi berita (reporteir pun dalam bentuk tayangan) juga cara penyajian (menyiarkan) berita itu.
Di Indonesia, kepatutan untuk itu, sangat minim.
Coba perhatikan dengan sungguh, berita-berita dengan ragam istilah di TV nasional kita. Jangan kaget bila, mendapati bagaimana berita perkosaan berulang-ulang di beritakan disertai investigasi yang sesungguhnya tak perlu.
Okty Budiati begitulah... kebebasan itu dianggap absolut, sedang kebebasan sendiri kan sifatnya lebih personal, kecuali untuk lingkup masyarakat. kebebasan berarti di wilayah pendidikan, mutlak.
Ro Wl Ma Opa Rachmat Hidayat....qkqkqkqkkq...yang saya maksudkan adalah betapa vulgar jurnalisme menampakkan dirinya....terutam sajian berita dalam negeri baik via harian pun TV.
Opa Rachmat Hidayat maaf Romo, sementara kita bicara tentang etika jurnalism, tapi disana "mereka" malah menyusahkan rakyat kecil.
Reinier Wimpie Tuwanakotta Sobatku Ro Wl Ma, ada pelompatan perilaku dari keterbatasan berekspresi di masa Orde Baru yang mengatur segala sesuatu atas nama kebebasan yang bertanggung jawab kepada era keterbukaan dan kebebasan berekspresi, sayangnya kebebasan itu kemudian dimaknai dengan dapat melakukan apa saja sehingga menabrak rambu-rambu sosial dan spiritual. Yang seharusnya paham kebebasan yang bertanggung jawab harus dipertahankan dengan rumusan baru sehingga tidak kebablasan. Semoga saya tidak keliru..
Ro Wl Ma Opa Rachmat Hidayat...persoalan kita ada di sana. Apakah Jurnalisme tidak butuh lagi mendengar suara-suara seperti yang saat ini kita diskusikan?..salam dan doa rahayu.
Ro Wl Ma Sobatku Reinier Wimpie Tuwanakotta...ini salah satau masaalah besar dalam perjalanan bangsa dan negara ini. Di mana semua orang ingin kebebasan absolut, termasuk Jurnalisme yang mustinya menjadi pintu utama untuk memberi pemahaman yang benar soal pendidikan kebudayaan kepada masyarakat, tetapi jauh api dari panggangan. Begitulah harapan kita jadi kurva terbalik.....sala dan doa rahayu.
Reinier Wimpie Tuwanakotta Sobatku Ro Wl Ma, yang perlu diwaspadai oleh semua kita adalah kebebasan absolut tidak sampai menjadi budaya baru yang akan berdampak pada barbarianisme jurnalis. Pada titik ini peran aktif para budayawan kita untuk berperan sebagai penyeimbangsangat diperlukan sehingga masyarakat negeri ini tidak kemudian menyerap perilaku barbarian jurnalisme mentah-mentah dan menjadikannya sebagai perilaku hidup setiap hari.
Salam dan doa untukmu sobat.
Ro Wl Ma Terimakasih doanya sobatku Reinier Wimpie Tuwanakotta...setuju untuk itu sobat. Dan saya pikir para penjaga moralitas Negeri ini seperti : Kaum pendidik, kaum rohaniawan juga para seniman musti melibatkan diri di penyeimbangan itu.
Salam dan doa rahayu.
Reinier Wimpie Tuwanakotta Setuju sobatku Ro Wl Ma...hormat saya untuk sobat Whizz Pad yang belum sempat disapa..
Ro Wl Ma Qkqkqkqkqkqkqk....sobat Whizz Pad..akhir-akhir ini suka mengintip...biarlah dia mengintip-intip terdahulu qkqkqkqkqkqk
Ro Wl Ma Sobat Reinier Wimpie Tuwanakotta...Psssssstttt..Whizz Padsedang depan kelassss....jangan berisikkkk.
Reinier Wimpie Tuwanakotta Mungkin sobat Whizz Pad belum selesai pertapaannya, sobat Ro Wl Ma...ha ha ha
Ro Wl Ma Saat ini dia sibuk menjadi pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara Yogyakarta....so aesy going and just on moving..He is will be back soon...colek Whizz Pad.
Chandra Yusuf Menakutkan Romo... Mereka penguasa yg sesungguhnya...
Paulus Suryanto Ini semua tidak ubahnya seperti orang masa kecilnya tidak bahagia. Terlalu lama dikekang sekian lama dijajah Belanda terulang lagi dikekang saat orba maka kebebasan yang didapat sebuah eforia kebablasan sehingga lupa arah mata anginnya mana timur mana barat Utara Selatan gak tahu. Makanya diperlukan Revolusi Mental semoga para pemegang kendali baik di pemerintahan, budayawan, rohaniawan aktip menyuarakan kebenaran itu.
Mryana Veta Jurnalisme yang kebablasan adalah jurnalisme yang sama bahayanya dengan narkotika.
Di mana letak moralitas seorang jurnalis bila hidupnya berada diketiak pemegang modal ?
Okty Budiati hihihihihiiii... gimana itu bentuknya ya kalau di bawah ketiak pemegang modal? 
Mryana Veta Ya, jadi budak cukong Mbak.
Kemerdekaan seorang jurnalis diserahkan secara mutlak kepada bandar2 mass media.
Paulus Suryanto Baik media cetak atau elektronik sekarang ini sudah sangat banyak yang seperti ini. Tidak lagi memberi pencerahan kepada masyarakat pembaca, tapi lebih kepada media provokasi demi ketiak sang boss pemilik modal.
Mryana Veta Akuuur ! pak.

RWM.BOONG BETHONY